Lebih dari setahun berlalu sejak Knights of the Blood menempati posisi terbaik diantara semua guild yang ada.
Sejak saat itu, ketua guildnya, si <Man of Legend>, dan wakil ketua nya Asuna si <Flash> menjadi terkenal sebagai dua orang dari warrior terbaik di Aincrad. Sekarang aku mempunyai kesempatan untuk mengamati Asuna yang sudah menyelesaikan latihan skill yang dibutuhkan oleh seorang rapier-sword fencer, bertarung melawan monster biasa.
Kami sedang berada didalam pertarungan, dan musuhnya adalah swordman tengkorak yang bernama <Demonic Servant>. Tingginya lebih dari dua meter, dikelilingi oleh sebuah cahaya biru yang membuatku merinding, dan memegang sebuah pedang lurus yang besar di tangan kanannya dan sebuah perisai bulat yang terbuat dari logam di tangan kirinya. Monster itu tidak memiliki satu otot pun, meski begitu dia memiliki strength stat yang sangat tinggi, membuatnya menjadi sulit untuk dilawan.
Tapi Asuna tidak mempedulikan hal itu.
“Hrrrrgrrrr!”
Dengan sebuah teriakan aneh, tengkorak itu mengayunkan pedangnya beberapa kali meninggalkan sebuah garis cahaya di jalur ayunannya. Itu adalah sebuah skill combo 4-hit: <Vertical Square>. Ketika aku melihatnya sambil khawatir dari beberapa langkah dibelakangnya, Asuna melangkah kekiri dan kekanan, menghindari semua serangan dengan elegan.
Bahkan jika ini adalah situasi 2-lawan-1, kami tidak bisa bertarung sekaligus ketika menghadapi musuh yang bersenjata lengkap. Itu tidaklah dilarang oleh systemnya, tapi ketika dua orang berada terlalu dekat didalam pertarungan dimana pedang-pedang diayunkan dengan kecepatan yang lebih cepat dari mata, itu lebih menjadi gangguan daripada menolong. Jadi ketika berparty, sebuah kemampuan yang memerlukan kerjasama tingkat tinggi yang di sebut <switching> digunakan.
Setelah ayunan penuhnya, dan serangan terakhirnya meleset, postur dari Demonic Servant itu agak sedikit goyah. Asuna tidak melewatkan kesempatan ini dan langsung melakukan counter-attack.
Tusukan dari pedang silver-putih nya mendarat satu per satu, semuanya dengan spektakular mengenai target mereka, dan HP dari tengkorak itu berkurang. Setiap serangan tidak membuat damage yang besar, tapi jumlah serangannya sangat besar.
Setelah terkena serangan tiga tusukan cepat, perisai tengkorak itu menjadi sedikit naik, dan Asuna mengganti gayanya dan menebas dua kali di kaki musuhnya. Lalu, dengan ujung pedangnya yang bersinar putih dengan terang, dia mengirimkan dua tusukan keras di bagian atas dan bawah.
Itu adalah combo 8-hit. Itu mungkin adalah sword skill level tinggi yang bernama <Star Splash>. Menyerang tengkorak itu dengan tepat dengan pedangnya yang tipis, yang biasanya tidak efektif melawan musuh seperti itu, itu adalah bukti dari kemampuannya yang luar biasa.
Kekuatan yang telah mengurangi sekitar tiga puluh persen dari HP tengkorak itu juga mengagumkan, tapi aku terpanah melihat ke elegan-an player yang melakukannya. Ini pasti yang mereka sebut dengan sword dancing.
Asuna berteriak kepadaku, yang sedang berdiri disana seperti orang bodoh, itu seperti kalau dia mempunyai mata di belakang kepalanya.
“Kirito, switch!”
“Ah, oke!”
Aku buru-buru mengangkat pedangku, dan pada saat yang sama, Asuna melakukan tusukan kuat.
Tengkorak itu menangkis serangan itu dengan perisai di tangan kirinya dan percikan terang muncul. Tapi itu adalah hasil yang diinginkan. Musuhnya menjadi terhenti selama beberapa saat setelah menangkis serangan kuat itu, tidak bisa segera membalas.
Tentu saja, Asuna juga terhenti setelah mendapatkan serangannya dihentikan, tapi <celah> nya adalah yang terpenting.
Aku segera menerobos dengan sebuah charge-type skill. Membuat sebuah break point dengan sengaja ditengah-tengah pertarungan dan bertukar tempat dengan teman, itulah yang disebut <switching>.
Setelah memastikan kalau Asuna telah keluar dari jarak seranganku, aku menerjang dengan cepat kearah musuhku. Kecuali kau adalah seorang ahli sepertinya, tebasan biasa jauh lebih berguna melawan musuh yang mempunyai lebih banyak <celah> daripada Demonic Servant ini. Dalam situasi seperti ini, yang paling efektif adalah dengan senjata yang bertipe benturan seperti mace. Tapi aku dan mungkin asuna juga tidak memiliki senjata tipe benturan.
<Vertical Square> yang kugunakan untuk menyerang musuh kena keempatnya dan mengurangi banyak HP nya. Tengkorak itu bereaksi dengan lambat. Ini mungkin karena AI dari monster memiliki delay beberapa saat sebelum merespon ketika pola serangan penyerangnya tiba-tiba berubah. Kemarin, aku telah menghabiskan banyak waktu dan usaha untuk melakukan hal ini saat melawan lizardman, tapi ketika kau mendapat seorang teammate, satu switch adalah semua yang kau butuhkan. Ini adalah keuntungan terbesar bertarung bersama party.
Aku menangkis serangan balasannya dan memulai sebuah skill besar untuk mengakhiri pertarungan. Aku mengirimkan sebuah serangan kuat menurun kearah kanan, lalu memutar pergelanganku dan menebas keatas lagi, mengikuti jejak tebasanku tadi dengan gerakas seperti melakukan ayunan golf. Setiap kali pedangku mengenai tubuh musuh yang sepenuhnya terbuat dari tulang, terdengar suara benturan dan sebuah cahaya orange keluar.
Tengkorak itu mengangkat perisainya untuk menangkis serangan yang dipikirnya akan datang dari atas, tapi aku tidak melakukan sesuai dugaannya dan menabraknya dengan bahu kiriku. Lalu aku mengirimkan sebuah tebasan vertikal kearah tengkorak yang tidak seimbang itu, dan tanpa berhenti aku menabraknya lagi dengan bahu kananku kali ini. Itu adalah sebuah skill yang menggabungkan beberapa serangan kuat dengan melakukan tackle: <Meteor Break>. Tidak menyombong, tapi ini adalah skill yanfg membutuhkan kemampuan bertarung tanpa senjata dan juga kemampuan bertarung dengan pedang satu tangan.
HP musuhnya berkurang banyak dari semua serangan itu dan sekarang berada di area merah. Aku menggunakan semua tenaga di tubuhku untuk melakukan tebasan horizontal kearah kiri terakhir dari combo 7-hit <Meteor Break>. Pedangnya mengenai leher tengkorak itu, menciptakan garis bersinar yang terang. Tulangnya patah dengan suara menggeretak dan kepala tengkorak itu mental keudara, tubuhnya jatuh ke tanah seperti sebuah boneka yang terputus tali yang menopangnya.
“Kita menang!!”
Asuna menepuk pundakku dimana pedangku berada.
Kami membiarkan pembagian itemnya untuk nanti dan mulai berjalan lagi.
Hingga sekarang, kami telah melawan monster empat kali tapi kami menang hampir tanpa ada damage yang mengenai kami. Karena gaya bertarung Asuna banyak menggunakan tusukan sedangkan gaya bertarungku adalah untuk menggabungkan skill-skill besar, itu membuat AI monsternya menjadi tegang-dalam hal algoritma, bukan kemampuan proses CPU yang sebenarnya—dan membuat skill kami menjadi cocok. Mungkin level kami juga tidak berbeda terlalu jauh.
Kami berjalan berhati-hati melewati gang megah yang dikelilingi oleh tiang-tiang. Tidak ada kemungkinan untuk diserang tiba-tiba dengan kemampuan scan ku, Tapi gema dari langkah kaki kami terus membuatku khawatir. Di labyrinth ini tidak terdapat sumber cahaya, tapi lingkungan di sekeliling kami mengeluarkan cahaya redup yang misterius, jadi kami bisa melihat dengan baik.
Aku dengan hati-hati memeriksa gang yang memantulkan cahaya biru yang lembut.
Di lantai bawah labyrinthnya terbuat dari batu kapur berwarna coklat kemerahan. Tapi ketika kami naik ke atas, lingkungannya terbuat dari sejenis batu yang mengeluarkan cahaya biru. Tiang-tiangnya terukir dengan gambar yang menakjubkan tetapi membuat merinding, dan genangan air yang dangkal mengalir dibawah kaki kami, menutupi lantainya. Kau bisa bilang kalau suasananya menjadi <lebih berat>. Di peta tidak ada lagi banyak tempat kosong. Jika tebakanku benar maka area di depan mungkin adalah-
Di ujung gang, sepasang pintu berwarna abu-abu kebiruan berdiri menanti kedatangan kami. Pahatan di pintu itu mirip dengan yang ada di tiang-tiang. Bahkan jika semua ini hanyalah dunia yang terbuat dari data, aura yang aneh terasa keluar dari pintu itu.
“…apakah, itu…”
“Mungkin…? Itu adalah ruangan boss.”
Asuna memegang lengan mantelku dengan erat.
“Apa yang harus kita lakukan…? Hanya melihat saja tidak apa-apa kan?”
Kebalikan dengan apa yang dia katakan, suaranya terdengar tidak tenang. Bahkan jika dia adalah seorang top class swordswoman, sepertinya dia masih menganggap hal-hal seperti ini menakutkan. Yah, itu wajar saja, sungguh. Akupun juga merasa takut.
“…Yah, untuk jaga-jaga ayo siapkan item teleportasi.”
“Ya.”
Asuna mengangguk dan mengeluarkan sebuah kristal biru dari kantungnya. Aku juga menyiapkan itemku.
“Siap…? Aku akan membukanya…”
Dengan tangan kananku yang dipegang erat oleh Asuna, Aku menyentuh pintu besi itu, dan tangan kiriku menggenggam crystal. Jika ini adalah dunia nyata, telapak tangan ku pasti sudah dibanjiri oleh keringat sekarang.
Ketika aku perlahan-lahan mengeluarkan tenaga dari tanganku, pintunya, yang setidaknya terlihat lebih tinggi dua kali lipat dari tinggiku, terbuka dengan agak mudah. Ketika itu mulai bergerak, kedua pintu itu terbuka dengan begitu cepat hingga kami berdua kaget. Aku dan Asuna berdiri disitu menahan napas kami ketika pintu besar itu berhenti bergerak dengan suara benturan keras dan menunjukkan kami apa yang ada didalam.
-Atau itulah yang kami pikir; didalam sangat gelap. Cahaya yang menyinari gang tempat kami berada sepertinya tidak mencapai ujung dari ruangan itu. Kegelapan dingin yang tebal tidak menunjukkan apapun seberapa kerasnya kami mencoba melihatnya.
“…”
Segera setelah aku membuka mulutku, sepasang api biru keputihan terlihat menyala jauh di dalam ruangan, lalu pasangan api lainnya muncul dan muncul.
Whoooooosh… dengan suara yang terus terdengar itu, sebuah jalan kecil menuju tengah ruangan terbentuk dalam sekejap mata. Diujungnya, sebuah pilar api terbentuk, dan ruangan persegi itu dipenuhi dengan cahaya biru. Ruangannya cukup luas. Sepertinya semua tempat kosong dipeta termasuk kedalam ruangan ini.
Asuna menempel ke tangan kananku seperti untuk menahan kegelisahannya, tapi aku tidak memiliki ruangan yang cukup dikepalaku untuk menikmati perasaan ini. Itu karena, dibalik pilar api itu, sebuah tubuh yang besar mulai muncul.
Tubuh yang besar itu dilapisi dengan otot-otot yang menonjol. Kulit nya berwarna biru gelap dan kepala yang berada diatas dadanya yang besar itu bukanlah kepala manusia, tapi kepala kambing gunung.
Ada dua tandung yang meliuk yang menempel di kedua sisi kepalanya. Matanya yang terlihat seperti terbakar oleh api biru terang, tertuju kearah kami. Tubuh bagian bawahnya dilapisi oleh bulu berwarna biru laut dan tidak terlihat terlalu jelas di balik apinya, tapi itu terlihat kalau itu adalah bulu binatang. Simpelnya, monster itu adalah demon (setan) dilihat dari manapun.
Ada jarak yang cukup jauh diantara bagian tengah ruangan dan pintu masuknya. Meski begitu, kami berdiri membatu di tempat ini tidak bisa menggerakkan satu ototpun. Dari semua monster yang kami lawan hingga sekarang, ini adalah pertama kalinya ada yang berbentuk demon. Itu adalah sesuatu yang sudah terbiasa kulihat karena banyak sekali game RPG yang telah kumainkan. Tapi sekarang aku benar-benar melihatnya, aku tidak bisa menahan ketakutan yang keluar dari dalam tubuhku.
Aku perlahan-lahan memfokuskan mataku dan membaca kata-kata yang muncul: <The Gleameyes>. Itu tidak salah lagi adalah boss di lantai ini. Kata "The" di depan namanya adalah buktinya. Gleameyes—yang matanya memancarkan cahaya.
Ketika aku memikirkan hal itu, demon biru itu tiba-tiba mulai menggoyangkan hidungnya yang panjang dan mulai berteriak. Api biru yang muncul mengguncang ruangannya dengan kasar dan menggetarkan lantai ruangannya. Napasnya yang berapi keluar dari hidung dan mulutnya ketika dia mengangkat pedangnya. Lalu demon biru itu mulai menerjang lurus kearah kami dengan kecepatan yang tidak bisa dipercaya—membuat lantainya berguncang—tanpa memberikan kami waktu untuk bisa berpikir.
“Ahhhhhhhhhhhhhhh!”
“Kyaaaaaaaaaaaaaa!”
Sambil berteriak bersamaan, kami berbalik seratus delapan puluh derajat dan berlari secepat yang kami bisa. Kami tahu secara teori kalau boss tidak bisa keluar dari ruangannya, tapi kami tidak tahan berada disana. Mempercayakan tubuh kami kepada dexterity stats yang telah kami latih hingga sekarang, kami berlari seperti angin melewati gang yang ada.
~TO BE CONTINUED~
Sword Art Online Light Novel
Sabtu, 10 Mei 2014
Jumat, 09 Mei 2014
BOOK 1 AINCRAD, CHAPTER 10 .
Tanpa sekalipun berhenti untuk menarik napas, Asuna dan aku berlari ke safe zone yang ada di suatu tempat ditengah Labyrinth Area. Aku merasa kalau kami sudah menjadi target monster beberapa kali selama perjalanan. Tapi sejujurnya, kami sedang tidak dalam kondisi pikiran yang cukup tenang untuk melawan mereka.
Kami menerjang masuk ke dalam ruangan besar yang yangdibuat sebagai safe area dan duduk dilantai dengan punggung kami bersandar di tembok. Setelah mengeluarkan napas yang panjang, kami melihat wajah satu sama lain dan…
“…ha.”
Kami berdua mulai tertawa bersamaan. Jika kami memeriksa peta, kami pasti akan segera tahu kalau boss itu tidak keluar dari ruangannya. Tapi kami tidak berpikir sama sekali untuk berhenti dan memeriksanya.
“Ahahaha, ah—kita melarikan diri cepat sekali!”
Asuna tertawa dengan nada yang riang.
“Sudah lama sekali sejak aku berlari seperti kalau nyawaku bergantung pada lariku. Yah, kau bahkan berlari lebih parah daripada aku!”
“…”
Aku tidak bisa menyangkalnya. Asuna terus tertawa melihat wajah cemberutku. Butuh usaha yang cukup banyak baginya untuk berhenti tertawa; dan kemudian dia berkata,
“…itu, terlihat agak sulit.”
Kata Asuna, wajahnya menjadi serius.
“Ya. Kelihatannya dia hanya punya pedang besar sebagai senjatanya, tapi dia pasti punya suatu serangan spesial juga.”
“Kita harus mengirimkan banyak penyerang yang memiliki defense tinggi dan terus melakukan switching.”
“Kita mungkin membutuhkan sekitar sepuluh orang dengan perisai… Yah, untuk saat ini kita hanya perlu terus menyerangnya dan melihat bagaimana dia melawan.”
“Pe…risai.”
Asuna melihat kearahku sambil berpikir.
“A-ada apa?”
“Kau menyembunyikan sesuatu.”
“Apa maksudmu tiba-tiba berbicara begitu…?”
“Tapi ada yang aneh. Keuntungan terbesar dari menggunakan one-handed swords adalah bisa memegang perisai di tangan lainnya. Tapi aku belum pernah melihatmu memakainya sekalipun. Kalau aku, aku tidak memakainya karena itu akan memperlambat kecepatan seranganku, dan beberapa orang tidak memakainya karena mereka khawatir akan gaya mereka. Tapi kau tidak termasuk diantara keduanya… Itu mencurigakan.”
Kata-katanya sangat tepat. Aku memiliki skill tersembunyi. Tapi aku tidak pernah memakainya sekalipun didepan orang lain.
Itu tidak hanya karena skill sangat penting untuk bisa bertahan hidup, tapi juga karena kupikir itu akan membuatku terlihat lebih mencolok jika ada yang mengetahuinya.
Tapi, jika dia yang mengetahuinya, kupikir itu akan baik-baik saja…
Aku membuka mulutku sambil memikirkan hal itu.
“Tidak apa, itu tidak penting. Lagi pula mencari tahu tentang skill orang lain itu agak tidak sopan.”
Dia hanya menertawakannya. Sekarang aku telah kehilangan kesempatanku, aku hanya bisa menggumamkan beberapa kata di mulutku. Lalu, mata Asuna melebar setelah memastikan jam.
“Ah, ini sudah jam tiga. Agak terlambat, tapi ayo makan siang.”
“Apa!?”
Aku tidak bisa menyembunyikan kegembiraanku.
“A-Apa itu buatan tangan!?”
Asuna tersenyum tanpa berkata apapun dan dengan cepat memanipulasi menunya. Setelah menyingkirkan sarung tangannya, dia mengeluarkan sebuah keranjang kecil. Ternyata ada satu hal yang pasti menguntungkan jika ber-party dengannya—saat aku memikirkannya dengan tidak sopan, Asuna tiba-tiba melotot kearahku.
“…ide buruk apa yang baru saja kau pikirkan?”
“Ti-tidak ada apa-apa. Daripada itu, ayo makan.”
Asuna cemberut, lalu dia mengambil dua bungkusan keluar dari keranjang dan memberikan salah satunya padaku. Aku membuka bungkusan itu dan menemukan sebuah sandwich bulat yang berisi banyak sayuran dan daging giling. Aroma yang mirip seperti merica tercium dari sandwich itu. Tiba-tiba aku merasa sangat lapar dan aku menggigitnya dengan lahap.
“Ini…benar-benar enak…”
Aku menggigitnya dua, tiga kali sekaligus, dan mengungkapkan rasa terima kasihku dengan tulus. Bentuknya terlihat seperti makanan Eropa, seperti makanan yang disediakan di restoran NPC, tapi rasanya berbeda. Sedikit rasa asam dan manis terasa seperti makanan fast food di jepang yang sering kumakan hingga dua tahun yang lalu. Aku menggigit sandwich besar itu dengan cepat, merasa seperti kalau aku akan menangis karena rasa yang sudah lama tidak kurasakan ini.
Setelah menyelesaikan potongan terakhir dan meneguk teh yang diberikan Asuna padaku, aku akhirnya menghela napasku.
“Bagaimana kau bisa membuat rasa seperti ini…?”
“Itu adalah hasil dari latihan dan experiment selama satu tahun. Aku membuatnya setelah menganalisa data rasa dari semuaaaaaaaaaa herb yang ada. ini adalah glogwa seed, shuble leaf, dan calim water.”
Sambil mengatakannya, Asuna mengeluarkan dua botol kecil dari keranjang, membuka salah satu dari mereka, dan memasukkan jari telunjuknya kedalam. Jarinya keluar bersama dengan cairan yang tidak bisa di deskripsikan yang lengket dan berwarna ungu. Lalu dia berkata,
“Buka mulutmu.”
Aku tidak tahu apa itu, tapi saat aku membuka mulutku karena refleks, Asuna melemparkan cairan itu kedalam mulutku. Cairan itu masuk kedalam mulutku dan rasanya mengejutkanku.
“…Ini mayonnaise!”
“Yang ini terbuat dari abilpa beans, sag leaves, dan uransipi bones.”
Bahan yang terakhir terdengar seperti bahan untuk sebuah penawar racun, tapi sebelum aku sempat menanyakannya cairan lain masuk kedalam mulutku. Rasanya lebih mengejutkanku dibanding yang sebelumnya. Ini tidak salah lagi kecap asin. Aku sangat ketagihan hingga aku menarik tangan Asuna dan memasukkan jarinya ke mulutku.
“Kya!!”
Dia berteriak dan menarik tangannya keluar sambil melotot kearahku. Tapi kemudian dia mulai tertawa melihat expresi wajahku.
“Itulah bagaimana aku bisa menciptakan rasa itu.”
“…itu luar biasa! Sempurna! Kau bisa mendapat banyak uang dengan ini!”
Sejujurnya, sandwich ini berasa lebih enak dibandingkan makanan dari daging Ragout Rabbit yang kumakan kemarin.
“Be-Benarkah?”
Asuna tersenyum malu.
“Tidak, lebih baik jangan dijual. Aku tidak bisa membiarkan bagianku menghilang.”
“Uwa, kau sangat rakus! …jika kau mau, aku akan membuatkannya lagi untukmu kapan-kapan.”
Dia mengatakan kalimat terakhir dengan pelan dan sedikit bersandar di pundakku. Saat kesunyian memenuhi ruangan, aku bahkan melupakan kalau ini ada di garis depan, tempat dimana kami bertarung dengan mempertaruhkan nyawa kami.
Jika aku bisa memakan makanan seperti ini setiap hari, aku bisa menguatkan tekatku dan pindah ke Salemburg…tepat disebelah rumah Asuna… Tanpa sadar aku mulai berpikir seperti itu dan ketika aku akan mengatakannya-.
Tiba-tiba, terdengar suara gemerincing dari armor yang menunjukkan kedatangan grup player lain. Kami dengan cepat membuat jarak diantara kami.
Aku melihat kearah ketua dari party yang terdiri dari enam orang itu dan merilekskan pundakku. Dia adalah katana-wielder yang telah kukenal paling lama di Aincrad.
“Oh, Kirito! Lama tak berjumpa!”
Aku berdiri dan menyapa orang tinggi yang berjalan kesini setelah mengenaliku.
“Kau masih hidup, Klein?”
“Mulutmu masih saja kasar seperti biasanya. Kenapa kau dari semua pemain solo bisa membuat par-ty…”
Mata si pemegang katana itu melebar ketika dia melihat Asuna, yang sudah berdiri setelah membereskan barang-barangnya.
“Ah-, …kalian mungkin sudah pernah bertemu beberapa kali selama pertarungan melawan boss, tapi aku akan memperkenalkan kalian lagi. Pria ini adalah Klein dari guild <Fuurinkazan>, dan ini Asuna dari <Knights of the Blood>.”
Asuna mengangguk perlahan ketika aku memperkenalkannya, tapi Klein hanya berdiri disana, dengan mata dan mulutnya yang terbuka lebar.
“Hey, katakan sesuatu. Apa kau sedang lag?”
Setelah aku menyikutnya dari samping, Klein akhirnya menutup mulutnya dan memperkenalkan dirinya sesopan mungkin.
“H-Hello!!!!! Aku adalah orang yang di-di-dipanggil Klein! Bujangan! Dua puluh empat tahun!”
Ketika Klein mengatakan sesuatu yang bodoh dalam kebingungannya, aku menyikutnya lagi, dengan tenaga yang lebih kuat kali ini. Tapi bahkan sebelum Klein selesai berbicara, anggota party nya sudah mendesak dan mulai memperkenalkan diri mereka.
Mereka bilang semua anggota dari <Fuurinkazan> telah mengenal satu sama lain bahkan sebelum SAO dimulai. Klein telah melindungi dan membimbing mereka semua, tanpa kehilangan satupun anggota, hingga mereka semua menjadi player yang mampu berada di garis depan. Dia mampu menopang beban yang telah kuhindari karena takut dua tahun yang lalu—dihari death game ini dimulai.
Mengabaikan kebencian terhadap diriku yang telah menempel dengan erat didalam hatiku, Aku mulai berbicara kepada Asuna,
“…yah, mereka bukan orang yang jahat, jika kau mengabaikan wajah jelek ketuanya.”
Kali ini, Klein menginjak kakiku sekeras yang dia bisa. Melihat hal ini, Asuna mulai tertawa, tidak bisa menahan lebih lama lagi. Klein tersenyum malu, tapi kemudian dia kembali sadar dan bertanya padaku dengan suara yang terisi dengan niat membunuh.
“B-B-Bagaimana ini bisa terjadi Kirito!?”
Ketika aku berdiri disana tanpa jawaban dipikiranku, Asuna menjawabnya untukku dengan suara yang jelas:
“Senang bertemu denganmu. Aku memutuskan untuk membuat party dengannya selama beberapa waktu. Kuharap aku bisa akrab denganmu.”
Aku terkejut dengan apa yang kudengar. Ketika aku berpikir ‘Eh!? Ini bukan hanya untuk hari ini!?’, Klein dan party nya membuat expresi yang berganti-ganti antara kemarahan dan depresi.
Akhirnya, Klein melirik kearahku dengan penuh amarah dimatanya dan menggeram sambil menggertakkan giginya.
“Kirito, kau sialan…”
Aku menggoyangkan bahuku dan berpikir kalau ini akan sulit untuk keluar dari masalah. Lalu…
Suara langkah kaki terdengar dari pintu yang baru saja dilewati oleh Fuurinkazan. Asuna menegang mendengar suara yang terdengar seragam, lalu menarik tanganku dan berbisik.
“Kirito, itu <The Army>!”
Aku segera mengalihkan pandanganku ke arah pintu masuk, dan benar, unit yang bersenjata lengkap yang kami lihat di hutan terlihat dalam pandanganku. Klein mengangkat tangannya dan membawa kelima temannya mendekati tembok. Grup yang masuk kedalam ruangan ini, masih dalam formasi berbaris dua, tetapi sudah tidak seteratur saat mereka berada di hutan. Langkah kaku mereka berat, dan ekspresi dibalik helm mereka terlihat lelah.
Mereka berhenti di tembok yang berlawanan dari kami di dalam safe area. Pria yang berada didepan memberi perintah “Bubar,” sesaat sebelum kesebelas orang lainnya terduduk di lantai. Pria itu kemudian berjalan kearah kami tanpa melihat sekalipun kearah mereka.
Sekarang jika kulihat dengan jelas, equipment nya agak berbeda dari yang lain. Armornya memiliki qualitas yang sangat tinggi, dan sebuah lambang yang berbentuk Aincrad yang terukir didadanya—sesuatu yang tidak dimiliki oleh kesebelas orang lainnya.
Dia berhenti didepan kami dan melepaskan helmnya. Dia agak tinggi dan terlihat berumur tiga puluhan lebih. Dia memiliki wajah yang tajam, rambut yang sangat pendek, sepasang mata tajam dibawah alisnya yang tebal, dan mulut yang tertutup rapat. Dia melihat kearah kami semua dengan matanya, dan mulai berbicara padaku yang berada paling depan diantara kami.
“Aku adalah Letnan Kolonel Cobert dari Aincrad Liberation Army.”
Apa-apaan itu? <The Army> awalnya adalah nama yang digunakan orang untuk mengejek mereka. Kapan itu menjadi nama resmi mereka? dan <Letnan Kolonel>? Merasa jengkel, aku menjawab dengan singkat:
“Kirito, Solo.”
Dia mengangguk dan bertanya dengan angkuh:
“Apa kau sudah memetakan area sekitar sini?”
“…ya. Aku telah memetakan seluruh jalan hingga ke ruangan boss.”
“Hmm. Kalau begitu kuharap kau akan memberikan map data nya kepada kami.”
Aku terkejut akan sikapnya. Tapi Klein, yang berada dibelakangku, sudah menjadi marah.
“Apa? Memberikannya padamu!? Kau sialan, apa kau tahu betapa sulitnya memetakan area!?”
Dia berteriak dengan suara serak. Peta-peta dari area yang belum terjamah adalah informasi yang penting. Mereka juga bisa dijual kepada para pemburu harta, yang mencari kotak harta yang masih terkunci, dengan harga tinggi.
Ketika dia mendengar suara Klein, orang the army itu menaikan salah satu alisnya dan mengumumkan dengan keras.
“Kami bertarung untuk kebebasan para player seperti kalian.”
Dia memajukan dagunya kedepan dan melanjutkan.
“Itu adalah tugas kalian untuk bekerja sama dengan kami!”
-Kata angkuh sangat cocok untuk sikapnya itu. The Army bahkan sudah lebih dari setahun tidak berada di garis depan.
“Tunggu sebentar, bagaimana bisa kau…”
“Kau, kau brengsek…”
Asuna dan Klein, yang berdiri disampingku, keduanya melangkah kedepan dengan suara yang penuh kemarahan. Aku melebarkan tanganku untuk menghentikan mereka.
“Tidak apa-apa. Lagipula aku berniat untuk menyebarkannya saat kita kembali ke kota.”
“Hey, hey! Kau itu terlalu baik Kirito!”
“Aku tidak berencana untuk menjual petanya.”
Sambil mengatakan hal itu, aku membuka trade window dan mengirimkan informasinya ke pria yang menyebut dirinya sebagai Lieutenant Colonel Cobert. Dia mengambilnya tanpa ada perubahan di ekspresinya dan berkata:
“Terima kasih atas kerjasama mu.”
Dia menjawab dengan suara yang tidak menunjukkan rasa terima kasih sedikitpun, dan kemudian berbalik.
Aku berkata padanya sebelum dia pergi:
“Sedikit saran dariku, lebih baik kau tidak menyerang boss itu.”
Cobert melihat kebelakang.
“…itu hal yang harus kuputuskan sendiri.”
“Kami baru saja memeriksa ruang bossnya. Itu bukanlah sesuatu yang bisa kau kalahkan hanya dengan orang sebanyak ini. Selain itu, orang-orangmu juga semuanya terlihat agak lelah.”
“…Orang-orangku tidak selemah itu hingga bisa kelelahan oleh sesuatu seperti ini!”
Cobert menekankan kata "orang-orangku" saat dia menjawab dengan jengkel. Tapi orang-orang yang duduk dilantai tidak terlihat setuju.
“Bangun kalian sampah tidak berguna!”
Mendengar perintah Cobert, mereka berdiri dengan terhuyung-huyung dan membentuk dua baris. Cobert bahkan tidak melihat kearah kami ketika dia kembali kedepan barisan dan memerintahkan dengan tangannya. Ke dua belas orang itu kemudian mengangkat senjata mereka dan mulai berjalan lagi, armor berat mereka mengeluarkan suara gemerincing.
Meski mereka masih memiliki 100% HP mereka diluarnya, pertarungan yang berkelanjutan dalam SAO meninggalkan kelelahan yang tidak bisa terlihat. Tubuh kami di dunia asli mungkin tidak bergerak sedikitpun, tapi perasaan lelah masih akan menetap hingga kami tidur atau beristirahat di sini. Berdasarkan apa yang kulihat, para player The Army itu sudah kelelahan, karena mereka tidak terbiasa bertarung di garis depan.
“…apa mereka akan baik-baik saja ya…”
Klein berbicara dengan suara khawatir ketika anggota The Army menghilang kedalam jalan sempit yang menuju kearah lantai atas dan suara langkah kaki mereka menghilang dari telinga kami. Dia benar-benar orang yang baik.
“Mereka tidak begitu bodoh hingga mau menantang bossnya kan…?”
Asuna terlihat khawatir juga. Ada sesuatu didalam suara Cobert yang menunjukkan suatu kecerobohan.
“…apa kita harus memeriksa apa yang mereka lakukan…?”
Ketika aku berkata hal ini, bukan hanya Klein dan Asuna, tapi bahkan kelima anggota yang lain juga setuju.
…dan mereka bilang kalau aku terlalu baik…
Aku memikirkan hal ini dengan senyuman pahit. Tapi, aku sudah membuat keputusan. Aku tidak akan bisa tidur malam ini jika kami meninggalkan Labyrinth sekarang dan mendengar kalau mereka tidak kembali dari sini.
Ketika aku dengan cepat memeriksa equipmentku dan mulai berjalan, sebuah suara memasuki telingaku-
Aku bisa mendengar kalau Klein berbisik ke Asuna dibelakangku. Aku memikirkan apakah dia masih belum puas menerima sikutan dariku ketika aku mendengar isi pembicaraan mereka yang mengejutkanku.
“Ah—Asuna-san, bagaimana mengatakannya yah…dia itu, Kirito, tolong baik-baik lah terhadapnya. Bahkan jika dia tidak terlalu bagus dalam menggunakan kata-katanya, tidak terlalu lucu, dan seorang penggila bertarung yang bodoh.”
Aku menerjang mundur dan menarik bandana Klein sekeras yang aku bisa.
“A-apa yang kau bicarakan!?”
“T-Tapi.”
Si pemegang katana itu menarik kepalanya dan menggaruk jenggotnya.
“Itu cukup aneh jika kau membuat party dengan seseorang. Bahkan jika kau jatuh cinta pada Asuna, itu adalah kemajuan yang sangat besar untukmu. Makanya aku-”
“A-Aku tidak jatuh cinta padanya!”
Aku memprotesnya. Tapi entah kenapa, Klein, anggota partynya, dan bahkan Asuna melihat kearahku dengan sebuah senyuman diwajah mereka. Aku tidak bisa melakukan apapun kecuali diam, berbalik dan terus berjalan.
Lalu aku mendengar Asuna menyatakan:
“Serahkan dia padaku!”
Aku berlari menuju jalan yang menuju ke lantai berikutnya sambil membuat suara berisik dengan sepatuku.
~TO BE CONTINUED~
Kami menerjang masuk ke dalam ruangan besar yang yangdibuat sebagai safe area dan duduk dilantai dengan punggung kami bersandar di tembok. Setelah mengeluarkan napas yang panjang, kami melihat wajah satu sama lain dan…
“…ha.”
Kami berdua mulai tertawa bersamaan. Jika kami memeriksa peta, kami pasti akan segera tahu kalau boss itu tidak keluar dari ruangannya. Tapi kami tidak berpikir sama sekali untuk berhenti dan memeriksanya.
“Ahahaha, ah—kita melarikan diri cepat sekali!”
Asuna tertawa dengan nada yang riang.
“Sudah lama sekali sejak aku berlari seperti kalau nyawaku bergantung pada lariku. Yah, kau bahkan berlari lebih parah daripada aku!”
“…”
Aku tidak bisa menyangkalnya. Asuna terus tertawa melihat wajah cemberutku. Butuh usaha yang cukup banyak baginya untuk berhenti tertawa; dan kemudian dia berkata,
“…itu, terlihat agak sulit.”
Kata Asuna, wajahnya menjadi serius.
“Ya. Kelihatannya dia hanya punya pedang besar sebagai senjatanya, tapi dia pasti punya suatu serangan spesial juga.”
“Kita harus mengirimkan banyak penyerang yang memiliki defense tinggi dan terus melakukan switching.”
“Kita mungkin membutuhkan sekitar sepuluh orang dengan perisai… Yah, untuk saat ini kita hanya perlu terus menyerangnya dan melihat bagaimana dia melawan.”
“Pe…risai.”
Asuna melihat kearahku sambil berpikir.
“A-ada apa?”
“Kau menyembunyikan sesuatu.”
“Apa maksudmu tiba-tiba berbicara begitu…?”
“Tapi ada yang aneh. Keuntungan terbesar dari menggunakan one-handed swords adalah bisa memegang perisai di tangan lainnya. Tapi aku belum pernah melihatmu memakainya sekalipun. Kalau aku, aku tidak memakainya karena itu akan memperlambat kecepatan seranganku, dan beberapa orang tidak memakainya karena mereka khawatir akan gaya mereka. Tapi kau tidak termasuk diantara keduanya… Itu mencurigakan.”
Kata-katanya sangat tepat. Aku memiliki skill tersembunyi. Tapi aku tidak pernah memakainya sekalipun didepan orang lain.
Itu tidak hanya karena skill sangat penting untuk bisa bertahan hidup, tapi juga karena kupikir itu akan membuatku terlihat lebih mencolok jika ada yang mengetahuinya.
Tapi, jika dia yang mengetahuinya, kupikir itu akan baik-baik saja…
Aku membuka mulutku sambil memikirkan hal itu.
“Tidak apa, itu tidak penting. Lagi pula mencari tahu tentang skill orang lain itu agak tidak sopan.”
Dia hanya menertawakannya. Sekarang aku telah kehilangan kesempatanku, aku hanya bisa menggumamkan beberapa kata di mulutku. Lalu, mata Asuna melebar setelah memastikan jam.
“Ah, ini sudah jam tiga. Agak terlambat, tapi ayo makan siang.”
“Apa!?”
Aku tidak bisa menyembunyikan kegembiraanku.
“A-Apa itu buatan tangan!?”
Asuna tersenyum tanpa berkata apapun dan dengan cepat memanipulasi menunya. Setelah menyingkirkan sarung tangannya, dia mengeluarkan sebuah keranjang kecil. Ternyata ada satu hal yang pasti menguntungkan jika ber-party dengannya—saat aku memikirkannya dengan tidak sopan, Asuna tiba-tiba melotot kearahku.
“…ide buruk apa yang baru saja kau pikirkan?”
“Ti-tidak ada apa-apa. Daripada itu, ayo makan.”
Asuna cemberut, lalu dia mengambil dua bungkusan keluar dari keranjang dan memberikan salah satunya padaku. Aku membuka bungkusan itu dan menemukan sebuah sandwich bulat yang berisi banyak sayuran dan daging giling. Aroma yang mirip seperti merica tercium dari sandwich itu. Tiba-tiba aku merasa sangat lapar dan aku menggigitnya dengan lahap.
“Ini…benar-benar enak…”
Aku menggigitnya dua, tiga kali sekaligus, dan mengungkapkan rasa terima kasihku dengan tulus. Bentuknya terlihat seperti makanan Eropa, seperti makanan yang disediakan di restoran NPC, tapi rasanya berbeda. Sedikit rasa asam dan manis terasa seperti makanan fast food di jepang yang sering kumakan hingga dua tahun yang lalu. Aku menggigit sandwich besar itu dengan cepat, merasa seperti kalau aku akan menangis karena rasa yang sudah lama tidak kurasakan ini.
Setelah menyelesaikan potongan terakhir dan meneguk teh yang diberikan Asuna padaku, aku akhirnya menghela napasku.
“Bagaimana kau bisa membuat rasa seperti ini…?”
“Itu adalah hasil dari latihan dan experiment selama satu tahun. Aku membuatnya setelah menganalisa data rasa dari semuaaaaaaaaaa herb yang ada. ini adalah glogwa seed, shuble leaf, dan calim water.”
Sambil mengatakannya, Asuna mengeluarkan dua botol kecil dari keranjang, membuka salah satu dari mereka, dan memasukkan jari telunjuknya kedalam. Jarinya keluar bersama dengan cairan yang tidak bisa di deskripsikan yang lengket dan berwarna ungu. Lalu dia berkata,
“Buka mulutmu.”
Aku tidak tahu apa itu, tapi saat aku membuka mulutku karena refleks, Asuna melemparkan cairan itu kedalam mulutku. Cairan itu masuk kedalam mulutku dan rasanya mengejutkanku.
“…Ini mayonnaise!”
“Yang ini terbuat dari abilpa beans, sag leaves, dan uransipi bones.”
Bahan yang terakhir terdengar seperti bahan untuk sebuah penawar racun, tapi sebelum aku sempat menanyakannya cairan lain masuk kedalam mulutku. Rasanya lebih mengejutkanku dibanding yang sebelumnya. Ini tidak salah lagi kecap asin. Aku sangat ketagihan hingga aku menarik tangan Asuna dan memasukkan jarinya ke mulutku.
“Kya!!”
Dia berteriak dan menarik tangannya keluar sambil melotot kearahku. Tapi kemudian dia mulai tertawa melihat expresi wajahku.
“Itulah bagaimana aku bisa menciptakan rasa itu.”
“…itu luar biasa! Sempurna! Kau bisa mendapat banyak uang dengan ini!”
Sejujurnya, sandwich ini berasa lebih enak dibandingkan makanan dari daging Ragout Rabbit yang kumakan kemarin.
“Be-Benarkah?”
Asuna tersenyum malu.
“Tidak, lebih baik jangan dijual. Aku tidak bisa membiarkan bagianku menghilang.”
“Uwa, kau sangat rakus! …jika kau mau, aku akan membuatkannya lagi untukmu kapan-kapan.”
Dia mengatakan kalimat terakhir dengan pelan dan sedikit bersandar di pundakku. Saat kesunyian memenuhi ruangan, aku bahkan melupakan kalau ini ada di garis depan, tempat dimana kami bertarung dengan mempertaruhkan nyawa kami.
Jika aku bisa memakan makanan seperti ini setiap hari, aku bisa menguatkan tekatku dan pindah ke Salemburg…tepat disebelah rumah Asuna… Tanpa sadar aku mulai berpikir seperti itu dan ketika aku akan mengatakannya-.
Tiba-tiba, terdengar suara gemerincing dari armor yang menunjukkan kedatangan grup player lain. Kami dengan cepat membuat jarak diantara kami.
Aku melihat kearah ketua dari party yang terdiri dari enam orang itu dan merilekskan pundakku. Dia adalah katana-wielder yang telah kukenal paling lama di Aincrad.
“Oh, Kirito! Lama tak berjumpa!”
Aku berdiri dan menyapa orang tinggi yang berjalan kesini setelah mengenaliku.
“Kau masih hidup, Klein?”
“Mulutmu masih saja kasar seperti biasanya. Kenapa kau dari semua pemain solo bisa membuat par-ty…”
Mata si pemegang katana itu melebar ketika dia melihat Asuna, yang sudah berdiri setelah membereskan barang-barangnya.
“Ah-, …kalian mungkin sudah pernah bertemu beberapa kali selama pertarungan melawan boss, tapi aku akan memperkenalkan kalian lagi. Pria ini adalah Klein dari guild <Fuurinkazan>, dan ini Asuna dari <Knights of the Blood>.”
Asuna mengangguk perlahan ketika aku memperkenalkannya, tapi Klein hanya berdiri disana, dengan mata dan mulutnya yang terbuka lebar.
“Hey, katakan sesuatu. Apa kau sedang lag?”
Setelah aku menyikutnya dari samping, Klein akhirnya menutup mulutnya dan memperkenalkan dirinya sesopan mungkin.
“H-Hello!!!!! Aku adalah orang yang di-di-dipanggil Klein! Bujangan! Dua puluh empat tahun!”
Ketika Klein mengatakan sesuatu yang bodoh dalam kebingungannya, aku menyikutnya lagi, dengan tenaga yang lebih kuat kali ini. Tapi bahkan sebelum Klein selesai berbicara, anggota party nya sudah mendesak dan mulai memperkenalkan diri mereka.
Mereka bilang semua anggota dari <Fuurinkazan> telah mengenal satu sama lain bahkan sebelum SAO dimulai. Klein telah melindungi dan membimbing mereka semua, tanpa kehilangan satupun anggota, hingga mereka semua menjadi player yang mampu berada di garis depan. Dia mampu menopang beban yang telah kuhindari karena takut dua tahun yang lalu—dihari death game ini dimulai.
Mengabaikan kebencian terhadap diriku yang telah menempel dengan erat didalam hatiku, Aku mulai berbicara kepada Asuna,
“…yah, mereka bukan orang yang jahat, jika kau mengabaikan wajah jelek ketuanya.”
Kali ini, Klein menginjak kakiku sekeras yang dia bisa. Melihat hal ini, Asuna mulai tertawa, tidak bisa menahan lebih lama lagi. Klein tersenyum malu, tapi kemudian dia kembali sadar dan bertanya padaku dengan suara yang terisi dengan niat membunuh.
“B-B-Bagaimana ini bisa terjadi Kirito!?”
Ketika aku berdiri disana tanpa jawaban dipikiranku, Asuna menjawabnya untukku dengan suara yang jelas:
“Senang bertemu denganmu. Aku memutuskan untuk membuat party dengannya selama beberapa waktu. Kuharap aku bisa akrab denganmu.”
Aku terkejut dengan apa yang kudengar. Ketika aku berpikir ‘Eh!? Ini bukan hanya untuk hari ini!?’, Klein dan party nya membuat expresi yang berganti-ganti antara kemarahan dan depresi.
Akhirnya, Klein melirik kearahku dengan penuh amarah dimatanya dan menggeram sambil menggertakkan giginya.
“Kirito, kau sialan…”
Aku menggoyangkan bahuku dan berpikir kalau ini akan sulit untuk keluar dari masalah. Lalu…
Suara langkah kaki terdengar dari pintu yang baru saja dilewati oleh Fuurinkazan. Asuna menegang mendengar suara yang terdengar seragam, lalu menarik tanganku dan berbisik.
“Kirito, itu <The Army>!”
Aku segera mengalihkan pandanganku ke arah pintu masuk, dan benar, unit yang bersenjata lengkap yang kami lihat di hutan terlihat dalam pandanganku. Klein mengangkat tangannya dan membawa kelima temannya mendekati tembok. Grup yang masuk kedalam ruangan ini, masih dalam formasi berbaris dua, tetapi sudah tidak seteratur saat mereka berada di hutan. Langkah kaku mereka berat, dan ekspresi dibalik helm mereka terlihat lelah.
Mereka berhenti di tembok yang berlawanan dari kami di dalam safe area. Pria yang berada didepan memberi perintah “Bubar,” sesaat sebelum kesebelas orang lainnya terduduk di lantai. Pria itu kemudian berjalan kearah kami tanpa melihat sekalipun kearah mereka.
Sekarang jika kulihat dengan jelas, equipment nya agak berbeda dari yang lain. Armornya memiliki qualitas yang sangat tinggi, dan sebuah lambang yang berbentuk Aincrad yang terukir didadanya—sesuatu yang tidak dimiliki oleh kesebelas orang lainnya.
Dia berhenti didepan kami dan melepaskan helmnya. Dia agak tinggi dan terlihat berumur tiga puluhan lebih. Dia memiliki wajah yang tajam, rambut yang sangat pendek, sepasang mata tajam dibawah alisnya yang tebal, dan mulut yang tertutup rapat. Dia melihat kearah kami semua dengan matanya, dan mulai berbicara padaku yang berada paling depan diantara kami.
“Aku adalah Letnan Kolonel Cobert dari Aincrad Liberation Army.”
Apa-apaan itu? <The Army> awalnya adalah nama yang digunakan orang untuk mengejek mereka. Kapan itu menjadi nama resmi mereka? dan <Letnan Kolonel>? Merasa jengkel, aku menjawab dengan singkat:
“Kirito, Solo.”
Dia mengangguk dan bertanya dengan angkuh:
“Apa kau sudah memetakan area sekitar sini?”
“…ya. Aku telah memetakan seluruh jalan hingga ke ruangan boss.”
“Hmm. Kalau begitu kuharap kau akan memberikan map data nya kepada kami.”
Aku terkejut akan sikapnya. Tapi Klein, yang berada dibelakangku, sudah menjadi marah.
“Apa? Memberikannya padamu!? Kau sialan, apa kau tahu betapa sulitnya memetakan area!?”
Dia berteriak dengan suara serak. Peta-peta dari area yang belum terjamah adalah informasi yang penting. Mereka juga bisa dijual kepada para pemburu harta, yang mencari kotak harta yang masih terkunci, dengan harga tinggi.
Ketika dia mendengar suara Klein, orang the army itu menaikan salah satu alisnya dan mengumumkan dengan keras.
“Kami bertarung untuk kebebasan para player seperti kalian.”
Dia memajukan dagunya kedepan dan melanjutkan.
“Itu adalah tugas kalian untuk bekerja sama dengan kami!”
-Kata angkuh sangat cocok untuk sikapnya itu. The Army bahkan sudah lebih dari setahun tidak berada di garis depan.
“Tunggu sebentar, bagaimana bisa kau…”
“Kau, kau brengsek…”
Asuna dan Klein, yang berdiri disampingku, keduanya melangkah kedepan dengan suara yang penuh kemarahan. Aku melebarkan tanganku untuk menghentikan mereka.
“Tidak apa-apa. Lagipula aku berniat untuk menyebarkannya saat kita kembali ke kota.”
“Hey, hey! Kau itu terlalu baik Kirito!”
“Aku tidak berencana untuk menjual petanya.”
Sambil mengatakan hal itu, aku membuka trade window dan mengirimkan informasinya ke pria yang menyebut dirinya sebagai Lieutenant Colonel Cobert. Dia mengambilnya tanpa ada perubahan di ekspresinya dan berkata:
“Terima kasih atas kerjasama mu.”
Dia menjawab dengan suara yang tidak menunjukkan rasa terima kasih sedikitpun, dan kemudian berbalik.
Aku berkata padanya sebelum dia pergi:
“Sedikit saran dariku, lebih baik kau tidak menyerang boss itu.”
Cobert melihat kebelakang.
“…itu hal yang harus kuputuskan sendiri.”
“Kami baru saja memeriksa ruang bossnya. Itu bukanlah sesuatu yang bisa kau kalahkan hanya dengan orang sebanyak ini. Selain itu, orang-orangmu juga semuanya terlihat agak lelah.”
“…Orang-orangku tidak selemah itu hingga bisa kelelahan oleh sesuatu seperti ini!”
Cobert menekankan kata "orang-orangku" saat dia menjawab dengan jengkel. Tapi orang-orang yang duduk dilantai tidak terlihat setuju.
“Bangun kalian sampah tidak berguna!”
Mendengar perintah Cobert, mereka berdiri dengan terhuyung-huyung dan membentuk dua baris. Cobert bahkan tidak melihat kearah kami ketika dia kembali kedepan barisan dan memerintahkan dengan tangannya. Ke dua belas orang itu kemudian mengangkat senjata mereka dan mulai berjalan lagi, armor berat mereka mengeluarkan suara gemerincing.
Meski mereka masih memiliki 100% HP mereka diluarnya, pertarungan yang berkelanjutan dalam SAO meninggalkan kelelahan yang tidak bisa terlihat. Tubuh kami di dunia asli mungkin tidak bergerak sedikitpun, tapi perasaan lelah masih akan menetap hingga kami tidur atau beristirahat di sini. Berdasarkan apa yang kulihat, para player The Army itu sudah kelelahan, karena mereka tidak terbiasa bertarung di garis depan.
“…apa mereka akan baik-baik saja ya…”
Klein berbicara dengan suara khawatir ketika anggota The Army menghilang kedalam jalan sempit yang menuju kearah lantai atas dan suara langkah kaki mereka menghilang dari telinga kami. Dia benar-benar orang yang baik.
“Mereka tidak begitu bodoh hingga mau menantang bossnya kan…?”
Asuna terlihat khawatir juga. Ada sesuatu didalam suara Cobert yang menunjukkan suatu kecerobohan.
“…apa kita harus memeriksa apa yang mereka lakukan…?”
Ketika aku berkata hal ini, bukan hanya Klein dan Asuna, tapi bahkan kelima anggota yang lain juga setuju.
…dan mereka bilang kalau aku terlalu baik…
Aku memikirkan hal ini dengan senyuman pahit. Tapi, aku sudah membuat keputusan. Aku tidak akan bisa tidur malam ini jika kami meninggalkan Labyrinth sekarang dan mendengar kalau mereka tidak kembali dari sini.
Ketika aku dengan cepat memeriksa equipmentku dan mulai berjalan, sebuah suara memasuki telingaku-
Aku bisa mendengar kalau Klein berbisik ke Asuna dibelakangku. Aku memikirkan apakah dia masih belum puas menerima sikutan dariku ketika aku mendengar isi pembicaraan mereka yang mengejutkanku.
“Ah—Asuna-san, bagaimana mengatakannya yah…dia itu, Kirito, tolong baik-baik lah terhadapnya. Bahkan jika dia tidak terlalu bagus dalam menggunakan kata-katanya, tidak terlalu lucu, dan seorang penggila bertarung yang bodoh.”
Aku menerjang mundur dan menarik bandana Klein sekeras yang aku bisa.
“A-apa yang kau bicarakan!?”
“T-Tapi.”
Si pemegang katana itu menarik kepalanya dan menggaruk jenggotnya.
“Itu cukup aneh jika kau membuat party dengan seseorang. Bahkan jika kau jatuh cinta pada Asuna, itu adalah kemajuan yang sangat besar untukmu. Makanya aku-”
“A-Aku tidak jatuh cinta padanya!”
Aku memprotesnya. Tapi entah kenapa, Klein, anggota partynya, dan bahkan Asuna melihat kearahku dengan sebuah senyuman diwajah mereka. Aku tidak bisa melakukan apapun kecuali diam, berbalik dan terus berjalan.
Lalu aku mendengar Asuna menyatakan:
“Serahkan dia padaku!”
Aku berlari menuju jalan yang menuju ke lantai berikutnya sambil membuat suara berisik dengan sepatuku.
~TO BE CONTINUED~
BOOK 1 AINCRAD, CHAPTER 9
Lebih dari setahun berlalu sejak Knights of the Blood menempati posisi terbaik diantara semua guild yang ada.
Sejak saat itu, ketua guildnya, si <Man of Legend>, dan wakil ketua nya Asuna si <Flash> menjadi terkenal sebagai dua orang dari warrior terbaik di Aincrad. Sekarang aku mempunyai kesempatan untuk mengamati Asuna yang sudah menyelesaikan latihan skill yang dibutuhkan oleh seorang rapier-sword fencer, bertarung melawan monster biasa.
Kami sedang berada didalam pertarungan, dan musuhnya adalah swordman tengkorak yang bernama <Demonic Servant>. Tingginya lebih dari dua meter, dikelilingi oleh sebuah cahaya biru yang membuatku merinding, dan memegang sebuah pedang lurus yang besar di tangan kanannya dan sebuah perisai bulat yang terbuat dari logam di tangan kirinya. Monster itu tidak memiliki satu otot pun, meski begitu dia memiliki strength stat yang sangat tinggi, membuatnya menjadi sulit untuk dilawan.
Tapi Asuna tidak mempedulikan hal itu.
“Hrrrrgrrrr!”
Dengan sebuah teriakan aneh, tengkorak itu mengayunkan pedangnya beberapa kali meninggalkan sebuah garis cahaya di jalur ayunannya. Itu adalah sebuah skill combo 4-hit: <Vertical Square>. Ketika aku melihatnya sambil khawatir dari beberapa langkah dibelakangnya, Asuna melangkah kekiri dan kekanan, menghindari semua serangan dengan elegan.
Bahkan jika ini adalah situasi 2-lawan-1, kami tidak bisa bertarung sekaligus ketika menghadapi musuh yang bersenjata lengkap. Itu tidaklah dilarang oleh systemnya, tapi ketika dua orang berada terlalu dekat didalam pertarungan dimana pedang-pedang diayunkan dengan kecepatan yang lebih cepat dari mata, itu lebih menjadi gangguan daripada menolong. Jadi ketika berparty, sebuah kemampuan yang memerlukan kerjasama tingkat tinggi yang di sebut <switching> digunakan.
Setelah ayunan penuhnya, dan serangan terakhirnya meleset, postur dari Demonic Servant itu agak sedikit goyah. Asuna tidak melewatkan kesempatan ini dan langsung melakukan counter-attack.
Tusukan dari pedang silver-putih nya mendarat satu per satu, semuanya dengan spektakular mengenai target mereka, dan HP dari tengkorak itu berkurang. Setiap serangan tidak membuat damage yang besar, tapi jumlah serangannya sangat besar.
Setelah terkena serangan tiga tusukan cepat, perisai tengkorak itu menjadi sedikit naik, dan Asuna mengganti gayanya dan menebas dua kali di kaki musuhnya. Lalu, dengan ujung pedangnya yang bersinar putih dengan terang, dia mengirimkan dua tusukan keras di bagian atas dan bawah.
Itu adalah combo 8-hit. Itu mungkin adalah sword skill level tinggi yang bernama <Star Splash>. Menyerang tengkorak itu dengan tepat dengan pedangnya yang tipis, yang biasanya tidak efektif melawan musuh seperti itu, itu adalah bukti dari kemampuannya yang luar biasa.
Kekuatan yang telah mengurangi sekitar tiga puluh persen dari HP tengkorak itu juga mengagumkan, tapi aku terpanah melihat ke elegan-an player yang melakukannya. Ini pasti yang mereka sebut dengan sword dancing.
Asuna berteriak kepadaku, yang sedang berdiri disana seperti orang bodoh, itu seperti kalau dia mempunyai mata di belakang kepalanya.
“Kirito, switch!”
“Ah, oke!”
Aku buru-buru mengangkat pedangku, dan pada saat yang sama, Asuna melakukan tusukan kuat.
Tengkorak itu menangkis serangan itu dengan perisai di tangan kirinya dan percikan terang muncul. Tapi itu adalah hasil yang diinginkan. Musuhnya menjadi terhenti selama beberapa saat setelah menangkis serangan kuat itu, tidak bisa segera membalas.
Tentu saja, Asuna juga terhenti setelah mendapatkan serangannya dihentikan, tapi <celah> nya adalah yang terpenting.
Aku segera menerobos dengan sebuah charge-type skill. Membuat sebuah break point dengan sengaja ditengah-tengah pertarungan dan bertukar tempat dengan teman, itulah yang disebut <switching>.
Setelah memastikan kalau Asuna telah keluar dari jarak seranganku, aku menerjang dengan cepat kearah musuhku. Kecuali kau adalah seorang ahli sepertinya, tebasan biasa jauh lebih berguna melawan musuh yang mempunyai lebih banyak <celah> daripada Demonic Servant ini. Dalam situasi seperti ini, yang paling efektif adalah dengan senjata yang bertipe benturan seperti mace. Tapi aku dan mungkin asuna juga tidak memiliki senjata tipe benturan.
<Vertical Square> yang kugunakan untuk menyerang musuh kena keempatnya dan mengurangi banyak HP nya. Tengkorak itu bereaksi dengan lambat. Ini mungkin karena AI dari monster memiliki delay beberapa saat sebelum merespon ketika pola serangan penyerangnya tiba-tiba berubah. Kemarin, aku telah menghabiskan banyak waktu dan usaha untuk melakukan hal ini saat melawan lizardman, tapi ketika kau mendapat seorang teammate, satu switch adalah semua yang kau butuhkan. Ini adalah keuntungan terbesar bertarung bersama party.
Aku menangkis serangan balasannya dan memulai sebuah skill besar untuk mengakhiri pertarungan. Aku mengirimkan sebuah serangan kuat menurun kearah kanan, lalu memutar pergelanganku dan menebas keatas lagi, mengikuti jejak tebasanku tadi dengan gerakas seperti melakukan ayunan golf. Setiap kali pedangku mengenai tubuh musuh yang sepenuhnya terbuat dari tulang, terdengar suara benturan dan sebuah cahaya orange keluar.
Tengkorak itu mengangkat perisainya untuk menangkis serangan yang dipikirnya akan datang dari atas, tapi aku tidak melakukan sesuai dugaannya dan menabraknya dengan bahu kiriku. Lalu aku mengirimkan sebuah tebasan vertikal kearah tengkorak yang tidak seimbang itu, dan tanpa berhenti aku menabraknya lagi dengan bahu kananku kali ini. Itu adalah sebuah skill yang menggabungkan beberapa serangan kuat dengan melakukan tackle: <Meteor Break>. Tidak menyombong, tapi ini adalah skill yanfg membutuhkan kemampuan bertarung tanpa senjata dan juga kemampuan bertarung dengan pedang satu tangan.
HP musuhnya berkurang banyak dari semua serangan itu dan sekarang berada di area merah. Aku menggunakan semua tenaga di tubuhku untuk melakukan tebasan horizontal kearah kiri terakhir dari combo 7-hit <Meteor Break>. Pedangnya mengenai leher tengkorak itu, menciptakan garis bersinar yang terang. Tulangnya patah dengan suara menggeretak dan kepala tengkorak itu mental keudara, tubuhnya jatuh ke tanah seperti sebuah boneka yang terputus tali yang menopangnya.
“Kita menang!!”
Asuna menepuk pundakku dimana pedangku berada.
Kami membiarkan pembagian itemnya untuk nanti dan mulai berjalan lagi.
Hingga sekarang, kami telah melawan monster empat kali tapi kami menang hampir tanpa ada damage yang mengenai kami. Karena gaya bertarung Asuna banyak menggunakan tusukan sedangkan gaya bertarungku adalah untuk menggabungkan skill-skill besar, itu membuat AI monsternya menjadi tegang-dalam hal algoritma, bukan kemampuan proses CPU yang sebenarnya—dan membuat skill kami menjadi cocok. Mungkin level kami juga tidak berbeda terlalu jauh.
Kami berjalan berhati-hati melewati gang megah yang dikelilingi oleh tiang-tiang. Tidak ada kemungkinan untuk diserang tiba-tiba dengan kemampuan scan ku, Tapi gema dari langkah kaki kami terus membuatku khawatir. Di labyrinth ini tidak terdapat sumber cahaya, tapi lingkungan di sekeliling kami mengeluarkan cahaya redup yang misterius, jadi kami bisa melihat dengan baik.
Aku dengan hati-hati memeriksa gang yang memantulkan cahaya biru yang lembut.
Di lantai bawah labyrinthnya terbuat dari batu kapur berwarna coklat kemerahan. Tapi ketika kami naik ke atas, lingkungannya terbuat dari sejenis batu yang mengeluarkan cahaya biru. Tiang-tiangnya terukir dengan gambar yang menakjubkan tetapi membuat merinding, dan genangan air yang dangkal mengalir dibawah kaki kami, menutupi lantainya. Kau bisa bilang kalau suasananya menjadi <lebih berat>. Di peta tidak ada lagi banyak tempat kosong. Jika tebakanku benar maka area di depan mungkin adalah-
Di ujung gang, sepasang pintu berwarna abu-abu kebiruan berdiri menanti kedatangan kami. Pahatan di pintu itu mirip dengan yang ada di tiang-tiang. Bahkan jika semua ini hanyalah dunia yang terbuat dari data, aura yang aneh terasa keluar dari pintu itu.
“…apakah, itu…”
“Mungkin…? Itu adalah ruangan boss.”
Asuna memegang lengan mantelku dengan erat.
“Apa yang harus kita lakukan…? Hanya melihat saja tidak apa-apa kan?”
Kebalikan dengan apa yang dia katakan, suaranya terdengar tidak tenang. Bahkan jika dia adalah seorang top class swordswoman, sepertinya dia masih menganggap hal-hal seperti ini menakutkan. Yah, itu wajar saja, sungguh. Akupun juga merasa takut.
“…Yah, untuk jaga-jaga ayo siapkan item teleportasi.”
“Ya.”
Asuna mengangguk dan mengeluarkan sebuah kristal biru dari kantungnya. Aku juga menyiapkan itemku.
“Siap…? Aku akan membukanya…”
Dengan tangan kananku yang dipegang erat oleh Asuna, Aku menyentuh pintu besi itu, dan tangan kiriku menggenggam crystal. Jika ini adalah dunia nyata, telapak tangan ku pasti sudah dibanjiri oleh keringat sekarang.
Ketika aku perlahan-lahan mengeluarkan tenaga dari tanganku, pintunya, yang setidaknya terlihat lebih tinggi dua kali lipat dari tinggiku, terbuka dengan agak mudah. Ketika itu mulai bergerak, kedua pintu itu terbuka dengan begitu cepat hingga kami berdua kaget. Aku dan Asuna berdiri disitu menahan napas kami ketika pintu besar itu berhenti bergerak dengan suara benturan keras dan menunjukkan kami apa yang ada didalam.
-Atau itulah yang kami pikir; didalam sangat gelap. Cahaya yang menyinari gang tempat kami berada sepertinya tidak mencapai ujung dari ruangan itu. Kegelapan dingin yang tebal tidak menunjukkan apapun seberapa kerasnya kami mencoba melihatnya.
“…”
Segera setelah aku membuka mulutku, sepasang api biru keputihan terlihat menyala jauh di dalam ruangan, lalu pasangan api lainnya muncul dan muncul.
Whoooooosh… dengan suara yang terus terdengar itu, sebuah jalan kecil menuju tengah ruangan terbentuk dalam sekejap mata. Diujungnya, sebuah pilar api terbentuk, dan ruangan persegi itu dipenuhi dengan cahaya biru. Ruangannya cukup luas. Sepertinya semua tempat kosong dipeta termasuk kedalam ruangan ini.
Asuna menempel ke tangan kananku seperti untuk menahan kegelisahannya, tapi aku tidak memiliki ruangan yang cukup dikepalaku untuk menikmati perasaan ini. Itu karena, dibalik pilar api itu, sebuah tubuh yang besar mulai muncul.
Tubuh yang besar itu dilapisi dengan otot-otot yang menonjol. Kulit nya berwarna biru gelap dan kepala yang berada diatas dadanya yang besar itu bukanlah kepala manusia, tapi kepala kambing gunung.
Ada dua tandung yang meliuk yang menempel di kedua sisi kepalanya. Matanya yang terlihat seperti terbakar oleh api biru terang, tertuju kearah kami. Tubuh bagian bawahnya dilapisi oleh bulu berwarna biru laut dan tidak terlihat terlalu jelas di balik apinya, tapi itu terlihat kalau itu adalah bulu binatang. Simpelnya, monster itu adalah demon (setan) dilihat dari manapun.
Ada jarak yang cukup jauh diantara bagian tengah ruangan dan pintu masuknya. Meski begitu, kami berdiri membatu di tempat ini tidak bisa menggerakkan satu ototpun. Dari semua monster yang kami lawan hingga sekarang, ini adalah pertama kalinya ada yang berbentuk demon. Itu adalah sesuatu yang sudah terbiasa kulihat karena banyak sekali game RPG yang telah kumainkan. Tapi sekarang aku benar-benar melihatnya, aku tidak bisa menahan ketakutan yang keluar dari dalam tubuhku.
Aku perlahan-lahan memfokuskan mataku dan membaca kata-kata yang muncul: <The Gleameyes>. Itu tidak salah lagi adalah boss di lantai ini. Kata "The" di depan namanya adalah buktinya. Gleameyes—yang matanya memancarkan cahaya.
Ketika aku memikirkan hal itu, demon biru itu tiba-tiba mulai menggoyangkan hidungnya yang panjang dan mulai berteriak. Api biru yang muncul mengguncang ruangannya dengan kasar dan menggetarkan lantai ruangannya. Napasnya yang berapi keluar dari hidung dan mulutnya ketika dia mengangkat pedangnya. Lalu demon biru itu mulai menerjang lurus kearah kami dengan kecepatan yang tidak bisa dipercaya—membuat lantainya berguncang—tanpa memberikan kami waktu untuk bisa berpikir.
“Ahhhhhhhhhhhhhhh!”
“Kyaaaaaaaaaaaaaa!”
Sambil berteriak bersamaan, kami berbalik seratus delapan puluh derajat dan berlari secepat yang kami bisa. Kami tahu secara teori kalau boss tidak bisa keluar dari ruangannya, tapi kami tidak tahan berada disana. Mempercayakan tubuh kami kepada dexterity stats yang telah kami latih hingga sekarang, kami berlari seperti angin melewati gang yang ada.
~TO BE CONTINUED~
Sejak saat itu, ketua guildnya, si <Man of Legend>, dan wakil ketua nya Asuna si <Flash> menjadi terkenal sebagai dua orang dari warrior terbaik di Aincrad. Sekarang aku mempunyai kesempatan untuk mengamati Asuna yang sudah menyelesaikan latihan skill yang dibutuhkan oleh seorang rapier-sword fencer, bertarung melawan monster biasa.
Kami sedang berada didalam pertarungan, dan musuhnya adalah swordman tengkorak yang bernama <Demonic Servant>. Tingginya lebih dari dua meter, dikelilingi oleh sebuah cahaya biru yang membuatku merinding, dan memegang sebuah pedang lurus yang besar di tangan kanannya dan sebuah perisai bulat yang terbuat dari logam di tangan kirinya. Monster itu tidak memiliki satu otot pun, meski begitu dia memiliki strength stat yang sangat tinggi, membuatnya menjadi sulit untuk dilawan.
Tapi Asuna tidak mempedulikan hal itu.
“Hrrrrgrrrr!”
Dengan sebuah teriakan aneh, tengkorak itu mengayunkan pedangnya beberapa kali meninggalkan sebuah garis cahaya di jalur ayunannya. Itu adalah sebuah skill combo 4-hit: <Vertical Square>. Ketika aku melihatnya sambil khawatir dari beberapa langkah dibelakangnya, Asuna melangkah kekiri dan kekanan, menghindari semua serangan dengan elegan.
Bahkan jika ini adalah situasi 2-lawan-1, kami tidak bisa bertarung sekaligus ketika menghadapi musuh yang bersenjata lengkap. Itu tidaklah dilarang oleh systemnya, tapi ketika dua orang berada terlalu dekat didalam pertarungan dimana pedang-pedang diayunkan dengan kecepatan yang lebih cepat dari mata, itu lebih menjadi gangguan daripada menolong. Jadi ketika berparty, sebuah kemampuan yang memerlukan kerjasama tingkat tinggi yang di sebut <switching> digunakan.
Setelah ayunan penuhnya, dan serangan terakhirnya meleset, postur dari Demonic Servant itu agak sedikit goyah. Asuna tidak melewatkan kesempatan ini dan langsung melakukan counter-attack.
Tusukan dari pedang silver-putih nya mendarat satu per satu, semuanya dengan spektakular mengenai target mereka, dan HP dari tengkorak itu berkurang. Setiap serangan tidak membuat damage yang besar, tapi jumlah serangannya sangat besar.
Setelah terkena serangan tiga tusukan cepat, perisai tengkorak itu menjadi sedikit naik, dan Asuna mengganti gayanya dan menebas dua kali di kaki musuhnya. Lalu, dengan ujung pedangnya yang bersinar putih dengan terang, dia mengirimkan dua tusukan keras di bagian atas dan bawah.
Itu adalah combo 8-hit. Itu mungkin adalah sword skill level tinggi yang bernama <Star Splash>. Menyerang tengkorak itu dengan tepat dengan pedangnya yang tipis, yang biasanya tidak efektif melawan musuh seperti itu, itu adalah bukti dari kemampuannya yang luar biasa.
Kekuatan yang telah mengurangi sekitar tiga puluh persen dari HP tengkorak itu juga mengagumkan, tapi aku terpanah melihat ke elegan-an player yang melakukannya. Ini pasti yang mereka sebut dengan sword dancing.
Asuna berteriak kepadaku, yang sedang berdiri disana seperti orang bodoh, itu seperti kalau dia mempunyai mata di belakang kepalanya.
“Kirito, switch!”
“Ah, oke!”
Aku buru-buru mengangkat pedangku, dan pada saat yang sama, Asuna melakukan tusukan kuat.
Tengkorak itu menangkis serangan itu dengan perisai di tangan kirinya dan percikan terang muncul. Tapi itu adalah hasil yang diinginkan. Musuhnya menjadi terhenti selama beberapa saat setelah menangkis serangan kuat itu, tidak bisa segera membalas.
Tentu saja, Asuna juga terhenti setelah mendapatkan serangannya dihentikan, tapi <celah> nya adalah yang terpenting.
Aku segera menerobos dengan sebuah charge-type skill. Membuat sebuah break point dengan sengaja ditengah-tengah pertarungan dan bertukar tempat dengan teman, itulah yang disebut <switching>.
Setelah memastikan kalau Asuna telah keluar dari jarak seranganku, aku menerjang dengan cepat kearah musuhku. Kecuali kau adalah seorang ahli sepertinya, tebasan biasa jauh lebih berguna melawan musuh yang mempunyai lebih banyak <celah> daripada Demonic Servant ini. Dalam situasi seperti ini, yang paling efektif adalah dengan senjata yang bertipe benturan seperti mace. Tapi aku dan mungkin asuna juga tidak memiliki senjata tipe benturan.
<Vertical Square> yang kugunakan untuk menyerang musuh kena keempatnya dan mengurangi banyak HP nya. Tengkorak itu bereaksi dengan lambat. Ini mungkin karena AI dari monster memiliki delay beberapa saat sebelum merespon ketika pola serangan penyerangnya tiba-tiba berubah. Kemarin, aku telah menghabiskan banyak waktu dan usaha untuk melakukan hal ini saat melawan lizardman, tapi ketika kau mendapat seorang teammate, satu switch adalah semua yang kau butuhkan. Ini adalah keuntungan terbesar bertarung bersama party.
Aku menangkis serangan balasannya dan memulai sebuah skill besar untuk mengakhiri pertarungan. Aku mengirimkan sebuah serangan kuat menurun kearah kanan, lalu memutar pergelanganku dan menebas keatas lagi, mengikuti jejak tebasanku tadi dengan gerakas seperti melakukan ayunan golf. Setiap kali pedangku mengenai tubuh musuh yang sepenuhnya terbuat dari tulang, terdengar suara benturan dan sebuah cahaya orange keluar.
Tengkorak itu mengangkat perisainya untuk menangkis serangan yang dipikirnya akan datang dari atas, tapi aku tidak melakukan sesuai dugaannya dan menabraknya dengan bahu kiriku. Lalu aku mengirimkan sebuah tebasan vertikal kearah tengkorak yang tidak seimbang itu, dan tanpa berhenti aku menabraknya lagi dengan bahu kananku kali ini. Itu adalah sebuah skill yang menggabungkan beberapa serangan kuat dengan melakukan tackle: <Meteor Break>. Tidak menyombong, tapi ini adalah skill yanfg membutuhkan kemampuan bertarung tanpa senjata dan juga kemampuan bertarung dengan pedang satu tangan.
HP musuhnya berkurang banyak dari semua serangan itu dan sekarang berada di area merah. Aku menggunakan semua tenaga di tubuhku untuk melakukan tebasan horizontal kearah kiri terakhir dari combo 7-hit <Meteor Break>. Pedangnya mengenai leher tengkorak itu, menciptakan garis bersinar yang terang. Tulangnya patah dengan suara menggeretak dan kepala tengkorak itu mental keudara, tubuhnya jatuh ke tanah seperti sebuah boneka yang terputus tali yang menopangnya.
“Kita menang!!”
Asuna menepuk pundakku dimana pedangku berada.
Kami membiarkan pembagian itemnya untuk nanti dan mulai berjalan lagi.
Hingga sekarang, kami telah melawan monster empat kali tapi kami menang hampir tanpa ada damage yang mengenai kami. Karena gaya bertarung Asuna banyak menggunakan tusukan sedangkan gaya bertarungku adalah untuk menggabungkan skill-skill besar, itu membuat AI monsternya menjadi tegang-dalam hal algoritma, bukan kemampuan proses CPU yang sebenarnya—dan membuat skill kami menjadi cocok. Mungkin level kami juga tidak berbeda terlalu jauh.
Kami berjalan berhati-hati melewati gang megah yang dikelilingi oleh tiang-tiang. Tidak ada kemungkinan untuk diserang tiba-tiba dengan kemampuan scan ku, Tapi gema dari langkah kaki kami terus membuatku khawatir. Di labyrinth ini tidak terdapat sumber cahaya, tapi lingkungan di sekeliling kami mengeluarkan cahaya redup yang misterius, jadi kami bisa melihat dengan baik.
Aku dengan hati-hati memeriksa gang yang memantulkan cahaya biru yang lembut.
Di lantai bawah labyrinthnya terbuat dari batu kapur berwarna coklat kemerahan. Tapi ketika kami naik ke atas, lingkungannya terbuat dari sejenis batu yang mengeluarkan cahaya biru. Tiang-tiangnya terukir dengan gambar yang menakjubkan tetapi membuat merinding, dan genangan air yang dangkal mengalir dibawah kaki kami, menutupi lantainya. Kau bisa bilang kalau suasananya menjadi <lebih berat>. Di peta tidak ada lagi banyak tempat kosong. Jika tebakanku benar maka area di depan mungkin adalah-
Di ujung gang, sepasang pintu berwarna abu-abu kebiruan berdiri menanti kedatangan kami. Pahatan di pintu itu mirip dengan yang ada di tiang-tiang. Bahkan jika semua ini hanyalah dunia yang terbuat dari data, aura yang aneh terasa keluar dari pintu itu.
“…apakah, itu…”
“Mungkin…? Itu adalah ruangan boss.”
Asuna memegang lengan mantelku dengan erat.
“Apa yang harus kita lakukan…? Hanya melihat saja tidak apa-apa kan?”
Kebalikan dengan apa yang dia katakan, suaranya terdengar tidak tenang. Bahkan jika dia adalah seorang top class swordswoman, sepertinya dia masih menganggap hal-hal seperti ini menakutkan. Yah, itu wajar saja, sungguh. Akupun juga merasa takut.
“…Yah, untuk jaga-jaga ayo siapkan item teleportasi.”
“Ya.”
Asuna mengangguk dan mengeluarkan sebuah kristal biru dari kantungnya. Aku juga menyiapkan itemku.
“Siap…? Aku akan membukanya…”
Dengan tangan kananku yang dipegang erat oleh Asuna, Aku menyentuh pintu besi itu, dan tangan kiriku menggenggam crystal. Jika ini adalah dunia nyata, telapak tangan ku pasti sudah dibanjiri oleh keringat sekarang.
Ketika aku perlahan-lahan mengeluarkan tenaga dari tanganku, pintunya, yang setidaknya terlihat lebih tinggi dua kali lipat dari tinggiku, terbuka dengan agak mudah. Ketika itu mulai bergerak, kedua pintu itu terbuka dengan begitu cepat hingga kami berdua kaget. Aku dan Asuna berdiri disitu menahan napas kami ketika pintu besar itu berhenti bergerak dengan suara benturan keras dan menunjukkan kami apa yang ada didalam.
-Atau itulah yang kami pikir; didalam sangat gelap. Cahaya yang menyinari gang tempat kami berada sepertinya tidak mencapai ujung dari ruangan itu. Kegelapan dingin yang tebal tidak menunjukkan apapun seberapa kerasnya kami mencoba melihatnya.
“…”
Segera setelah aku membuka mulutku, sepasang api biru keputihan terlihat menyala jauh di dalam ruangan, lalu pasangan api lainnya muncul dan muncul.
Whoooooosh… dengan suara yang terus terdengar itu, sebuah jalan kecil menuju tengah ruangan terbentuk dalam sekejap mata. Diujungnya, sebuah pilar api terbentuk, dan ruangan persegi itu dipenuhi dengan cahaya biru. Ruangannya cukup luas. Sepertinya semua tempat kosong dipeta termasuk kedalam ruangan ini.
Asuna menempel ke tangan kananku seperti untuk menahan kegelisahannya, tapi aku tidak memiliki ruangan yang cukup dikepalaku untuk menikmati perasaan ini. Itu karena, dibalik pilar api itu, sebuah tubuh yang besar mulai muncul.
Tubuh yang besar itu dilapisi dengan otot-otot yang menonjol. Kulit nya berwarna biru gelap dan kepala yang berada diatas dadanya yang besar itu bukanlah kepala manusia, tapi kepala kambing gunung.
Ada dua tandung yang meliuk yang menempel di kedua sisi kepalanya. Matanya yang terlihat seperti terbakar oleh api biru terang, tertuju kearah kami. Tubuh bagian bawahnya dilapisi oleh bulu berwarna biru laut dan tidak terlihat terlalu jelas di balik apinya, tapi itu terlihat kalau itu adalah bulu binatang. Simpelnya, monster itu adalah demon (setan) dilihat dari manapun.
Ada jarak yang cukup jauh diantara bagian tengah ruangan dan pintu masuknya. Meski begitu, kami berdiri membatu di tempat ini tidak bisa menggerakkan satu ototpun. Dari semua monster yang kami lawan hingga sekarang, ini adalah pertama kalinya ada yang berbentuk demon. Itu adalah sesuatu yang sudah terbiasa kulihat karena banyak sekali game RPG yang telah kumainkan. Tapi sekarang aku benar-benar melihatnya, aku tidak bisa menahan ketakutan yang keluar dari dalam tubuhku.
Aku perlahan-lahan memfokuskan mataku dan membaca kata-kata yang muncul: <The Gleameyes>. Itu tidak salah lagi adalah boss di lantai ini. Kata "The" di depan namanya adalah buktinya. Gleameyes—yang matanya memancarkan cahaya.
Ketika aku memikirkan hal itu, demon biru itu tiba-tiba mulai menggoyangkan hidungnya yang panjang dan mulai berteriak. Api biru yang muncul mengguncang ruangannya dengan kasar dan menggetarkan lantai ruangannya. Napasnya yang berapi keluar dari hidung dan mulutnya ketika dia mengangkat pedangnya. Lalu demon biru itu mulai menerjang lurus kearah kami dengan kecepatan yang tidak bisa dipercaya—membuat lantainya berguncang—tanpa memberikan kami waktu untuk bisa berpikir.
“Ahhhhhhhhhhhhhhh!”
“Kyaaaaaaaaaaaaaa!”
Sambil berteriak bersamaan, kami berbalik seratus delapan puluh derajat dan berlari secepat yang kami bisa. Kami tahu secara teori kalau boss tidak bisa keluar dari ruangannya, tapi kami tidak tahan berada disana. Mempercayakan tubuh kami kepada dexterity stats yang telah kami latih hingga sekarang, kami berlari seperti angin melewati gang yang ada.
~TO BE CONTINUED~
BOOK 1 AINCRAD, CHAPTER 8
Udara yang terasa di hutan terasa hangat. Perasaan gelisah yang muncul kemarin malam terasa seperti hanya sebuah ilusi. Matahari pagi bersinar melewati celah pohon, membuat pilar keemasan yang terbuat dari cahaya menyinari kupu-kupu dengan indahnya. Sayangnya, semua itu hanyalah efek visual, jadi kau tidak bisa menangkapnya meskipun kau mengejarnya.
Sambil menerobos melalui semak-semak tipis, Asuna berbicara dengan nada menyindir.
“Kau selalu memakai pakaian yang sama.”
Ah.
Aku melihat ke badanku: Sebuah jaket kulit hitam yang agak longgar, sepasang celana dan baju yang berwarna sama. Aku tidak mememakai equipment armor yang berbahan besi sedikitpun.
“Yah, memangnya kenapa? Jika aku punya uang lebih untuk membeli baju, lebih baik aku membeli sesuatu untuk dimakan…”
“Apa ada alasan kenapa kau yang kau pakai semuanya hitam? Atau itu hanya untuk menunjukkan ekspresi karaktermu?”
“B-bagaimana dengan kau sendiri? Kau selalu mengenakan jubah berwarna putih dan merah itu…”
Sambil berbicara, aku mulai menscan area sekitar karena kebiasaanku tanpa berpikir sama sekali. Tidak ada monster sama sekali disini. Tapi-
“Mau bagaimana lagi. Ini kan seragam gui…huh? Ada apa?”
“Tunggu sebentar…”
Aku mengangkat tangan kananku sedikit untuk mendiamkan Asuna. Ada seorang player di ujung dari daerah yang terkena scan. Ketika aku memfokuskan untuk menscan area dibelakangku, banyak cursor berwarna hijau yang mulai muncul, menunjukkan kalau ada banyak player disana.
Tidak mungkin itu kelompok perampok. Perampok selalu memburu player yang lebih lemah dari mereka, Jadi mereka sangat jarang terlihat disekitar garis depan, dimana semua player terkuat berkumpul. Yang lebih penting, ketika seorang player melakukan sebuah kejahatan, cursor mereka akan berubah menjadi oranye dan tidak akan kembali ke hijau dalam waktu yang lama. Apa yang aku khawatirkan adalah jumlah mereka.
Aku membuka peta dari menu utama dan menaruhnya dalam posisi show mode supaya Asuna bisa melihatnya. Peta dari area yang terkena scan ku menunjukkan cursor berwarna hijau. Mereka ada dua belas orang.
“Banyak sekali…”
Aku mengangguk mendengar apa yang dikatakan Asuna. Biasanya ketika ada terlalu banyak anggota dalam sebuah party, akan menjadi lebih sulit untuk bertarung, jadi lima atau enam orang adalah jumlah yang ideal.
“Lihat jumlah orangnya.”
Kumpulan cahaya itu dengan cepat menuju kearah sini dalam bentuk barisan dua garis yang rapi. Kecuali di dalam dungeon berbahaya, jarang sekali aku melihat grup besar yang kompak seperti itu di atas field.
Jika kami bisa melihat level anggotanya, kami mungkin bisa mengetahui apa yang mereka lakukan, tapi player bahkan tidak bisa melihat nama player lain yang baru mereka temui. Itu adalah sistem default yang dibuat untuk mencegah player melakukan PKing—membunuh player—dengan bebas, jadi itu hanya menyisakan kami pilihan untuk menebak level mereka dengan melihat equipment mereka.
Aku menutup map dan melirik kearah Asuna.
“Kita harus melihat siapa mereka. Ayo bersembunyi dibalik pepohonan hingga mereka lewat.”
“Ya, kau benar.”
Asuna mengangguk dengan ekspresi tegang. Kami memanjat ke sebuah tebing kecil dan menunduk dibalik sebuah semak-semak yang hampir setiggi badan kami. Itu adalah tempat yang bagus untuk mengamati grup itu ketika mereka lewat.
“Ah…”
Asuna tiba-tiba melihat kearah pakaiannya. Seragam merah dan putih nya agak mencolok diantara pohon-pohon hijau ini.
“Apa yang harus kulakukan? Aku tidak punya equipment lain…”
Titik-titik nya semakin mendekat. mereka sekarang sudah berada didalam jarak pandang kami.
“Maafkan aku sebentar.”
Aku membuka mantelku dan menggunakannya untuk menutupi Asuna juga. Asuna melotot kearahku sedikit tapi akhirnya mengizinkanku untuk menutupinya. Mantelnya tidak terlalu bagus untuk dilihat, tapi memberi sebuah bonus bersembunyi yang tinggi. Dengan ini, akan sulit untuk menyadari kami tanpa menggunakan skill scanning tingkat tinggi.
“Yah, mantel ini tidak terlalu bagus, tapi ini sangat berguna kan?”
“Tau ah! …shh, mereka datang!”
Asuna berbisik dan menaruh jarinya di bibirnya. Aku membungkuk lebih rendah dan suara langkah kaki terdengar di telingaku.
Perlahan, kami bisa melihat grup itu melewati jalan setapak.
Mereka semua adalah warrior. Semuanya menggunakan armor metal berwarna hitam dan pakaian bertarung berwarna hijau yang sama. Equipment mereka mempunyai desain yang normal, kecuali untuk gambar kastil di setiap perisai mereka yang mencolok.
Enam orang di depan mempunyai one-handed sword dan enam dibelakang mempunyai halberd. Mereka semua menurunkan penutup helm mereka, jadi kami tidak bisa melihat ekspresi mereka. Ketika kami melihat ke dua belas player berjalan dengan barisan sempurna, aku sempat berpikir kalau mereka adalah sebuah grup yang terdiri dari NPC.
Aku yakin sekarang. Mereka adalah anggota dari grup besar yang membuat kota di lantai pertama sebagai markas pusat mereka: <The Army>. Aku bisa merasakan kalau Asuna menahan napasnya.
Mereka bukan musuh bagi player biasa. Malahan, mereka bisa dianggap sebagai grup yang paling bekerja keras untuk menghentikan kejahatan.
Tapi cara mereka agak sedikit kasar, dan ada yang bilang kalau mereka menyerang player oranye—disebut begitu karena cursor mereka berwarna orange—segera setelah mereka ditemukan dan tanpa berkata apapun. Lalu mereka akan melucuti equipment para player oranye dan memenjarakan mereka di dalam ruang bawah tanah dari Black Iron Castle. Rumor tentang bagaimana <The Army> memperlakukan orang-orang yang tidak menyerah dan gagal melarikan diri agak menakutkan.
Mereka juga sering menjelajah dengan party beranggotakan banyak dan mengontrol seluruh daerah berburu, jadi kalimat "tidak boleh pergi mendekati <The Army>" menjadi pengetahuan umum diantara para player. Yah, mereka biasanya beroperasi di lantai lima puluhan dan dibawahnya, berusaha memperkuat grup mereka dan menegakkan hukum, jadi jarang sekali melihat mereka di garis depan-
Ke dua belas warrior menghilang kedalam hutan bersamaan dengan suara armor dan sepatu mereka.
Melihat cara semua player mendapatkan softwarenya, kau bisa bilang kalau sebagian besar orang yang terjebak didalam sao adalah maniak game, yang tidak peduli dengan kata <Peraturan> atau sejenisnya. Tapi kenyataan kalau mereka masih menunjukkan pergerakan yang teratur sangat hebat. Mereka mungkin adalah satuan terkuat dari <The Army>.
Setelah memastikan kalau mereka telah keluar dari batas peta, Asuna dan aku menghela napas lega.
“…rumornya, sungguhan…”
Aku berbisik pada Asuna saat mantelku masih menutupinya untuk bertanya.
“Rumor?”
“Ya. aku mendengar saat guild meeting kalau <The Army> mengubah cara mereka bekerja dan mulai muncul di lantai-lantai atas. Mereka pernah disebut sebagai grup yang mencoba untuk menyelesaikan gamenya kan? tapi setelah kerusakan yang mereka terima ketika melawan boss di lantai 25, mereka mulai memfokuskan untuk memperkuat grup mereka dan berhenti bertarung di garis depan. –Jadi, daripada pergi ke labyrinth dengan jumlah besar seperti yang biasa mereka lakukan, mereka memutuskan untuk mengirimkan unit yang lebih kecil dan elit dan mencoba untuk menunjukkan kalau mereka masih berusaha keras untuk menyelesaikan game nya. Laporan mengatakan kalau unit pertama akan segera muncul.”
“Jadi, mereka memamerkan kemampuan mereka. Tapi apa mereka akan baik-baik saja menerjang begitu saja ke area yang belum terjamah…? Mereka terlihat berlevel tinggi tapi…”
“Mungkin…mereka akan mencoba untuk mengalahkan boss…”
Dalam setiap labyrinth, ada satu boss yang menjaga tangga ke lantai selanjutnya.. Mereka tidak muncul lagi dan mereka sangat kuat, tapi reputasi dan popularitas yang didapat untuk mengalahkan mereka sangat besar. Itu pasti akan sangat efektif untuk mendapatkan kehormatan.
“Jadi mereka mengumpulkan orang-orang itu…? Tapi itu tetap bodoh. Masih belum ada orang yang pernah melihat boss dari lantai 74. Biasanya, orang-orang akan terus mengirimkan grup bantuan untuk menganalisa kekuatan dan gaya bertarung boss.”
“Yah, bahkan guild-guild bekerja sama untuk mengalahkan para boss. Mungkin mereka melakukan hal yang sama…?”
“Aku tidak tahu… Yah, mereka seharusnya juga tahu kalau mencoba melawan boss seperti ini akan sia-sia. Kita harus cepat. Kuharap kita tidak akan bertemu mereka disana.”
Aku bangun dan agak sedikit menyesal karena harus melepaskan Asuna. Asuna menggigil ketika dia keluar dari mantelku.
“Sekarang sudah hampir musim dingin… aku harus membeli sebuah mantel juga. Di toko mana kau membeli mantel itu?”
“Hmm…mungkin di toko pemain dibagian barat dari Algade.”
“Kalau begitu ajak aku kesana kalau kita sudah selesai menjelajah.”
Setelah mengatakan itu, Asuna melompat turun perlahan ke jalan setapak. Aku mengikutinya. Dengan bantuan sistem, ketinggian seperti ini tidak masalah bagiku.
Mataharinya sudah hampir berada di tempat tertinggi. Asuna dan aku menuruni jalan setapak dengan cepat sambil memperhatikan sekeliling kami.
Untungnya, kami bisa keluar dari hutan tanpa bertemu satu monster pun, dan padang rumput yang penuh dengan bunga biru muncul didepan kami. Jalan setapaknya lurus melewati padang rumput, dan pada ujung nya berdiri tegak Labyrinth Area.
Pada tempat tertinggi dari menara ini, akan ada ruang besar dan satu boss akan menjaga tangga menuju ke lantai selanjutnya-lantai 75. Jika boss nya sudah ditaklukkan dan seseorang sampai pada living area dari lantai selanjutnya dan mengaktifkan teleport gate, maka lantai ini akan clear.
<Pembukaan Kota> akan diselenggarakan oleh kerumunan besar orang-orang dari lantai bawah yang datang untuk melihat kota yang baru, dan seluruh tempat akan menjadi hidup seperti sebuah festival. sekarang ini, sudah sembilan hari sejak orang-orang mulai aktif menjelajah lantai 74. Sudah waktunya untuk seseorang menemukan boss nya.
Menara disini adalah bangunan melingkar yang terbuat dari batu kapur berwarna coklat kemerahan. Ini adalah tempat dimana aku dan Asuna pernah berada sebelumnya, tapi aku masih merasa terintimidasi dengan ukurannya yang besar. Meski begitu, ukurannya hanyalah satu per seratus dari Aincrad. Ini adalah harapan yang tidak mungkin terkabul, tapi, diam-diam, aku berharap untuk bisa melihat kastil melayang ini dari luar.
Kami tidak bisa melihat unit dari <The Army>. Mereka kemungkinan besar sudah berada di dalam. Kami berjalan menuju ke pintu masuk, mempercepat langkah kami tanpa sadar.
~TO BE CONTINUED~
Sambil menerobos melalui semak-semak tipis, Asuna berbicara dengan nada menyindir.
“Kau selalu memakai pakaian yang sama.”
Ah.
Aku melihat ke badanku: Sebuah jaket kulit hitam yang agak longgar, sepasang celana dan baju yang berwarna sama. Aku tidak mememakai equipment armor yang berbahan besi sedikitpun.
“Yah, memangnya kenapa? Jika aku punya uang lebih untuk membeli baju, lebih baik aku membeli sesuatu untuk dimakan…”
“Apa ada alasan kenapa kau yang kau pakai semuanya hitam? Atau itu hanya untuk menunjukkan ekspresi karaktermu?”
“B-bagaimana dengan kau sendiri? Kau selalu mengenakan jubah berwarna putih dan merah itu…”
Sambil berbicara, aku mulai menscan area sekitar karena kebiasaanku tanpa berpikir sama sekali. Tidak ada monster sama sekali disini. Tapi-
“Mau bagaimana lagi. Ini kan seragam gui…huh? Ada apa?”
“Tunggu sebentar…”
Aku mengangkat tangan kananku sedikit untuk mendiamkan Asuna. Ada seorang player di ujung dari daerah yang terkena scan. Ketika aku memfokuskan untuk menscan area dibelakangku, banyak cursor berwarna hijau yang mulai muncul, menunjukkan kalau ada banyak player disana.
Tidak mungkin itu kelompok perampok. Perampok selalu memburu player yang lebih lemah dari mereka, Jadi mereka sangat jarang terlihat disekitar garis depan, dimana semua player terkuat berkumpul. Yang lebih penting, ketika seorang player melakukan sebuah kejahatan, cursor mereka akan berubah menjadi oranye dan tidak akan kembali ke hijau dalam waktu yang lama. Apa yang aku khawatirkan adalah jumlah mereka.
Aku membuka peta dari menu utama dan menaruhnya dalam posisi show mode supaya Asuna bisa melihatnya. Peta dari area yang terkena scan ku menunjukkan cursor berwarna hijau. Mereka ada dua belas orang.
“Banyak sekali…”
Aku mengangguk mendengar apa yang dikatakan Asuna. Biasanya ketika ada terlalu banyak anggota dalam sebuah party, akan menjadi lebih sulit untuk bertarung, jadi lima atau enam orang adalah jumlah yang ideal.
“Lihat jumlah orangnya.”
Kumpulan cahaya itu dengan cepat menuju kearah sini dalam bentuk barisan dua garis yang rapi. Kecuali di dalam dungeon berbahaya, jarang sekali aku melihat grup besar yang kompak seperti itu di atas field.
Jika kami bisa melihat level anggotanya, kami mungkin bisa mengetahui apa yang mereka lakukan, tapi player bahkan tidak bisa melihat nama player lain yang baru mereka temui. Itu adalah sistem default yang dibuat untuk mencegah player melakukan PKing—membunuh player—dengan bebas, jadi itu hanya menyisakan kami pilihan untuk menebak level mereka dengan melihat equipment mereka.
Aku menutup map dan melirik kearah Asuna.
“Kita harus melihat siapa mereka. Ayo bersembunyi dibalik pepohonan hingga mereka lewat.”
“Ya, kau benar.”
Asuna mengangguk dengan ekspresi tegang. Kami memanjat ke sebuah tebing kecil dan menunduk dibalik sebuah semak-semak yang hampir setiggi badan kami. Itu adalah tempat yang bagus untuk mengamati grup itu ketika mereka lewat.
“Ah…”
Asuna tiba-tiba melihat kearah pakaiannya. Seragam merah dan putih nya agak mencolok diantara pohon-pohon hijau ini.
“Apa yang harus kulakukan? Aku tidak punya equipment lain…”
Titik-titik nya semakin mendekat. mereka sekarang sudah berada didalam jarak pandang kami.
“Maafkan aku sebentar.”
Aku membuka mantelku dan menggunakannya untuk menutupi Asuna juga. Asuna melotot kearahku sedikit tapi akhirnya mengizinkanku untuk menutupinya. Mantelnya tidak terlalu bagus untuk dilihat, tapi memberi sebuah bonus bersembunyi yang tinggi. Dengan ini, akan sulit untuk menyadari kami tanpa menggunakan skill scanning tingkat tinggi.
“Yah, mantel ini tidak terlalu bagus, tapi ini sangat berguna kan?”
“Tau ah! …shh, mereka datang!”
Asuna berbisik dan menaruh jarinya di bibirnya. Aku membungkuk lebih rendah dan suara langkah kaki terdengar di telingaku.
Perlahan, kami bisa melihat grup itu melewati jalan setapak.
Mereka semua adalah warrior. Semuanya menggunakan armor metal berwarna hitam dan pakaian bertarung berwarna hijau yang sama. Equipment mereka mempunyai desain yang normal, kecuali untuk gambar kastil di setiap perisai mereka yang mencolok.
Enam orang di depan mempunyai one-handed sword dan enam dibelakang mempunyai halberd. Mereka semua menurunkan penutup helm mereka, jadi kami tidak bisa melihat ekspresi mereka. Ketika kami melihat ke dua belas player berjalan dengan barisan sempurna, aku sempat berpikir kalau mereka adalah sebuah grup yang terdiri dari NPC.
Aku yakin sekarang. Mereka adalah anggota dari grup besar yang membuat kota di lantai pertama sebagai markas pusat mereka: <The Army>. Aku bisa merasakan kalau Asuna menahan napasnya.
Mereka bukan musuh bagi player biasa. Malahan, mereka bisa dianggap sebagai grup yang paling bekerja keras untuk menghentikan kejahatan.
Tapi cara mereka agak sedikit kasar, dan ada yang bilang kalau mereka menyerang player oranye—disebut begitu karena cursor mereka berwarna orange—segera setelah mereka ditemukan dan tanpa berkata apapun. Lalu mereka akan melucuti equipment para player oranye dan memenjarakan mereka di dalam ruang bawah tanah dari Black Iron Castle. Rumor tentang bagaimana <The Army> memperlakukan orang-orang yang tidak menyerah dan gagal melarikan diri agak menakutkan.
Mereka juga sering menjelajah dengan party beranggotakan banyak dan mengontrol seluruh daerah berburu, jadi kalimat "tidak boleh pergi mendekati <The Army>" menjadi pengetahuan umum diantara para player. Yah, mereka biasanya beroperasi di lantai lima puluhan dan dibawahnya, berusaha memperkuat grup mereka dan menegakkan hukum, jadi jarang sekali melihat mereka di garis depan-
Ke dua belas warrior menghilang kedalam hutan bersamaan dengan suara armor dan sepatu mereka.
Melihat cara semua player mendapatkan softwarenya, kau bisa bilang kalau sebagian besar orang yang terjebak didalam sao adalah maniak game, yang tidak peduli dengan kata <Peraturan> atau sejenisnya. Tapi kenyataan kalau mereka masih menunjukkan pergerakan yang teratur sangat hebat. Mereka mungkin adalah satuan terkuat dari <The Army>.
Setelah memastikan kalau mereka telah keluar dari batas peta, Asuna dan aku menghela napas lega.
“…rumornya, sungguhan…”
Aku berbisik pada Asuna saat mantelku masih menutupinya untuk bertanya.
“Rumor?”
“Ya. aku mendengar saat guild meeting kalau <The Army> mengubah cara mereka bekerja dan mulai muncul di lantai-lantai atas. Mereka pernah disebut sebagai grup yang mencoba untuk menyelesaikan gamenya kan? tapi setelah kerusakan yang mereka terima ketika melawan boss di lantai 25, mereka mulai memfokuskan untuk memperkuat grup mereka dan berhenti bertarung di garis depan. –Jadi, daripada pergi ke labyrinth dengan jumlah besar seperti yang biasa mereka lakukan, mereka memutuskan untuk mengirimkan unit yang lebih kecil dan elit dan mencoba untuk menunjukkan kalau mereka masih berusaha keras untuk menyelesaikan game nya. Laporan mengatakan kalau unit pertama akan segera muncul.”
“Jadi, mereka memamerkan kemampuan mereka. Tapi apa mereka akan baik-baik saja menerjang begitu saja ke area yang belum terjamah…? Mereka terlihat berlevel tinggi tapi…”
“Mungkin…mereka akan mencoba untuk mengalahkan boss…”
Dalam setiap labyrinth, ada satu boss yang menjaga tangga ke lantai selanjutnya.. Mereka tidak muncul lagi dan mereka sangat kuat, tapi reputasi dan popularitas yang didapat untuk mengalahkan mereka sangat besar. Itu pasti akan sangat efektif untuk mendapatkan kehormatan.
“Jadi mereka mengumpulkan orang-orang itu…? Tapi itu tetap bodoh. Masih belum ada orang yang pernah melihat boss dari lantai 74. Biasanya, orang-orang akan terus mengirimkan grup bantuan untuk menganalisa kekuatan dan gaya bertarung boss.”
“Yah, bahkan guild-guild bekerja sama untuk mengalahkan para boss. Mungkin mereka melakukan hal yang sama…?”
“Aku tidak tahu… Yah, mereka seharusnya juga tahu kalau mencoba melawan boss seperti ini akan sia-sia. Kita harus cepat. Kuharap kita tidak akan bertemu mereka disana.”
Aku bangun dan agak sedikit menyesal karena harus melepaskan Asuna. Asuna menggigil ketika dia keluar dari mantelku.
“Sekarang sudah hampir musim dingin… aku harus membeli sebuah mantel juga. Di toko mana kau membeli mantel itu?”
“Hmm…mungkin di toko pemain dibagian barat dari Algade.”
“Kalau begitu ajak aku kesana kalau kita sudah selesai menjelajah.”
Setelah mengatakan itu, Asuna melompat turun perlahan ke jalan setapak. Aku mengikutinya. Dengan bantuan sistem, ketinggian seperti ini tidak masalah bagiku.
Mataharinya sudah hampir berada di tempat tertinggi. Asuna dan aku menuruni jalan setapak dengan cepat sambil memperhatikan sekeliling kami.
Untungnya, kami bisa keluar dari hutan tanpa bertemu satu monster pun, dan padang rumput yang penuh dengan bunga biru muncul didepan kami. Jalan setapaknya lurus melewati padang rumput, dan pada ujung nya berdiri tegak Labyrinth Area.
Pada tempat tertinggi dari menara ini, akan ada ruang besar dan satu boss akan menjaga tangga menuju ke lantai selanjutnya-lantai 75. Jika boss nya sudah ditaklukkan dan seseorang sampai pada living area dari lantai selanjutnya dan mengaktifkan teleport gate, maka lantai ini akan clear.
<Pembukaan Kota> akan diselenggarakan oleh kerumunan besar orang-orang dari lantai bawah yang datang untuk melihat kota yang baru, dan seluruh tempat akan menjadi hidup seperti sebuah festival. sekarang ini, sudah sembilan hari sejak orang-orang mulai aktif menjelajah lantai 74. Sudah waktunya untuk seseorang menemukan boss nya.
Menara disini adalah bangunan melingkar yang terbuat dari batu kapur berwarna coklat kemerahan. Ini adalah tempat dimana aku dan Asuna pernah berada sebelumnya, tapi aku masih merasa terintimidasi dengan ukurannya yang besar. Meski begitu, ukurannya hanyalah satu per seratus dari Aincrad. Ini adalah harapan yang tidak mungkin terkabul, tapi, diam-diam, aku berharap untuk bisa melihat kastil melayang ini dari luar.
Kami tidak bisa melihat unit dari <The Army>. Mereka kemungkinan besar sudah berada di dalam. Kami berjalan menuju ke pintu masuk, mempercepat langkah kami tanpa sadar.
~TO BE CONTINUED~
Kamis, 08 Mei 2014
BOOK 1 AINCRAD, CHAPTER 7
Jam 9 pagi.
Cuaca hari ini settingnya agak mendung, dan kabut pagi yang menutupi kota masih belum hilang sepenuhnya. Cahaya dari luar yang memantul di kabut, mewarnai kota dengan warna kuning-lemon.
Menurut kalender Aincrad, bulan ini adalah <Month of the Ash Tree>, yang berarti sekarang sudah mendekati akhir musim gugur. Temperatur yang sedikit dingin membuat bulan ini sebagai bulan yang paling menyegarkan di tahun ini. Tapi sekarang ini, aku merasa tidak begitu menyukai cuacanya.
Aku sedang menunggu Asuna di gate plaza di area pemukiman dari lantai 74. Entah kenapa aku tidak bisa tidur semalam, dan yang kulakukan di atas kasurku adalah berguling kesana kemari. Kupikir aku akhirnya bisa tertidur sekitar jam tiga pagi lewat sedikit. Ada banyak sekali fungsi di SAO yang bisa membantu player tapi sayangnya tombol yang bisa membuatmu tertidur tidak termasuk kedalamnya.
Anehnya, justru kebalikannya ada. Di dalam option yang berhubungan dengan waktu di menu, ada sesuatu yang disebut <Alarm Clock> yang memaksa pemain untuk bangun dari tidur mereka. Tentu saja pilihan untuk bangun atau atau tidak sepenuhnya ada pada keputusanmu, tapi aku berhasil mengumpulkan cukup tekad untuk merangkak keluar dari kasurku ketika sistemnya membangunkanku jam sembilan kurang sepuluh menit.
Mungkin untuk membantu para pemain yang malas, pemain tidak harus mandi ataupun mengganti baju di game ini—meski begitu ada beberapa pemain yang sepertinya tetap mandi setiap harinya. Tapi karena mereplika air itu sangat sulit bahkan bagi Nerve Gear, maka di SAO tidak ada mandi yang seperti di dunia nyata. Setelah bangun sedikit dekat dengan waktu janjian, aku memakai semua equipment ku dalam waktu dua puluh detik, dan berjalan menuju teleport gate di Algade dan teleport menuju ke lantai 74 dengan sedikit santai, dan sedikit jengkel karena kurang tidur, tapi-
“Dia terlambat…”
Sekarang sudah jam sembilan lewat sepuluh menit. Para pemain yang rajin mulai muncul dari gerbang dan berjalan menuju ke Labyrinth area sedikit demi sedikit.
Tanpa ada kegiatan apapun, aku melihat kearah peta labyrinth dan level skill, dan stats ku yang sebagian besar sudah aku ingat.
Ahh, kuharap aku punya game portable atau sejenisnya.
Aku tertegun dan tak bisa berkata apa-apa karena pikiran itu. Berharap bisa main game didalam game, aku menjadi semakin parah saja.
Apakah aku boleh pulang dan kembali tidur... Aku bahkan mulai berpikir seperti itu. Efek teleport berwarna biru lainnya kembali muncul didalam gerbang entah sudah yang keberapa kalinya. Aku melihat tanpa terlalu berharap. Tapi kemudian-
“Kyaaaaa! Tolong minggir dari situ-!”
“Ahhhhhh!?”
Biasanya pemain yang teleport muncul diatas tanah, tapi orang ini muncul satu meter diatas udara dan—terbang menuju kearahku.
“Huh, huh…!?”
Tidak mempunyai waktu untuk menangkap atau menghindar, kami bertabrakan dan terjatuh ke tanah. Bagian belakang kepalaku memembentur lantai batu dengan keras. Jika aku tidak berada di safe area, beberapa titik dari HP ku pasti akan menghilang.
Ini berarti—sepertinya, pemain bodoh ini melompat ke dalam gate di sisi lain dan muncul seperti itu disini. Pikiran itu muncul didalam kepalaku. Masih sedikit pusing, aku mengangkat tanganku dan memegang orang bodoh diatasku untuk mendorongnya bangun.
“…hmm?”
Aku merasakan sesuatu yang aneh dan kenyal ditanganku. Aku meremasnya dua, tiga kali untuk memastikan apa benda kenyal dan elastis yang ada di tanganku.
“K-Kya-!!”
Tiba-tiba sebuah teriakan keras terdengar di telingaku dan kepalaku membentur lantai lagi. Pada saat yang sama, berat yang menimpa tubuhku menghilang.
Di depanku, ada seorang pemain wanita yang duduk di lantai, mengenakan seragam knight berwarna putih dengan lambang merah diatasnya dan sebuah rok mini selutut, dengan sebuah rapier berwarna perak-putih di sarung pedangnya. Dan entah kenapa, dia melotot kearahku dengan mata yang terlihat sangat marah. Wajahnya mengalami efek emosi tertinggi dan seluruh wajahnya memerah hingga ke telinganya, dan kedua tangannya menyilang untuk melindungi dadanya-…dada…?
Aku segera sadar apa yang baru saja kuremas dengan tangan kananku. Pada saat yang sama aku menyadari, agak sedikit terlambat, kalau aku sedang berada dalam situasi yang berbahaya. Semua langkah menghindari bahaya yang sudah kulatih di kepalaku menghilang. Sambil membuka dan menutup tangan kananku, tanpa tahu harus melakukan apa denganna, Aku membuka mulutku.
“H-Hey. Selamat pagi, Asuna.”
Kemarahan di matanya terlihat lebih jelas lagi. Itu adalah mata dari orang yang sudah berniat untuk mengeluarkan senjata mereka.
Aku mulai berpikir apakah perlu untuk <kabur> ketika gerbangnya kembali bersinar biru lagi. Asuna melihat kebelakang dengan ekspresi terkejut dan buru-buru bangun untuk bersembunyi dibelakangku.
“Eh…?”
Tanpa tahu apa-apa, aku ikut berdiri. Gerbangnya bersinar semakin terang ketika seseorang muncul ditengahnya. Kali ini playernya muncul diatas tanah.
Ketika cahayanya memudar, aku mengenali wajah orang yang muncul itu, dan jubah putih dengan symbol merah diatasnya. Orang itu, orang yang mengenakan seragam KoB dan membawa pedang yang terlihat sedikit terlalu dihiasi, adalah pengawal berambut panjang yang mengikuti Asuna berkeliling kemarin. Namanya kalau tidak salah adalah Kuradeel atau apalah itu.
Kuradeel semakin menggerutu ketika dia melihat Asuna dibelakangku. Dia tidak terlihat begitu tua. Dia mungkin baru berumur sekitar dua puluh tahunan, tapi kerutan diwajahnya membuatnya terlihat lebih tua. Dia menggertakkan giginya dengan keras hingga kami hampir bisa mendengarnya dan berbicara dengan suara yang terdengar sedikit marah.
“A…Asuna-sama, kau tidak boleh bertindak semaumu seperti ini…!”
Ketika aku mendengar suara histerisnya, aku berpikir Ini pasti akan merepotkan dan menurunkan bahuku sedikit. Dengan matanya yang sipit itu memandangku dengan tajam, Kuradeel berbicara lagi.
“Ayo, Asuna-sama, kita kembali ke markas pusat.”
“Tidak. Aku bahkan tidak sedang bertugas hari ini! …dan Kuradeel, kenapa kau berdiri di depan rumahku pagi-pagi sekali?”
Asuna menjawab dengan marah dibelakangku.
“Fufu, aku tahu kalau situasi seperti ini akan terjadi, makanya aku mulai pergi ke Salemburg untuk mengawasi rumahmu sejak sebulan yang lalu.”
Aku hanya bisa terkejut mendengar jawaban bangga Kuradeel. Asuna juga kaget. Setelah kesunyian selama beberapa saat Asuna berbicara dengan suara yang agak dipaksakan.
“Itu…itu bukan bagian dari perintah ketua kan…?”
“Tugasku adalah untuk mengawalmu, Asuna-sama. Mengawasi rumahmu juga termasuk kedalam…”
“Apa yang kau maksudkan dengan termasuk, idiot!”
Kuradeel berjalan mendekat dengan ekspresi yang semakin marah dan jengkel, lalu mendorongku dan menarik tangan Asuna.
“Kau sepertinya tidak mengerti. Tolong jangan seperti ini. …sekarang ayo kembali ke markas.”
Asuna terlihat ketakutan mendengar suara yang terdengar seperti menyembunyikan sesuatu itu. Dia melihatku dengan pandangan memohon.
Sejujurnya aku berpikir untuk kabur seperti yang selama ini aku lakukan hingga sekarang. Tapi begitu melihat mata Asuna, tanganku mulai bergerak dengan sendirinya. Aku memegang tangan kanan Kuradeel, tangan yang menarik Asuna, dan menguatkan tenaga di tanganku tepat sebelum crime prevention code nya aktif.
“Maaf, tapi aku akan meminjam wakil ketuamu untuk hari ini.”
Kalimat itu terdengar bodoh bahkan ditelingaku, tapi aku tidak bisa mundur sekarang. Kuradeel, yang sengaja mengabaikanku hingga sekarang, mengerutkan wajahnya dan menarik tangannya menjauh.
“Kau…!”
Dia berteriak dengan suara yang sedikti serak. Bahkan jika sistemnya melebih-lebihkan ekspresi pemain, masih ada sesuatu yang aneh dibalik suaranya.
“Aku akan menjamin keselamatan Asuna. Ini tidak seperti kalau kami akan melawan boss hari ini. Kau bisa kembali ke markas sendiri.”
“J…Jangan bercanda denganku!! Kau pikir pemain payah sepertimu bisa melindungi Asuna-sama!!”
“Lebih baik daripadamu, pastinya.”
“K-Kau kurang ajar…! J-Jika kau bisa berbicara sombong seperti itu berarti kau sudah siap dengan konsekuensinya kan…?”
Kuradeel, dengan wajahnya yang semakin putih, memanggil layar menu dengan tangan kanannya dan memanipulasinya dengan cepat. Lalu ada sebuah system message yang agak tembus pandang muncul didepanku. Aku sudah bisa mengira apa itu sebelum aku membacanya.
[Sebuah duel 1-lawan-1 telah diminta oleh Kuradeel. Apa kau menerimanya?]
Dibawah pesan yang tak berekspresi itu terdapat tombol Yes/No dan beberapa option lain. Aku melirik kesamping kearah Asuna. Dia tidak bisa melihat ke pesannya tapi dia terlihat telah mengerti apa yang terjadi. Kupikir dia akan mencoba menghentikanku, tapi mengejutkannya dia mengangguk dengan sedikit ekspresi kaku diwajahnya.
“…apa ini boleh? Tidakkah ini akan membuat masalah ke guild mu…?”
Asuna menjawab pertanyaan bisikanku dengan bisikan juga.
“Tidak apa-apa. Aku akan melaporkan sendiri hal ini ke ketua.”
Aku mengangguk, lalu menekan tombol Yes dan memilih option <First Strike Mode>.
Ini adalah duel yang bisa dimenangkan dengan mendaratkan satu pukulan telak atau dengan mengurangi HP musuh hingga setengah. Pesannya berubah menjadi [Kau telah menerima duel 1-lawan-1 dengan Kuradeel], dan sebuah hitungan mundur muncul 60 detik muncul dibawahnya. Disaat angkanya mencapai nol, HP protection system yang ada di dalam kota akan dihilangkan sementara, dan dia dan aku akan bisa beradu pedang hingga salah satu dari kami menang.
Kuradeel sepertinya telah menafsirkan kalau Asuna setuju.
“Tolong lihat, Asuna-sama! Aku akan membuktikan kalau tidak ada orang selain aku yang lebih baik untuk mengawalmu!”
Dia berteriak dengan ekspresi yang hanya bisa menutupi kesenangannya sedikit, menarik keluar two-handed sword besarnya dari pinggangnya, dan bersiap dengan suara pedang berbunyi 'clank'.
Aku memastikan kalau Asuna telah mundur sedikit jauh sebelum aku menarik one-handed sword ku dari punggungku. Seperti yang bisa diduga dari anggota guild terkenal, pedangnya terlihat jauh lebih bagus dari punyaku. Bukan hanya perbedaan ukuran antara one-handed dan two-handed sword, tapi juga pedangku hanyalah senjata simple, sedangkan pedangnya telah didekorasi penuh oleh seorang top class craftsman.
Ketika kami berdiri sejauh lima meter, menunggu hitung mundurnya untuk berakhir, orang-orang mulai berkumpul disekitar kami. Ini tidak begitu aneh. Ini adalah gerbang plaza di tengah kota, dan kami berdua adalah player yang lumayan terkenal.
“Solo Kirito dan seorang anggota KoB akan duel!”
Ketika seseorang meneriakkan kalimat itu, sorakan terdengar disana-sini. Karena duel biasanya adalah untuk membandingkan skillmu dengan seorang teman, semua penonton bersorak dan bersiul, tidak peduli akan situasi yang menyebabkan semua ini.
Tapi saat timer nya mulai mendekati nol, semua suara mulai menghilang. Aku merasa benang dingin melintas melewati tubuhku seperti ketika aku bertarung dengan monster. Aku memfokuskan diri untuk membaca suasana di sekitar Kuradeel, yang melihat kesana kemari karena jengkel, dan memeriksa cara berdirinya dan bagaimana kakinya bergerak.
Manusia biasanya menunjukkan kebiasaan tertentu saat mereka akan menggunakan sebuah skill. Apakah itu adalah skill menerjang atau bertahan, atau jika dia akam memulai dari bawah atau dari atas, jika tubuh mereka menunjukan ciri-ciri seperti itu maka itu akan menjadi kelemahan yang fatal.
Pedang Kuradeel sedikit condong kebelakang di bagian tengah tubuhnya dan bagian bawah tubuhnya membongkok kebawah. Itu jelas-jelas tanda kalau dia akan menggunakan serangan menerjang dari atas. Tentu saja, itu mungkin adalah tipuan. Aku sendiri sebenarnya bersikap dengan pedangku di postur yang rendah dan relax, memberikan kesan kalau serangan pertamaku adalah serangan lemah kebagian bawah tubuhnya. Kau hanya bisa mengandalkan pengalaman dan "perasaan"mu ketika mencari tipuan.
Ketika hitung mundurnya memasuki satu digit, aku menutup windownya. Aku bahkan tidak bisa mendengar suara di sekelilingku lagi.
Aku melihat Kuradeel, yang sejak tadi melirik dari arahku ke window dan kembali lagi, menjadi kaku ketika otot tubuhnya menjadi tegang. Kata [DUEL!!] muncul diantara kami dan aku melompat. Percikan api muncul dari bawah sepatuku dan udara berbunyi ketika bahuku memotong melewatinya.
Kuradeel juga bergerak bersamaan denganku. Tapi ada ekspresi kaget di wajahnya, karena aku telah menghancurkan dugaannya kalau aku akan menyerang dengan skill serangan rendah tipe bertahan dan menerjang.
Serangan pertama Kuradeel, seperti yang kuduga, sebuah serangan tinggi two-handed sword charge skill: <Avalanche>. Jika pertahanan terlalu lemah, si penahan mungkin bisa memblok serangannya tapi tidak bisa segera melakukan counterattack karena benturannya, sedangkan player yang menggunakannya bisa mempersiapkan gaya berdirinya lagi, karena terjangannya membuat jarak diantara mereka. Itu adalah sebuah skill level tinggi yang sangat bagus. Yah setidaknya untuk melawan monster.
Aku, yang sudah membaca apa yang akan dilakukan Kuradeel, memilih skill tipe menerjang <Sonic Leap>. Jika kami berdua terus menerjang, skill kami akan beradu.
Jika kita melihat hanya dari kekuatan skill, dialah yang lebih kuat, dan systemnya akan menguntungkan skill yang lebih berat jika dua serangan beradu. Jika begitu pedangku akan dipantulkan dan skillnya akan mengenaiku, sedikit diperlemah tapi masih cukup untuk mengahiri duel. Tapi aku tidak mengincar Kuradeel.
Jarak diantara kami semakin menyempit dengan cepat. Tetapi persepsiku juga sudah semakin cepat, dan aku merasa seperti waktu menjadi semakin pelan. Aku tidak yakin jika ini adalah hasil dari system atau ini adalah kemampuan yang dimiliki manusia. Yang kutahu adalah aku bisa melihat semua gerakannya.
Pedangnya, yang condong kebelakang, mulai mengeluarkan sinar orange dan menuju kearahku dengan cepat. Stats nya pasti agak tinggi, seperti yang bisa kau bayangkan dari anggota guild terbaik, tapi waktu yang dibutuhkan skillnya untuk dimulai lebih cepat dari dugaanku. Pedang yang bersinar terang itu menuju kearahku. Jika aku mengenai skill itu dengan telak tanpa ragu lagi aku akan menerima damage yang cukup untuk mengakhiri duel. Wajah Kuradeel menunjukkan kenikmatan dari kemenangan yang terlihat di depan mata. Tapi- Pedangku, dengan bagian kepalanya duluan, bergerak agak lebih cepat, membuat sebuah garis hijau dan mengenai pedangnya sebelum serangan dia berakhir. Systemnya mengkalkulasikan damage yang dihasilkan oleh pedangku, dan menciptakan percikan yang besar.
Hasil lain dari dua senjata beradu adalah <Weapon Break>. Itu hanya mungkin terjadi ketika sebuah senjata menerima pukulan berat dibagian lemah strukturnya.
Tapi aku yakin kalau senjatanya akan hancur. Senjata dengan dekorasi yang terlalu banyak punya ketahanan yang rendah.
Seperti yang kuduga—dengan sebuah suara yang menyakitkan telinga—pedang two-handed Kuradeel patah. Muncul efek seperti ledakan.
Kami melewati satu sama lain ditengah udara dan mendarat ditempat orang yang satunya melompat. Setengah bagian yang patah dari pedangnya berputar diudara, memantulkan sinar matahari, sebelum tertancap di lantai batu diantara kami. Setelah itu, patahan yang ada di lantai dan di tangan Kuradeel pecah menjadi polygon fragment.
Kesunyian menguasai plaza selama beberapa saat. Semua penonton membeku dengan mulut mereka yang terbuka lebar. Tapi ketika aku mendarat, berdiri, dan mengayunkan pedangku dari kiri ke kanan karena kebiasaan, mereka mulai bersorak.
“Hebat!”
“Apa dia mungkin mengincar hal itu!?”
Ketika aku mendengar semua orang mulai mengkritik pertarungan singkat itu, aku menghela napas. Bahkan jika itu hanya satu skill, menunjukkan bahkan hanya satu kartu dari tanganku bukanlah sesuatu yang bisa kugembirakan.
Dengan pedang di tanganku aku mulai berjalan kearah Kuradeel terduduk dengan punggungnya yang mebelakangiku. Punggungnya, yang ditutupi oleh jubah putih, bergetar dengan keras. Setelah menyarungkan pedangku dengan suara kencang yang disengaja, aku berkata dengan suara pelan.
“Jika kau ingin menantangku lagi dengan senjata baru aku akan melawanmu lagi…tapi ini sudah cukup kan?”
Kuradeel bahkan tidak mencoba untuk melihat kearahku. Dia menggoncangkan tangannya di lantai seperti orang gila. Tapi dia mengatakan dengan suara yang bergetar “Aku mundur dari pertarungan.” Seharusnya dia bisa mengatakan <Aku menyerah> atau <Aku kalah> kan.
Segera setelahnya, sebaris dari garis berwarna ungu muncul tepat dimana itu pertama muncul ketika itu menunjukkan saat pertarungan dimulai, kali ini menunjukkan kalau pertarungan telah berakhir dan pemenangnya. Sorakan lainnya terdengar, kemudian Kuradeel berdiri terhuyung dan berteriak pada para penonton.
“Apa yang kalian lihat! Pergi kalian!”
Lalu dia berbalik perlahan kearahku.
“Kau… Aku akan membunuhmu… Aku pasti akan membunuhmu…”
Aku tidak bisa menyangkal kalau aku agak takut dengan mata itu.
Emosi di SAO terasa sedikit berlebihan, tapi dengan kebencian yang terlihat di mata sipit Kuradeel, matanya terlihat lebih menyeramkan dari monster.
Seseorang berdiri di sampingku ketika aku terkejut.
“Kuradeel, Aku memerintahkanmu sebagai wakil ketua dari Knights of the Blood. Aku membebas tugaskanmu dari jabatan sebagai pengawal. Kembalilah ke markas dan tunggu disana hingga ada perintah lebih lanjut.”
Kata-kata dan ekspresi Asuna keduanya dingin. Tapi aku merasa ada rasa stress dibalik suaranya dan tanpa sadar memegang pundaknya. Asuna sedikit menyandarkan tubuhnya yang tegang.
“…ap…apa-apaan…ini…”
Suara itu sedikit terdengar di telinga kami. Sisanya, mungkin sekumpulan kata kutukan yang tidak keluar dari mulutnya. Kuradeel melotot kearah kami. Tidak salah lagi dia berpikir untuk menyerang kami dengan senjata cadangannya, meskipun dia tahu kalau crime prevention code akan menghentikannya.
Tapi dia bisa menahan diri dan mengambil keluar sebuah teleport crystal dari dalam jubahnya. Dia mengangkatnya, menggenggamnya dengan begitu kuat hingga aku berpikir kalau itu akan hancur, dan bergumam “Teleport…Grandum.” Dia memeloloti kami dengan kebencian bahkan ketika badannya mulai menghilang didalam cahaya biru.
Ketika cahayanya menghilang, sebuah kesunyian yang menusuk menyebar di sekitar plaza. Para penonton terlihat kaget dengan kemarahan Kuradeel, tapi mereka segera pergi dalam kelompok-kelompok kecil. Pada akhirnya hanya aku dan Asuna sajalah yang tertinggal.
Apa yang harus aku katakan? Pikiran itu berputar-putar dikepalaku, tapi karena aku telah hidup sendiri selama dua tahun, tidak ada satupun hal berguna yang muncul di pikiranku. Aku bahkan merasa tidak ingin memastikan apa aku melakukan hal yang benar atau tidak.
Lalu akhirnya Asuna berjalan dan mulai berbicara dengan suara yang rapuh.
“…maaf. Aku membuatmu terlibat dalam hal ini.”
“Tidak…Aku sih tidak apa-apa, Tapi apa kau akan baik-baik saja?”
Menggelengkan kepalanya perlahan, si wakil ketua dari guild terkuat memberikan senyuman yang bersemangat tapi lemah.
“Yeah, Kupikir aku juga salah karena memaksakan peraturan guild kepada semuanya dengan keras demi menyelesaikan game nya lebih cepat lagi…”
“Kupikir…wajar kau melakukan hal seperti itu. Jika mereka tidak mempunyai orang sepertimu kecepatan menyelesaikan game ini akan sangat berkurang. Yah, itu bukan hal yang bisa dikatakan oleh player solo pemalas sepertiku…ah, aku tidak bermaksud begitu.”
Aku bahkan tidak tahu apa yang ingin kukatakan lagi, jadi aku mengatakan apapun yang muncul di kepalaku.
“…jadi, tidak ada yang akan protes, jika kau…mengambil cuti sementara dengan seseorang yang tidak memikirkan apapun sepertiku.”
Mendengar kata-kata itu Asuna berkedip beberapa kali dengan ekspresi bingung, lalu dia tersenyum yang agak pahit dan mengendurkan raut wajahnya.
“…yah, aku mengucapkan terima kasih. Kalau begitu aku akan menikmati hari ini sebanyak yang aku bisa. Aku akan mempercayakan posisi menyerang padamu.”
Dia berbalik dengan semangat dan mulai berjalan melewati jalan yang menuju keluar kota.
“Apa? Hey! Menyerang kan seharusnya dilakukan bergantian!”
Bahkan ketika aku mengkomplain, aku menghela napas karena lega dan ikut berjalan kearah rambut berwarna coklat-chestnut yang tertiup angin dengan perlahan.
~TO BE CONTINUED~
Cuaca hari ini settingnya agak mendung, dan kabut pagi yang menutupi kota masih belum hilang sepenuhnya. Cahaya dari luar yang memantul di kabut, mewarnai kota dengan warna kuning-lemon.
Menurut kalender Aincrad, bulan ini adalah <Month of the Ash Tree>, yang berarti sekarang sudah mendekati akhir musim gugur. Temperatur yang sedikit dingin membuat bulan ini sebagai bulan yang paling menyegarkan di tahun ini. Tapi sekarang ini, aku merasa tidak begitu menyukai cuacanya.
Aku sedang menunggu Asuna di gate plaza di area pemukiman dari lantai 74. Entah kenapa aku tidak bisa tidur semalam, dan yang kulakukan di atas kasurku adalah berguling kesana kemari. Kupikir aku akhirnya bisa tertidur sekitar jam tiga pagi lewat sedikit. Ada banyak sekali fungsi di SAO yang bisa membantu player tapi sayangnya tombol yang bisa membuatmu tertidur tidak termasuk kedalamnya.
Anehnya, justru kebalikannya ada. Di dalam option yang berhubungan dengan waktu di menu, ada sesuatu yang disebut <Alarm Clock> yang memaksa pemain untuk bangun dari tidur mereka. Tentu saja pilihan untuk bangun atau atau tidak sepenuhnya ada pada keputusanmu, tapi aku berhasil mengumpulkan cukup tekad untuk merangkak keluar dari kasurku ketika sistemnya membangunkanku jam sembilan kurang sepuluh menit.
Mungkin untuk membantu para pemain yang malas, pemain tidak harus mandi ataupun mengganti baju di game ini—meski begitu ada beberapa pemain yang sepertinya tetap mandi setiap harinya. Tapi karena mereplika air itu sangat sulit bahkan bagi Nerve Gear, maka di SAO tidak ada mandi yang seperti di dunia nyata. Setelah bangun sedikit dekat dengan waktu janjian, aku memakai semua equipment ku dalam waktu dua puluh detik, dan berjalan menuju teleport gate di Algade dan teleport menuju ke lantai 74 dengan sedikit santai, dan sedikit jengkel karena kurang tidur, tapi-
“Dia terlambat…”
Sekarang sudah jam sembilan lewat sepuluh menit. Para pemain yang rajin mulai muncul dari gerbang dan berjalan menuju ke Labyrinth area sedikit demi sedikit.
Tanpa ada kegiatan apapun, aku melihat kearah peta labyrinth dan level skill, dan stats ku yang sebagian besar sudah aku ingat.
Ahh, kuharap aku punya game portable atau sejenisnya.
Aku tertegun dan tak bisa berkata apa-apa karena pikiran itu. Berharap bisa main game didalam game, aku menjadi semakin parah saja.
Apakah aku boleh pulang dan kembali tidur... Aku bahkan mulai berpikir seperti itu. Efek teleport berwarna biru lainnya kembali muncul didalam gerbang entah sudah yang keberapa kalinya. Aku melihat tanpa terlalu berharap. Tapi kemudian-
“Kyaaaaa! Tolong minggir dari situ-!”
“Ahhhhhh!?”
Biasanya pemain yang teleport muncul diatas tanah, tapi orang ini muncul satu meter diatas udara dan—terbang menuju kearahku.
“Huh, huh…!?”
Tidak mempunyai waktu untuk menangkap atau menghindar, kami bertabrakan dan terjatuh ke tanah. Bagian belakang kepalaku memembentur lantai batu dengan keras. Jika aku tidak berada di safe area, beberapa titik dari HP ku pasti akan menghilang.
Ini berarti—sepertinya, pemain bodoh ini melompat ke dalam gate di sisi lain dan muncul seperti itu disini. Pikiran itu muncul didalam kepalaku. Masih sedikit pusing, aku mengangkat tanganku dan memegang orang bodoh diatasku untuk mendorongnya bangun.
“…hmm?”
Aku merasakan sesuatu yang aneh dan kenyal ditanganku. Aku meremasnya dua, tiga kali untuk memastikan apa benda kenyal dan elastis yang ada di tanganku.
“K-Kya-!!”
Tiba-tiba sebuah teriakan keras terdengar di telingaku dan kepalaku membentur lantai lagi. Pada saat yang sama, berat yang menimpa tubuhku menghilang.
Di depanku, ada seorang pemain wanita yang duduk di lantai, mengenakan seragam knight berwarna putih dengan lambang merah diatasnya dan sebuah rok mini selutut, dengan sebuah rapier berwarna perak-putih di sarung pedangnya. Dan entah kenapa, dia melotot kearahku dengan mata yang terlihat sangat marah. Wajahnya mengalami efek emosi tertinggi dan seluruh wajahnya memerah hingga ke telinganya, dan kedua tangannya menyilang untuk melindungi dadanya-…dada…?
Aku segera sadar apa yang baru saja kuremas dengan tangan kananku. Pada saat yang sama aku menyadari, agak sedikit terlambat, kalau aku sedang berada dalam situasi yang berbahaya. Semua langkah menghindari bahaya yang sudah kulatih di kepalaku menghilang. Sambil membuka dan menutup tangan kananku, tanpa tahu harus melakukan apa denganna, Aku membuka mulutku.
“H-Hey. Selamat pagi, Asuna.”
Kemarahan di matanya terlihat lebih jelas lagi. Itu adalah mata dari orang yang sudah berniat untuk mengeluarkan senjata mereka.
Aku mulai berpikir apakah perlu untuk <kabur> ketika gerbangnya kembali bersinar biru lagi. Asuna melihat kebelakang dengan ekspresi terkejut dan buru-buru bangun untuk bersembunyi dibelakangku.
“Eh…?”
Tanpa tahu apa-apa, aku ikut berdiri. Gerbangnya bersinar semakin terang ketika seseorang muncul ditengahnya. Kali ini playernya muncul diatas tanah.
Ketika cahayanya memudar, aku mengenali wajah orang yang muncul itu, dan jubah putih dengan symbol merah diatasnya. Orang itu, orang yang mengenakan seragam KoB dan membawa pedang yang terlihat sedikit terlalu dihiasi, adalah pengawal berambut panjang yang mengikuti Asuna berkeliling kemarin. Namanya kalau tidak salah adalah Kuradeel atau apalah itu.
Kuradeel semakin menggerutu ketika dia melihat Asuna dibelakangku. Dia tidak terlihat begitu tua. Dia mungkin baru berumur sekitar dua puluh tahunan, tapi kerutan diwajahnya membuatnya terlihat lebih tua. Dia menggertakkan giginya dengan keras hingga kami hampir bisa mendengarnya dan berbicara dengan suara yang terdengar sedikit marah.
“A…Asuna-sama, kau tidak boleh bertindak semaumu seperti ini…!”
Ketika aku mendengar suara histerisnya, aku berpikir Ini pasti akan merepotkan dan menurunkan bahuku sedikit. Dengan matanya yang sipit itu memandangku dengan tajam, Kuradeel berbicara lagi.
“Ayo, Asuna-sama, kita kembali ke markas pusat.”
“Tidak. Aku bahkan tidak sedang bertugas hari ini! …dan Kuradeel, kenapa kau berdiri di depan rumahku pagi-pagi sekali?”
Asuna menjawab dengan marah dibelakangku.
“Fufu, aku tahu kalau situasi seperti ini akan terjadi, makanya aku mulai pergi ke Salemburg untuk mengawasi rumahmu sejak sebulan yang lalu.”
Aku hanya bisa terkejut mendengar jawaban bangga Kuradeel. Asuna juga kaget. Setelah kesunyian selama beberapa saat Asuna berbicara dengan suara yang agak dipaksakan.
“Itu…itu bukan bagian dari perintah ketua kan…?”
“Tugasku adalah untuk mengawalmu, Asuna-sama. Mengawasi rumahmu juga termasuk kedalam…”
“Apa yang kau maksudkan dengan termasuk, idiot!”
Kuradeel berjalan mendekat dengan ekspresi yang semakin marah dan jengkel, lalu mendorongku dan menarik tangan Asuna.
“Kau sepertinya tidak mengerti. Tolong jangan seperti ini. …sekarang ayo kembali ke markas.”
Asuna terlihat ketakutan mendengar suara yang terdengar seperti menyembunyikan sesuatu itu. Dia melihatku dengan pandangan memohon.
Sejujurnya aku berpikir untuk kabur seperti yang selama ini aku lakukan hingga sekarang. Tapi begitu melihat mata Asuna, tanganku mulai bergerak dengan sendirinya. Aku memegang tangan kanan Kuradeel, tangan yang menarik Asuna, dan menguatkan tenaga di tanganku tepat sebelum crime prevention code nya aktif.
“Maaf, tapi aku akan meminjam wakil ketuamu untuk hari ini.”
Kalimat itu terdengar bodoh bahkan ditelingaku, tapi aku tidak bisa mundur sekarang. Kuradeel, yang sengaja mengabaikanku hingga sekarang, mengerutkan wajahnya dan menarik tangannya menjauh.
“Kau…!”
Dia berteriak dengan suara yang sedikti serak. Bahkan jika sistemnya melebih-lebihkan ekspresi pemain, masih ada sesuatu yang aneh dibalik suaranya.
“Aku akan menjamin keselamatan Asuna. Ini tidak seperti kalau kami akan melawan boss hari ini. Kau bisa kembali ke markas sendiri.”
“J…Jangan bercanda denganku!! Kau pikir pemain payah sepertimu bisa melindungi Asuna-sama!!”
“Lebih baik daripadamu, pastinya.”
“K-Kau kurang ajar…! J-Jika kau bisa berbicara sombong seperti itu berarti kau sudah siap dengan konsekuensinya kan…?”
Kuradeel, dengan wajahnya yang semakin putih, memanggil layar menu dengan tangan kanannya dan memanipulasinya dengan cepat. Lalu ada sebuah system message yang agak tembus pandang muncul didepanku. Aku sudah bisa mengira apa itu sebelum aku membacanya.
[Sebuah duel 1-lawan-1 telah diminta oleh Kuradeel. Apa kau menerimanya?]
Dibawah pesan yang tak berekspresi itu terdapat tombol Yes/No dan beberapa option lain. Aku melirik kesamping kearah Asuna. Dia tidak bisa melihat ke pesannya tapi dia terlihat telah mengerti apa yang terjadi. Kupikir dia akan mencoba menghentikanku, tapi mengejutkannya dia mengangguk dengan sedikit ekspresi kaku diwajahnya.
“…apa ini boleh? Tidakkah ini akan membuat masalah ke guild mu…?”
Asuna menjawab pertanyaan bisikanku dengan bisikan juga.
“Tidak apa-apa. Aku akan melaporkan sendiri hal ini ke ketua.”
Aku mengangguk, lalu menekan tombol Yes dan memilih option <First Strike Mode>.
Ini adalah duel yang bisa dimenangkan dengan mendaratkan satu pukulan telak atau dengan mengurangi HP musuh hingga setengah. Pesannya berubah menjadi [Kau telah menerima duel 1-lawan-1 dengan Kuradeel], dan sebuah hitungan mundur muncul 60 detik muncul dibawahnya. Disaat angkanya mencapai nol, HP protection system yang ada di dalam kota akan dihilangkan sementara, dan dia dan aku akan bisa beradu pedang hingga salah satu dari kami menang.
Kuradeel sepertinya telah menafsirkan kalau Asuna setuju.
“Tolong lihat, Asuna-sama! Aku akan membuktikan kalau tidak ada orang selain aku yang lebih baik untuk mengawalmu!”
Dia berteriak dengan ekspresi yang hanya bisa menutupi kesenangannya sedikit, menarik keluar two-handed sword besarnya dari pinggangnya, dan bersiap dengan suara pedang berbunyi 'clank'.
Aku memastikan kalau Asuna telah mundur sedikit jauh sebelum aku menarik one-handed sword ku dari punggungku. Seperti yang bisa diduga dari anggota guild terkenal, pedangnya terlihat jauh lebih bagus dari punyaku. Bukan hanya perbedaan ukuran antara one-handed dan two-handed sword, tapi juga pedangku hanyalah senjata simple, sedangkan pedangnya telah didekorasi penuh oleh seorang top class craftsman.
Ketika kami berdiri sejauh lima meter, menunggu hitung mundurnya untuk berakhir, orang-orang mulai berkumpul disekitar kami. Ini tidak begitu aneh. Ini adalah gerbang plaza di tengah kota, dan kami berdua adalah player yang lumayan terkenal.
“Solo Kirito dan seorang anggota KoB akan duel!”
Ketika seseorang meneriakkan kalimat itu, sorakan terdengar disana-sini. Karena duel biasanya adalah untuk membandingkan skillmu dengan seorang teman, semua penonton bersorak dan bersiul, tidak peduli akan situasi yang menyebabkan semua ini.
Tapi saat timer nya mulai mendekati nol, semua suara mulai menghilang. Aku merasa benang dingin melintas melewati tubuhku seperti ketika aku bertarung dengan monster. Aku memfokuskan diri untuk membaca suasana di sekitar Kuradeel, yang melihat kesana kemari karena jengkel, dan memeriksa cara berdirinya dan bagaimana kakinya bergerak.
Manusia biasanya menunjukkan kebiasaan tertentu saat mereka akan menggunakan sebuah skill. Apakah itu adalah skill menerjang atau bertahan, atau jika dia akam memulai dari bawah atau dari atas, jika tubuh mereka menunjukan ciri-ciri seperti itu maka itu akan menjadi kelemahan yang fatal.
Pedang Kuradeel sedikit condong kebelakang di bagian tengah tubuhnya dan bagian bawah tubuhnya membongkok kebawah. Itu jelas-jelas tanda kalau dia akan menggunakan serangan menerjang dari atas. Tentu saja, itu mungkin adalah tipuan. Aku sendiri sebenarnya bersikap dengan pedangku di postur yang rendah dan relax, memberikan kesan kalau serangan pertamaku adalah serangan lemah kebagian bawah tubuhnya. Kau hanya bisa mengandalkan pengalaman dan "perasaan"mu ketika mencari tipuan.
Ketika hitung mundurnya memasuki satu digit, aku menutup windownya. Aku bahkan tidak bisa mendengar suara di sekelilingku lagi.
Aku melihat Kuradeel, yang sejak tadi melirik dari arahku ke window dan kembali lagi, menjadi kaku ketika otot tubuhnya menjadi tegang. Kata [DUEL!!] muncul diantara kami dan aku melompat. Percikan api muncul dari bawah sepatuku dan udara berbunyi ketika bahuku memotong melewatinya.
Kuradeel juga bergerak bersamaan denganku. Tapi ada ekspresi kaget di wajahnya, karena aku telah menghancurkan dugaannya kalau aku akan menyerang dengan skill serangan rendah tipe bertahan dan menerjang.
Serangan pertama Kuradeel, seperti yang kuduga, sebuah serangan tinggi two-handed sword charge skill: <Avalanche>. Jika pertahanan terlalu lemah, si penahan mungkin bisa memblok serangannya tapi tidak bisa segera melakukan counterattack karena benturannya, sedangkan player yang menggunakannya bisa mempersiapkan gaya berdirinya lagi, karena terjangannya membuat jarak diantara mereka. Itu adalah sebuah skill level tinggi yang sangat bagus. Yah setidaknya untuk melawan monster.
Aku, yang sudah membaca apa yang akan dilakukan Kuradeel, memilih skill tipe menerjang <Sonic Leap>. Jika kami berdua terus menerjang, skill kami akan beradu.
Jika kita melihat hanya dari kekuatan skill, dialah yang lebih kuat, dan systemnya akan menguntungkan skill yang lebih berat jika dua serangan beradu. Jika begitu pedangku akan dipantulkan dan skillnya akan mengenaiku, sedikit diperlemah tapi masih cukup untuk mengahiri duel. Tapi aku tidak mengincar Kuradeel.
Jarak diantara kami semakin menyempit dengan cepat. Tetapi persepsiku juga sudah semakin cepat, dan aku merasa seperti waktu menjadi semakin pelan. Aku tidak yakin jika ini adalah hasil dari system atau ini adalah kemampuan yang dimiliki manusia. Yang kutahu adalah aku bisa melihat semua gerakannya.
Pedangnya, yang condong kebelakang, mulai mengeluarkan sinar orange dan menuju kearahku dengan cepat. Stats nya pasti agak tinggi, seperti yang bisa kau bayangkan dari anggota guild terbaik, tapi waktu yang dibutuhkan skillnya untuk dimulai lebih cepat dari dugaanku. Pedang yang bersinar terang itu menuju kearahku. Jika aku mengenai skill itu dengan telak tanpa ragu lagi aku akan menerima damage yang cukup untuk mengakhiri duel. Wajah Kuradeel menunjukkan kenikmatan dari kemenangan yang terlihat di depan mata. Tapi- Pedangku, dengan bagian kepalanya duluan, bergerak agak lebih cepat, membuat sebuah garis hijau dan mengenai pedangnya sebelum serangan dia berakhir. Systemnya mengkalkulasikan damage yang dihasilkan oleh pedangku, dan menciptakan percikan yang besar.
Hasil lain dari dua senjata beradu adalah <Weapon Break>. Itu hanya mungkin terjadi ketika sebuah senjata menerima pukulan berat dibagian lemah strukturnya.
Tapi aku yakin kalau senjatanya akan hancur. Senjata dengan dekorasi yang terlalu banyak punya ketahanan yang rendah.
Seperti yang kuduga—dengan sebuah suara yang menyakitkan telinga—pedang two-handed Kuradeel patah. Muncul efek seperti ledakan.
Kami melewati satu sama lain ditengah udara dan mendarat ditempat orang yang satunya melompat. Setengah bagian yang patah dari pedangnya berputar diudara, memantulkan sinar matahari, sebelum tertancap di lantai batu diantara kami. Setelah itu, patahan yang ada di lantai dan di tangan Kuradeel pecah menjadi polygon fragment.
Kesunyian menguasai plaza selama beberapa saat. Semua penonton membeku dengan mulut mereka yang terbuka lebar. Tapi ketika aku mendarat, berdiri, dan mengayunkan pedangku dari kiri ke kanan karena kebiasaan, mereka mulai bersorak.
“Hebat!”
“Apa dia mungkin mengincar hal itu!?”
Ketika aku mendengar semua orang mulai mengkritik pertarungan singkat itu, aku menghela napas. Bahkan jika itu hanya satu skill, menunjukkan bahkan hanya satu kartu dari tanganku bukanlah sesuatu yang bisa kugembirakan.
Dengan pedang di tanganku aku mulai berjalan kearah Kuradeel terduduk dengan punggungnya yang mebelakangiku. Punggungnya, yang ditutupi oleh jubah putih, bergetar dengan keras. Setelah menyarungkan pedangku dengan suara kencang yang disengaja, aku berkata dengan suara pelan.
“Jika kau ingin menantangku lagi dengan senjata baru aku akan melawanmu lagi…tapi ini sudah cukup kan?”
Kuradeel bahkan tidak mencoba untuk melihat kearahku. Dia menggoncangkan tangannya di lantai seperti orang gila. Tapi dia mengatakan dengan suara yang bergetar “Aku mundur dari pertarungan.” Seharusnya dia bisa mengatakan <Aku menyerah> atau <Aku kalah> kan.
Segera setelahnya, sebaris dari garis berwarna ungu muncul tepat dimana itu pertama muncul ketika itu menunjukkan saat pertarungan dimulai, kali ini menunjukkan kalau pertarungan telah berakhir dan pemenangnya. Sorakan lainnya terdengar, kemudian Kuradeel berdiri terhuyung dan berteriak pada para penonton.
“Apa yang kalian lihat! Pergi kalian!”
Lalu dia berbalik perlahan kearahku.
“Kau… Aku akan membunuhmu… Aku pasti akan membunuhmu…”
Aku tidak bisa menyangkal kalau aku agak takut dengan mata itu.
Emosi di SAO terasa sedikit berlebihan, tapi dengan kebencian yang terlihat di mata sipit Kuradeel, matanya terlihat lebih menyeramkan dari monster.
Seseorang berdiri di sampingku ketika aku terkejut.
“Kuradeel, Aku memerintahkanmu sebagai wakil ketua dari Knights of the Blood. Aku membebas tugaskanmu dari jabatan sebagai pengawal. Kembalilah ke markas dan tunggu disana hingga ada perintah lebih lanjut.”
Kata-kata dan ekspresi Asuna keduanya dingin. Tapi aku merasa ada rasa stress dibalik suaranya dan tanpa sadar memegang pundaknya. Asuna sedikit menyandarkan tubuhnya yang tegang.
“…ap…apa-apaan…ini…”
Suara itu sedikit terdengar di telinga kami. Sisanya, mungkin sekumpulan kata kutukan yang tidak keluar dari mulutnya. Kuradeel melotot kearah kami. Tidak salah lagi dia berpikir untuk menyerang kami dengan senjata cadangannya, meskipun dia tahu kalau crime prevention code akan menghentikannya.
Tapi dia bisa menahan diri dan mengambil keluar sebuah teleport crystal dari dalam jubahnya. Dia mengangkatnya, menggenggamnya dengan begitu kuat hingga aku berpikir kalau itu akan hancur, dan bergumam “Teleport…Grandum.” Dia memeloloti kami dengan kebencian bahkan ketika badannya mulai menghilang didalam cahaya biru.
Ketika cahayanya menghilang, sebuah kesunyian yang menusuk menyebar di sekitar plaza. Para penonton terlihat kaget dengan kemarahan Kuradeel, tapi mereka segera pergi dalam kelompok-kelompok kecil. Pada akhirnya hanya aku dan Asuna sajalah yang tertinggal.
Apa yang harus aku katakan? Pikiran itu berputar-putar dikepalaku, tapi karena aku telah hidup sendiri selama dua tahun, tidak ada satupun hal berguna yang muncul di pikiranku. Aku bahkan merasa tidak ingin memastikan apa aku melakukan hal yang benar atau tidak.
Lalu akhirnya Asuna berjalan dan mulai berbicara dengan suara yang rapuh.
“…maaf. Aku membuatmu terlibat dalam hal ini.”
“Tidak…Aku sih tidak apa-apa, Tapi apa kau akan baik-baik saja?”
Menggelengkan kepalanya perlahan, si wakil ketua dari guild terkuat memberikan senyuman yang bersemangat tapi lemah.
“Yeah, Kupikir aku juga salah karena memaksakan peraturan guild kepada semuanya dengan keras demi menyelesaikan game nya lebih cepat lagi…”
“Kupikir…wajar kau melakukan hal seperti itu. Jika mereka tidak mempunyai orang sepertimu kecepatan menyelesaikan game ini akan sangat berkurang. Yah, itu bukan hal yang bisa dikatakan oleh player solo pemalas sepertiku…ah, aku tidak bermaksud begitu.”
Aku bahkan tidak tahu apa yang ingin kukatakan lagi, jadi aku mengatakan apapun yang muncul di kepalaku.
“…jadi, tidak ada yang akan protes, jika kau…mengambil cuti sementara dengan seseorang yang tidak memikirkan apapun sepertiku.”
Mendengar kata-kata itu Asuna berkedip beberapa kali dengan ekspresi bingung, lalu dia tersenyum yang agak pahit dan mengendurkan raut wajahnya.
“…yah, aku mengucapkan terima kasih. Kalau begitu aku akan menikmati hari ini sebanyak yang aku bisa. Aku akan mempercayakan posisi menyerang padamu.”
Dia berbalik dengan semangat dan mulai berjalan melewati jalan yang menuju keluar kota.
“Apa? Hey! Menyerang kan seharusnya dilakukan bergantian!”
Bahkan ketika aku mengkomplain, aku menghela napas karena lega dan ikut berjalan kearah rambut berwarna coklat-chestnut yang tertiup angin dengan perlahan.
~TO BE CONTINUED~
BOOK 1 AINCRAD, CHAPTER 6
Salemburg adalah kota yang mirip dengan kastil dengan pemandangan indah yang terletak di lantai 61.
Kota Salemburg tidak terlalu besar. Tapi kota dengan kastil yang berada ditengahnya itu terbuat dari batu granit putih, dan diwarnai dengan warna hijau yang kontras. Ada lumayan banyak toko di sini jadi ada banyak player yang ingin menjadikan kota ini sebagai rumah mereka. Tapi karena karena rumah-rumah disini sangatlah mahal—harganya mungkin setidaknya tiga kali lebih mahal dibandingkan harga rumah di Algade—hampir mustahil untuk membelinya kecuali kau sudah berlevel tinggi.
Ketika Asuna dan aku sampai di teleport gate Salemburg, mataharinya hampir terbenam, dan sinar terakhir dari matahari yang berwarna ungu tua menyinari jalanan.
Sebagian besar dari lantai 61 dipenuhi oleh sebuah danau besar dan Salemburg berada di sebuah pulau ditengahnya, jadi orang-orang bisa melihat pemandangan yang seperti sebuah gambar di kanvas dimana cahaya matahari terbenam terpantul di danau.
Aku memandangi kota dengan terpesona, napasku berhenti sesaat karena kecantikan kota yang disinari oleh warna biru dan merah dengan danau yang sangat luas di baliknya. Tidak terlalu sulit bagi Nerve Gears untuk menciptakan efek pencahayaan seperti ini dengan CPU generasi baru dan diamond semiconductor nya.
Teleport gate nya terletak di plaza didepan castle dan jalan utama, yang menuju keutara, melewati kota dengan dikelilingi oleh lampu-lampu jalan. Toko dan rumah terbaris dengan rapi di kedua sisi jalan, dan bahkan NPC disini berjalan berkeliling dengan pakaian yang terlihat bagus. Aku merentangkan tanganku dan menarik napas yang dalam, bahkan udara disini berbeda dari udara di Algade.
“Hmmm. Tempat ini luas dan hanya ada sedikit orang. Aku suka dengan tempat yang luas seperti ini.”
“Kalau begitu kenapa kau tidak pindah?”
“Aku tidak punya uang yang cukup,” Aku menjawab sambil menaikkan bahu ku, sebelum memperbaiki ekspresiku dan bertanya dengan ragu-ragu.
“…omong-omong, apa tidak apa-apa? Tadi…”
“…”
Seperti menyadari apa yang ingin aku katakan, Asuna berputar dengan kepalanya yang menghadap kebawah dan menjejakkan ujung sepatunya ke lantai.
“…memang benar kalau ada beberapa hal buruk yang terjadi ketika aku sendirian. Tapi, menempatkan pengawal untukku, itu terlalu berlebihan kan? Aku sudah bilang kalau aku tidak membutuhkan mereka tapi…para anggota mengatakan kalau itu adalah kewajiban guild.”
Dia berbicara lagi dengan suara pelan.
“Dulu, guildnya masih kecil dengan pemimpinnya mengundang orang secara langsung dengan berbicara dengan mereka. Tapi ketika jumlah anggotanya bertambah dan mulai berubah… ketika guild ini mulai di sebut sebagai guild terkuat atau sejenisnya, ada sesuatu yang menjadi sedikit aneh.”
Dia berhenti berbicara dan berputar sedikit. Matanya terlihat seperti dia ingin bergantung padaku dan aku tanpa sadar berhenti bernapas.
Aku harus mengatakan sesuatu. Aku berpikir begitu, tapi apa yang bisa dikatakan oleh seorang solo player egois sepertiku? Aku hanya diam tanpa berbicara selama beberapa detik.
Yang pertama mengalihkan pandangan adalah Asuna. Dia memandangi danau yang bermandikan cahaya remang dan berkata sesuatu seperti untuk menghilangkan kekakuan.
“Yah, itu tidak terlalu penting jadi kau tidak perlu khawatir! Jika kita tidak buru-buru pergi, mataharinya akan segera terbenam.”
Asuna berjalan duluan dan aku mengikutinya. kami berjalan melewati beberapa player tapi tidak ada satupun dari mereka yang melihat kearahnya.
Aku hanya tinggal disini selama beberapa hari ketika lantai ini masih menjadi garis depan, jadi aku tidak terlalu memperhatikan sekeliling. Ketika aku melihat kearah pahatan indah yang memenuhi kota, aku berpikir kalau tinggal di kota seperti ini untuk beberapa waktu tidaklah buruk. Tapi kemudian aku mengubah pikiranku dan memutuskan kalau lebih baik jika aku hanya datang kesini beberapa waktu sekali untuk melihat-lihat.
Rumah yang ditinggali Asuna adalah rumah bertingkat tiga yang kecil tapi indah yang bisa ditemukan dengan berjalan kearah timur dari area pusat kota selama beberapa menit. Tentu saja itu adalah pertama kalinya aku kesini. Sekarang jika dipikir-pikir, aku hanya berbicara dengan dia ketika dalam rapat boss fight; dan kami bahkan tidak pernah bersama-sama makan di restoran NPC sebelumnya. Ketika aku sadar akan hal ini, aku berhenti didepan pintu dan bertanya.
“Apakah ini…boleh? Kau tahu…”
“Apa? Ini kan sesuatu yang aku katakan sendiri, dan tidak ada tempat lain yang lebih cocok untuk memasak jadi tidak ada pilihan lain!”
Asuna membalikkan kepalanya dan naik ke tangga. Setelah menguatkan tekad, aku mengikutinya.
“Ma-maaf mengganggu.”
Aku membuka pintu dengan ragu-ragu lalu berdiri disana tanpa bisa berbicara.
Aku tidak pernah melihat rumah yang serapi ini sebelumnya. Ruang makan yang lebar dan dapur yang berada disampingnya mempunyai furniture yang terbuat dari kayu yang berwarna cerah, dan di dekorasi dengan kain hijau tua. Itu semua mungkin adalah item buatan player yang mempunyai kualitas tertinggi.
Tapi ruangannya tidak di dekorasi dengan berlebihan, ataupun membuatmu merasa tidak nyaman. Ini sangat berbeda dibandingkan rumahku. Aku merasa sangat lega karena aku tidak mengundangnya kerumahku.
“Erm…berapa uang yang kukeluarkan untuk membeli semua ini…?”
Mendengar pertanyaan materialistisku.
“Hmm-, rumah sekaligus furniturenya, sekitar 4000k? Aku mau ganti baju jadi duduklah dimanapun kau mau.”
Dia menjawabnya dengan ringan dan menghilang dibalik pintu. "K" adalah singkatan dari 1000. 4000k berarti 4 juta Coll. Aku tinggal di garis depan, jadi aku bisa menabung sebanyak itu jika aku mencobanya. Tapi aku selalu menghabiskannya untuk membeli item aneh atau pedang yang menarik perhatianku, jadi aku tidak pernah menabung. Aku memarahi diriku sendiri yang tidak bisa menabung, sesuatu yang bukan karakterku, dan duduk ke sofa yang lembut.
Asuna muncul setelah beberapa saat, mengganti seluruh pakaiannya menjadi baju putih yang simple dan rok yang sepanjang lutut. Yah, kubilang mengganti pakaian tapi dia tidak benar-benar melepas dan memakai bajunya sendiri. Yang perlu dilakukan adalah menggerakkan jarimu di stats window. Tapi ada beberapa detik dimana player hanya akan mengenakan pakaian dalam mereka. Jadi kecuali mereka adalah pria yang sangat tidak tahu malu, kebanyakan player, terutama perempuan, tidak mengganti baju di depan orang lain. Tubuh ini memang mungkin hanya kumpulan data yang dibentuk menjadi 3D, tapi pikiran seperti itu hilang setelah dua tahun berlalu, dan sekarang ini didepan mataku ada tangan dan kaki Asuna yang tidak ditutupi oleh apapun.
Asuna, tidak sadar akan apa yang kupikirkan, melemparkan pandangan tajam kearahku dan berkata.
“Apa kau berencana untuk tetap berpakaian seperti itu?”
Aku buru-buru membuka menu screen ku dan melepas jaket dan pedang ku. Setelah melakukannya, aku mengeluarkan <Ragout Rabbit’s meat> dan menaruhnya kedalam mangkuk keramik diatas meja didepanku.
“Jadi ini bahan makanan rangking S yang legendaris-. …Lalu, apa yang harus kubuat?”
“Re-rekomendasi juru masak.”
“Oh…? Kalau begitu, aku akan membuat stew, karena ada kata <ragout> di namanya.”
Asuna menuju keruang sebelah; Aku mengikutinya.
Dapurnya luas, dan berbagai alat memasak yang terletak disamping oven terlihat agak mahal. Asuna meng click dua kali di permukaan oven, mengatur waktu di pop up window yang muncul, dan mengeluarkan panci logam dari lemari. Dia menaruh daging mentah, memasukkan beberapa herb, dan menuangkan air kedalamnya sebelum menutup pancinya.
“Jika ini memasak sungguhan, akan perlu membuat beberapa persiapan terlebih dahulu. Tapi memasak di SAO sangat singkat hingga menjadi tidak menyenangkan.”
Dia menaruh pancinya didalam oven dan menekan tombol "start" di menu sambil menggerutu. Bahkan sambil menunggu selama 300 detik, dia membuat berbagai macam makanan lainnya dengan cepat. Aku melihatnya sambil bengong karena terpana, sebab dia tidak melakukan kesalahan sedikitpun dalam mengoperasikan menu dan mempersiapkan makanan.
Hanya dalam lima menit, mejanya sudah penuh dengan makanan dan Asuna dan aku duduk berhadapan di depan meja. Stew yang berwarna coklat itu terlihat sangat enak di depan mataku. Baunya yang tercium bersamaan dengan uap yang keluar membuatku semakin lapar. Saus yang lembut menutupi daging yang tebal dan krim putih yang berada diatasnya sangat mempesona.
Kami mengangkat sendok bersamaan, dan merasa kalau waktu untuk berkata "selamat makan" bahkan terlalu panjang. Lalu kami memakan sesendok penuh makanan terbaik yang pernah ada di SAO. Aku merasakan panas dan rasanya didalam mulutku ketika aku menggigit dagingnya, dan cairan didalamnya meleleh dimulutku.
Makan di SAO tidak memperhitungkan perasaan dari menggigit makanannya. Melainkan menggunakan <Taste Reproduction Engine> yang dibuat oleh Agas dan para programer pendesain yang bekerja sama.
Sinyal itu mengirimkan sensasi <makan> yang telah diprogram dari berbagai makanan dan bisa membuat pengunanya merasa seperti mereka benar-benar memakan sesuatu. Itu sebenarnya dibuat untuk orang-orang yang sedang diet atau butuh membatasi jumlah makanan yang mereka makan, jadi Nerve Gear mengirimkan sinyal palsu ke bagian dari otak yang merespon panas, rasa, dan bau untuk membuat perasaan itu. Dengan kata lain, tubuh asli kami tidak benar-benar makan sesuatu sekarag ini dan yang sebenarnya terjadi adalah programnya mengirimkan sinyal secara acak untuk merangsang otak kami.
Tapu memikirkan hal seperti itu di situasi ini tidaklah keren. Aku tidak salah lagi sedang memakan makanan terbaik yang pernah kurasakan sejak log in ke SAO. Asuna dan aku tidak mengatakan apapun dan melanjutkan makan kami.
Akhirnya, setelah kami memakan habis semua makanan kami—dan membiarkan piring dan panci kosong didepannya, Asuna menghela napasnya.
“Ah…Senangnya aku masih hidup hingga sekarang…”
Aku benar-benar setuju. Merasakan kenikmatan dari memenuhi kebutuhan dasar setelah lama tidak makan, aku meneguk teh yang berbau misterius didepanku. Apakah rasa dari daging yang baru makan dan teh yang kuminum ini benar-benar ada di dunia nyata? Atau itu hanyalah buatan dengan memanipulasi sistem? Aku memikirkan hal-hal tersebut sambil bengong.
Asuna, yang duduk didepanku dengan segelas teh di yang dipegang di kedua tangannya, memecah keheningan yang ada sejak setelah makan.
“Entah kenapa ini berasa aneh… Bagaimana mengatakannya ya, Aku merasa seperti kalau aku lahir di dunia ini dan telah hidup di sini hingga sekarang atau seperti itulah.”
“…aku juga. Akhir-akhir ini ada hari-hari dimana aku tidak memikirkan sama sekali tentang dunia yang satu lagi. Bukan hanya aku saja… Sekarang ini tidak banyak orang yang masih terobsesi untuk ‘clearing’ atau ‘keluar’ dari SAO.”
“Kecepatan menjelajah lantai juga semakin berkurang. Sekarang hanya ada sekitar lima ratus player di garis depan. Itu bukan karena bahayanya, tapi…semua orang, telah menjadi terbiasa dengan dunia ini…”
Aku memandangi wajah cantik Asuna yang disinari oleh lampu orange.
Wajah itu tentu saja bukan wajah manusia asli. Kulit yang halusdan rambut yang mengkilap, itu terlalu cantik untuk dimiliki oleh makhluk hidup. Tapi bagiku, wajah itu tidak lagi terlihat seperti dibuat oleh kumpulan polygon. Sekarang aku bisa menerima hal itu apa adanya. Jika aku kembali ke dunia nyata dan melihat orang asli, aku mungkin akan merasa aneh.
Apa aku benar-benar berpikir kalau aku ingin kembali…ke dunia itu…?
Aku dibingungkan dengan pikiran yang muncul tiba-tiba. Aku selalu bangun pagi-pagi dan mencari experience point sambil memetakan labyrinth. Apa ini karena aku ingin keluar dari game ini?
Dulu aku memang memiliki keinginan seperti itu. Aku ingin keluar secepat mungkin dari death game yang kau tidak tahu kapan kau akan mati ini. Tapi sekarang aku telah terbiasa dengan game ini-.
“Tapi aku ingin kembali.”
Asuna berkata dengan suara yang jelas seperti dia telah melihat kebingunganku. Aku segera mengangkat kepalaku.
Asuna tersenyum padaku karena suatu alasan dan meneruskan.
“Karena, ada begitu banyak hal yang masih belum kulakukan.”
Aku mengangguk dengan keinginanku sendiri mendengar kata-katanya.
“Ya, kupikir kita harus melakukan yang terbaik yang kita bisa. Aku tidak mungkin bisa memandang kearah wajah para technician yang mendukung kita jika aku tidak melakukannya…”
Aku meminum teh lagi, seakan untuk menghilangkan kebingunganku. Lantai teratas masih sangat jauh. Jadi masih belum terlambat untuk memikirkan hal ini.
Merasa sedikit tenang, aku melihat kearah Asuna sambil memikirkan kata-kata yang tepat untuk mengucapkan terima kasih. Lalu wajah Asuna memerah dan sambil melambaikan tangannya dia berkata.
“J-J, Jangan.”
“A-Apa?”
“Beberapa player pria melamarku ketika mereka menunjukan ekspresi seperti itu diwajah mereka.”
“Wha…”
Meski aku telah menguasai skill bertarungku, aku tidak pernah mengalami hal itu sebelumnya, jadi aku hanya bisa membuka dan menutup mulutku tanpa bisa membalas perkataannya.
Asuna melihat kearahku dan tertawa. Aku pasti terlihat agak aneh sekarang.
“Jadi apa tidak ada orang yang dekat denganmu?”
“Memangnya kenapa…? Yah, itu tidak apa-apa, lagian aku kan seorang solo.”
“Yah, Karena kau memainkan MMORPG seharusnya kau berteman dengan beberapa orang.”
Asuna menghilangkan senyumannya dan bertanya, seperti dia tiba-tiba menjadi seperti seorang guru atau seorang kakak perempuan.
“Apa kau tidak pernah berpikir untuk bergabung dengan sebuah guild?”
“Eh…”
“Aku mengerti kalau seorang beta tester sepertimu tidak terbiasa berkelompok, tapi…”
Ekspresinya menjadi semakin serius.
“Setelah lantai tujuh puluhan, kupikir semakin banyak jenis monster yang muncul secara acak.”
Aku juga menyadarinya. Apakah programmernya berencana untuk membuat taktik CPU nya semakin sulit dibaca, ataukah itu adalah hasil dari programnya yang benar-benar belajar dengan sendirinya? Jika yang terakhir benar, maka ini akan menjadi semakin susah.
“Jika kau seorang solo, akan semakin susah untuk mengatasi situasi tak terduga. Kau tidak selalu bisa kabur. Akan lebih aman jika kau bersama dengan sebuah grup.”
“Aku punya cukup banyak jaring pengaman. Terima kasih atas saranmu, tapi…kalau guild, itu…”
Akan lebih baik jika aku berhenti disitu, tapi aku malah meneruskannya.
“Anggota grup lebih sering membebaniku daripada menolong.”
“Oh, benarkah?”
Flash, sebuah garis perak terlihat memotong udara didepanku, dan ketika aku menyadarinya, pisau Asuna sudah berada tepat didepan hidungku. Itu adalah skill dasar rapier yang bernama, <Linear>. Yah, kubilang sih dasar, tapi karena dexterity Asuna yang sangat besar, kecepatannya sangat menakutkan. Sejujurnya, aku bahkan tidak bisa melihat jejak senjatanya.
Dengan senyuman terpaksa, aku mengangkat tanganku menyerah.
“…baiklah, kau pengecualian.”
“Hmmph.”
Dia menarik pisaunya dengan ekspresi bosanm dan memutarkannya dengan jarinya sambil mengatakan sesuatu yang tidak bisa kuduga.
“Kalau begitu partylah denganku. Sebagai ketua dari party untuk melawan boss, aku akan melihat apakah kau sekuat apa yang dikatakan oleh rumor. Aku telah menunjukkanmu kalau aku cukup kuat. Selain itu, warna keberuntungan minggu ini adalah hitam.”
“Apa, Apa yang kau katakan!?”
Aku hampir saja terjatuh karena pernyataan yang gila itu dan segera mencari kata-kata untuk menolaknya.
“Tapi…jika kau melakukan itu, bagaimana dengan guildmu!?”
“Guild kami tidak memiliki level quota.”
“K-kalau begitu bagaimana dengan pengawal-pengawalmu?”
“Aku akan meninggalkan mereka.”
Aku mengangkat gelas tehku ke mulutku untuk menambah sedikit waktu untuk berpikir tapi akhirnya aku sadar kalau gelasku sudah kosong. Asuna mengambilnya dari tanganku dengan ekspresi puas diwajahnya dan mengisinya kembali dengan cairan panas dari dalam teko.
Sebenarnya—itu adalah tawaran yang menarik. Hampir semua pria ingin membuat party dengan seseorang yang dikatakan sebagai gadis tercantik di Aincrad. Tapi karena itulah, aku terus menanyakan kepada diriku sendiri kenapa orang terkenal seperti Asuna mau membuat party denganku.
Mungkin karena dia mengasihaniku karena aku adalah seorang player solo yang menyendiri? Sesuatu yang kukatakan tanpa sadar karena kepalaku dipenuhi oleh pikiran negative seperti itu hampir saja membuat hidupku berakhir.
“Garis depan sangat berbahaya.”
Asuna mengangkat pisaunya yang terlihat agak lebih mengkilap dari sebelumnya lagi. Aku mengangguk secepat yang ku bisa. Bahkan dengan keraguanku tentang mengapa dia memilihku yang tidak terlalu mencolok diantara orang-orang yang mencoba menyelesaikan game ini, aku mengatakan dengan penuh resolusi.
“O-Oke. Kalau begitu…Aku akan menunggu di depan gerbang lantai 74, besok pagi jam sembilan.”
Asuna menjawabnya dengan senyuman percaya diri sambil menurunkan tangannya.
Tidak tahu berapa lama aku bisa berada di rumah seorang perempuan tanpa melakukan hal yang tidak sopan, aku mengatakan ucapan perpisahan segera setelah kami selesai makan. Ketika Asuna menemaniku ke pintu depan rumahnya, dia menganggukkan kepalanya sedikit dan berkata.
“Yah…Kupikir aku harus berterima kasih untuk hari ini. Makanannya sangat enak.”
“Ah aku, aku juga. Aku ingin minta tolong padamu lagi…tapi kupikir tidak semudah itu aku bisa mendapatkan bahan makanan seperti itu lagi.”
“Oh, bahkan makanan biasa terasa berbeda jika kau cukup ahli.”
Asuna menjawab sebelum menengokan kepalanya keatas untuk melihat langit. Langitnya sudah sepenuhnya diselimuti oleh kegelapan malam. Tapi, tentu saja kau tidak bisa melihat bintang. Ada besi dan batu berwarna gelap yang menutupinya seratus meter diatas udara. Aku mengarahkan kepalaku keatas juga sambil berkata.
“…situasi ini, dunia ini, apa ini yang mau dibuat oleh Kayaba Akihiko…?”
Kami berdua tidak bisa menjawab pertanyaan yang setengahnya ditujukan pada diriku sendiri.
Kayaba, yang pastinya sedang mengamati dunia ini sambil bersembunyi entah dimana, apa yang dapat dia pikirkan? Situasi damai ini yang datang setelah kekacauan yang penuh darah di awal, apakah dia puas ataukah dia kecewa? Tidak mungkin aku bisa tahu.
Ketika Asuna berjalan mendekatiku dengan tenang, aku bisa merasakan sedikit kehangatan di tanganku. Apakah aku hanya membayangkannya, ataukah itu adalah hasil dari simulator yang sangat patuh ini?
6 November 2022 adalah hari dimulainya death game ini, dan sekarang sudah mendekati akhir dari Oktober 2024. Sekarangpun setelah hampir dua tahun, masih belum ada satupun pesan yang datang dari dunia luar, apalagi tanda-tanda pertolongan. Yang bisa kami lakukan adalah hidup dan berjalan, selangkah demi selangkah, menuju ke puncak.
Satu hari lagi terlewati di Aincrad ketika aku memikirkan hal ini. Kemana kami pergi, atau apa yang menunggu kami diakhir, itu semua hanyalah kumpulan hal yang masih belum kami ketahui. Jalan di depan masih panjang, dan cahayanya redup. Tapi—ada beberapa hal baik juga.
Ketika aku melihat kearah besi penutup diatas, aku membiarkan imaginasiku terbang menuju dunia asing yang masih belum kulihat.
~TO BE CONTINUED~
Kota Salemburg tidak terlalu besar. Tapi kota dengan kastil yang berada ditengahnya itu terbuat dari batu granit putih, dan diwarnai dengan warna hijau yang kontras. Ada lumayan banyak toko di sini jadi ada banyak player yang ingin menjadikan kota ini sebagai rumah mereka. Tapi karena karena rumah-rumah disini sangatlah mahal—harganya mungkin setidaknya tiga kali lebih mahal dibandingkan harga rumah di Algade—hampir mustahil untuk membelinya kecuali kau sudah berlevel tinggi.
Ketika Asuna dan aku sampai di teleport gate Salemburg, mataharinya hampir terbenam, dan sinar terakhir dari matahari yang berwarna ungu tua menyinari jalanan.
Sebagian besar dari lantai 61 dipenuhi oleh sebuah danau besar dan Salemburg berada di sebuah pulau ditengahnya, jadi orang-orang bisa melihat pemandangan yang seperti sebuah gambar di kanvas dimana cahaya matahari terbenam terpantul di danau.
Aku memandangi kota dengan terpesona, napasku berhenti sesaat karena kecantikan kota yang disinari oleh warna biru dan merah dengan danau yang sangat luas di baliknya. Tidak terlalu sulit bagi Nerve Gears untuk menciptakan efek pencahayaan seperti ini dengan CPU generasi baru dan diamond semiconductor nya.
Teleport gate nya terletak di plaza didepan castle dan jalan utama, yang menuju keutara, melewati kota dengan dikelilingi oleh lampu-lampu jalan. Toko dan rumah terbaris dengan rapi di kedua sisi jalan, dan bahkan NPC disini berjalan berkeliling dengan pakaian yang terlihat bagus. Aku merentangkan tanganku dan menarik napas yang dalam, bahkan udara disini berbeda dari udara di Algade.
“Hmmm. Tempat ini luas dan hanya ada sedikit orang. Aku suka dengan tempat yang luas seperti ini.”
“Kalau begitu kenapa kau tidak pindah?”
“Aku tidak punya uang yang cukup,” Aku menjawab sambil menaikkan bahu ku, sebelum memperbaiki ekspresiku dan bertanya dengan ragu-ragu.
“…omong-omong, apa tidak apa-apa? Tadi…”
“…”
Seperti menyadari apa yang ingin aku katakan, Asuna berputar dengan kepalanya yang menghadap kebawah dan menjejakkan ujung sepatunya ke lantai.
“…memang benar kalau ada beberapa hal buruk yang terjadi ketika aku sendirian. Tapi, menempatkan pengawal untukku, itu terlalu berlebihan kan? Aku sudah bilang kalau aku tidak membutuhkan mereka tapi…para anggota mengatakan kalau itu adalah kewajiban guild.”
Dia berbicara lagi dengan suara pelan.
“Dulu, guildnya masih kecil dengan pemimpinnya mengundang orang secara langsung dengan berbicara dengan mereka. Tapi ketika jumlah anggotanya bertambah dan mulai berubah… ketika guild ini mulai di sebut sebagai guild terkuat atau sejenisnya, ada sesuatu yang menjadi sedikit aneh.”
Dia berhenti berbicara dan berputar sedikit. Matanya terlihat seperti dia ingin bergantung padaku dan aku tanpa sadar berhenti bernapas.
Aku harus mengatakan sesuatu. Aku berpikir begitu, tapi apa yang bisa dikatakan oleh seorang solo player egois sepertiku? Aku hanya diam tanpa berbicara selama beberapa detik.
Yang pertama mengalihkan pandangan adalah Asuna. Dia memandangi danau yang bermandikan cahaya remang dan berkata sesuatu seperti untuk menghilangkan kekakuan.
“Yah, itu tidak terlalu penting jadi kau tidak perlu khawatir! Jika kita tidak buru-buru pergi, mataharinya akan segera terbenam.”
Asuna berjalan duluan dan aku mengikutinya. kami berjalan melewati beberapa player tapi tidak ada satupun dari mereka yang melihat kearahnya.
Aku hanya tinggal disini selama beberapa hari ketika lantai ini masih menjadi garis depan, jadi aku tidak terlalu memperhatikan sekeliling. Ketika aku melihat kearah pahatan indah yang memenuhi kota, aku berpikir kalau tinggal di kota seperti ini untuk beberapa waktu tidaklah buruk. Tapi kemudian aku mengubah pikiranku dan memutuskan kalau lebih baik jika aku hanya datang kesini beberapa waktu sekali untuk melihat-lihat.
Rumah yang ditinggali Asuna adalah rumah bertingkat tiga yang kecil tapi indah yang bisa ditemukan dengan berjalan kearah timur dari area pusat kota selama beberapa menit. Tentu saja itu adalah pertama kalinya aku kesini. Sekarang jika dipikir-pikir, aku hanya berbicara dengan dia ketika dalam rapat boss fight; dan kami bahkan tidak pernah bersama-sama makan di restoran NPC sebelumnya. Ketika aku sadar akan hal ini, aku berhenti didepan pintu dan bertanya.
“Apakah ini…boleh? Kau tahu…”
“Apa? Ini kan sesuatu yang aku katakan sendiri, dan tidak ada tempat lain yang lebih cocok untuk memasak jadi tidak ada pilihan lain!”
Asuna membalikkan kepalanya dan naik ke tangga. Setelah menguatkan tekad, aku mengikutinya.
“Ma-maaf mengganggu.”
Aku membuka pintu dengan ragu-ragu lalu berdiri disana tanpa bisa berbicara.
Aku tidak pernah melihat rumah yang serapi ini sebelumnya. Ruang makan yang lebar dan dapur yang berada disampingnya mempunyai furniture yang terbuat dari kayu yang berwarna cerah, dan di dekorasi dengan kain hijau tua. Itu semua mungkin adalah item buatan player yang mempunyai kualitas tertinggi.
Tapi ruangannya tidak di dekorasi dengan berlebihan, ataupun membuatmu merasa tidak nyaman. Ini sangat berbeda dibandingkan rumahku. Aku merasa sangat lega karena aku tidak mengundangnya kerumahku.
“Erm…berapa uang yang kukeluarkan untuk membeli semua ini…?”
Mendengar pertanyaan materialistisku.
“Hmm-, rumah sekaligus furniturenya, sekitar 4000k? Aku mau ganti baju jadi duduklah dimanapun kau mau.”
Dia menjawabnya dengan ringan dan menghilang dibalik pintu. "K" adalah singkatan dari 1000. 4000k berarti 4 juta Coll. Aku tinggal di garis depan, jadi aku bisa menabung sebanyak itu jika aku mencobanya. Tapi aku selalu menghabiskannya untuk membeli item aneh atau pedang yang menarik perhatianku, jadi aku tidak pernah menabung. Aku memarahi diriku sendiri yang tidak bisa menabung, sesuatu yang bukan karakterku, dan duduk ke sofa yang lembut.
Asuna muncul setelah beberapa saat, mengganti seluruh pakaiannya menjadi baju putih yang simple dan rok yang sepanjang lutut. Yah, kubilang mengganti pakaian tapi dia tidak benar-benar melepas dan memakai bajunya sendiri. Yang perlu dilakukan adalah menggerakkan jarimu di stats window. Tapi ada beberapa detik dimana player hanya akan mengenakan pakaian dalam mereka. Jadi kecuali mereka adalah pria yang sangat tidak tahu malu, kebanyakan player, terutama perempuan, tidak mengganti baju di depan orang lain. Tubuh ini memang mungkin hanya kumpulan data yang dibentuk menjadi 3D, tapi pikiran seperti itu hilang setelah dua tahun berlalu, dan sekarang ini didepan mataku ada tangan dan kaki Asuna yang tidak ditutupi oleh apapun.
Asuna, tidak sadar akan apa yang kupikirkan, melemparkan pandangan tajam kearahku dan berkata.
“Apa kau berencana untuk tetap berpakaian seperti itu?”
Aku buru-buru membuka menu screen ku dan melepas jaket dan pedang ku. Setelah melakukannya, aku mengeluarkan <Ragout Rabbit’s meat> dan menaruhnya kedalam mangkuk keramik diatas meja didepanku.
“Jadi ini bahan makanan rangking S yang legendaris-. …Lalu, apa yang harus kubuat?”
“Re-rekomendasi juru masak.”
“Oh…? Kalau begitu, aku akan membuat stew, karena ada kata <ragout> di namanya.”
Asuna menuju keruang sebelah; Aku mengikutinya.
Dapurnya luas, dan berbagai alat memasak yang terletak disamping oven terlihat agak mahal. Asuna meng click dua kali di permukaan oven, mengatur waktu di pop up window yang muncul, dan mengeluarkan panci logam dari lemari. Dia menaruh daging mentah, memasukkan beberapa herb, dan menuangkan air kedalamnya sebelum menutup pancinya.
“Jika ini memasak sungguhan, akan perlu membuat beberapa persiapan terlebih dahulu. Tapi memasak di SAO sangat singkat hingga menjadi tidak menyenangkan.”
Dia menaruh pancinya didalam oven dan menekan tombol "start" di menu sambil menggerutu. Bahkan sambil menunggu selama 300 detik, dia membuat berbagai macam makanan lainnya dengan cepat. Aku melihatnya sambil bengong karena terpana, sebab dia tidak melakukan kesalahan sedikitpun dalam mengoperasikan menu dan mempersiapkan makanan.
Hanya dalam lima menit, mejanya sudah penuh dengan makanan dan Asuna dan aku duduk berhadapan di depan meja. Stew yang berwarna coklat itu terlihat sangat enak di depan mataku. Baunya yang tercium bersamaan dengan uap yang keluar membuatku semakin lapar. Saus yang lembut menutupi daging yang tebal dan krim putih yang berada diatasnya sangat mempesona.
Kami mengangkat sendok bersamaan, dan merasa kalau waktu untuk berkata "selamat makan" bahkan terlalu panjang. Lalu kami memakan sesendok penuh makanan terbaik yang pernah ada di SAO. Aku merasakan panas dan rasanya didalam mulutku ketika aku menggigit dagingnya, dan cairan didalamnya meleleh dimulutku.
Makan di SAO tidak memperhitungkan perasaan dari menggigit makanannya. Melainkan menggunakan <Taste Reproduction Engine> yang dibuat oleh Agas dan para programer pendesain yang bekerja sama.
Sinyal itu mengirimkan sensasi <makan> yang telah diprogram dari berbagai makanan dan bisa membuat pengunanya merasa seperti mereka benar-benar memakan sesuatu. Itu sebenarnya dibuat untuk orang-orang yang sedang diet atau butuh membatasi jumlah makanan yang mereka makan, jadi Nerve Gear mengirimkan sinyal palsu ke bagian dari otak yang merespon panas, rasa, dan bau untuk membuat perasaan itu. Dengan kata lain, tubuh asli kami tidak benar-benar makan sesuatu sekarag ini dan yang sebenarnya terjadi adalah programnya mengirimkan sinyal secara acak untuk merangsang otak kami.
Tapu memikirkan hal seperti itu di situasi ini tidaklah keren. Aku tidak salah lagi sedang memakan makanan terbaik yang pernah kurasakan sejak log in ke SAO. Asuna dan aku tidak mengatakan apapun dan melanjutkan makan kami.
Akhirnya, setelah kami memakan habis semua makanan kami—dan membiarkan piring dan panci kosong didepannya, Asuna menghela napasnya.
“Ah…Senangnya aku masih hidup hingga sekarang…”
Aku benar-benar setuju. Merasakan kenikmatan dari memenuhi kebutuhan dasar setelah lama tidak makan, aku meneguk teh yang berbau misterius didepanku. Apakah rasa dari daging yang baru makan dan teh yang kuminum ini benar-benar ada di dunia nyata? Atau itu hanyalah buatan dengan memanipulasi sistem? Aku memikirkan hal-hal tersebut sambil bengong.
Asuna, yang duduk didepanku dengan segelas teh di yang dipegang di kedua tangannya, memecah keheningan yang ada sejak setelah makan.
“Entah kenapa ini berasa aneh… Bagaimana mengatakannya ya, Aku merasa seperti kalau aku lahir di dunia ini dan telah hidup di sini hingga sekarang atau seperti itulah.”
“…aku juga. Akhir-akhir ini ada hari-hari dimana aku tidak memikirkan sama sekali tentang dunia yang satu lagi. Bukan hanya aku saja… Sekarang ini tidak banyak orang yang masih terobsesi untuk ‘clearing’ atau ‘keluar’ dari SAO.”
“Kecepatan menjelajah lantai juga semakin berkurang. Sekarang hanya ada sekitar lima ratus player di garis depan. Itu bukan karena bahayanya, tapi…semua orang, telah menjadi terbiasa dengan dunia ini…”
Aku memandangi wajah cantik Asuna yang disinari oleh lampu orange.
Wajah itu tentu saja bukan wajah manusia asli. Kulit yang halusdan rambut yang mengkilap, itu terlalu cantik untuk dimiliki oleh makhluk hidup. Tapi bagiku, wajah itu tidak lagi terlihat seperti dibuat oleh kumpulan polygon. Sekarang aku bisa menerima hal itu apa adanya. Jika aku kembali ke dunia nyata dan melihat orang asli, aku mungkin akan merasa aneh.
Apa aku benar-benar berpikir kalau aku ingin kembali…ke dunia itu…?
Aku dibingungkan dengan pikiran yang muncul tiba-tiba. Aku selalu bangun pagi-pagi dan mencari experience point sambil memetakan labyrinth. Apa ini karena aku ingin keluar dari game ini?
Dulu aku memang memiliki keinginan seperti itu. Aku ingin keluar secepat mungkin dari death game yang kau tidak tahu kapan kau akan mati ini. Tapi sekarang aku telah terbiasa dengan game ini-.
“Tapi aku ingin kembali.”
Asuna berkata dengan suara yang jelas seperti dia telah melihat kebingunganku. Aku segera mengangkat kepalaku.
Asuna tersenyum padaku karena suatu alasan dan meneruskan.
“Karena, ada begitu banyak hal yang masih belum kulakukan.”
Aku mengangguk dengan keinginanku sendiri mendengar kata-katanya.
“Ya, kupikir kita harus melakukan yang terbaik yang kita bisa. Aku tidak mungkin bisa memandang kearah wajah para technician yang mendukung kita jika aku tidak melakukannya…”
Aku meminum teh lagi, seakan untuk menghilangkan kebingunganku. Lantai teratas masih sangat jauh. Jadi masih belum terlambat untuk memikirkan hal ini.
Merasa sedikit tenang, aku melihat kearah Asuna sambil memikirkan kata-kata yang tepat untuk mengucapkan terima kasih. Lalu wajah Asuna memerah dan sambil melambaikan tangannya dia berkata.
“J-J, Jangan.”
“A-Apa?”
“Beberapa player pria melamarku ketika mereka menunjukan ekspresi seperti itu diwajah mereka.”
“Wha…”
Meski aku telah menguasai skill bertarungku, aku tidak pernah mengalami hal itu sebelumnya, jadi aku hanya bisa membuka dan menutup mulutku tanpa bisa membalas perkataannya.
Asuna melihat kearahku dan tertawa. Aku pasti terlihat agak aneh sekarang.
“Jadi apa tidak ada orang yang dekat denganmu?”
“Memangnya kenapa…? Yah, itu tidak apa-apa, lagian aku kan seorang solo.”
“Yah, Karena kau memainkan MMORPG seharusnya kau berteman dengan beberapa orang.”
Asuna menghilangkan senyumannya dan bertanya, seperti dia tiba-tiba menjadi seperti seorang guru atau seorang kakak perempuan.
“Apa kau tidak pernah berpikir untuk bergabung dengan sebuah guild?”
“Eh…”
“Aku mengerti kalau seorang beta tester sepertimu tidak terbiasa berkelompok, tapi…”
Ekspresinya menjadi semakin serius.
“Setelah lantai tujuh puluhan, kupikir semakin banyak jenis monster yang muncul secara acak.”
Aku juga menyadarinya. Apakah programmernya berencana untuk membuat taktik CPU nya semakin sulit dibaca, ataukah itu adalah hasil dari programnya yang benar-benar belajar dengan sendirinya? Jika yang terakhir benar, maka ini akan menjadi semakin susah.
“Jika kau seorang solo, akan semakin susah untuk mengatasi situasi tak terduga. Kau tidak selalu bisa kabur. Akan lebih aman jika kau bersama dengan sebuah grup.”
“Aku punya cukup banyak jaring pengaman. Terima kasih atas saranmu, tapi…kalau guild, itu…”
Akan lebih baik jika aku berhenti disitu, tapi aku malah meneruskannya.
“Anggota grup lebih sering membebaniku daripada menolong.”
“Oh, benarkah?”
Flash, sebuah garis perak terlihat memotong udara didepanku, dan ketika aku menyadarinya, pisau Asuna sudah berada tepat didepan hidungku. Itu adalah skill dasar rapier yang bernama, <Linear>. Yah, kubilang sih dasar, tapi karena dexterity Asuna yang sangat besar, kecepatannya sangat menakutkan. Sejujurnya, aku bahkan tidak bisa melihat jejak senjatanya.
Dengan senyuman terpaksa, aku mengangkat tanganku menyerah.
“…baiklah, kau pengecualian.”
“Hmmph.”
Dia menarik pisaunya dengan ekspresi bosanm dan memutarkannya dengan jarinya sambil mengatakan sesuatu yang tidak bisa kuduga.
“Kalau begitu partylah denganku. Sebagai ketua dari party untuk melawan boss, aku akan melihat apakah kau sekuat apa yang dikatakan oleh rumor. Aku telah menunjukkanmu kalau aku cukup kuat. Selain itu, warna keberuntungan minggu ini adalah hitam.”
“Apa, Apa yang kau katakan!?”
Aku hampir saja terjatuh karena pernyataan yang gila itu dan segera mencari kata-kata untuk menolaknya.
“Tapi…jika kau melakukan itu, bagaimana dengan guildmu!?”
“Guild kami tidak memiliki level quota.”
“K-kalau begitu bagaimana dengan pengawal-pengawalmu?”
“Aku akan meninggalkan mereka.”
Aku mengangkat gelas tehku ke mulutku untuk menambah sedikit waktu untuk berpikir tapi akhirnya aku sadar kalau gelasku sudah kosong. Asuna mengambilnya dari tanganku dengan ekspresi puas diwajahnya dan mengisinya kembali dengan cairan panas dari dalam teko.
Sebenarnya—itu adalah tawaran yang menarik. Hampir semua pria ingin membuat party dengan seseorang yang dikatakan sebagai gadis tercantik di Aincrad. Tapi karena itulah, aku terus menanyakan kepada diriku sendiri kenapa orang terkenal seperti Asuna mau membuat party denganku.
Mungkin karena dia mengasihaniku karena aku adalah seorang player solo yang menyendiri? Sesuatu yang kukatakan tanpa sadar karena kepalaku dipenuhi oleh pikiran negative seperti itu hampir saja membuat hidupku berakhir.
“Garis depan sangat berbahaya.”
Asuna mengangkat pisaunya yang terlihat agak lebih mengkilap dari sebelumnya lagi. Aku mengangguk secepat yang ku bisa. Bahkan dengan keraguanku tentang mengapa dia memilihku yang tidak terlalu mencolok diantara orang-orang yang mencoba menyelesaikan game ini, aku mengatakan dengan penuh resolusi.
“O-Oke. Kalau begitu…Aku akan menunggu di depan gerbang lantai 74, besok pagi jam sembilan.”
Asuna menjawabnya dengan senyuman percaya diri sambil menurunkan tangannya.
Tidak tahu berapa lama aku bisa berada di rumah seorang perempuan tanpa melakukan hal yang tidak sopan, aku mengatakan ucapan perpisahan segera setelah kami selesai makan. Ketika Asuna menemaniku ke pintu depan rumahnya, dia menganggukkan kepalanya sedikit dan berkata.
“Yah…Kupikir aku harus berterima kasih untuk hari ini. Makanannya sangat enak.”
“Ah aku, aku juga. Aku ingin minta tolong padamu lagi…tapi kupikir tidak semudah itu aku bisa mendapatkan bahan makanan seperti itu lagi.”
“Oh, bahkan makanan biasa terasa berbeda jika kau cukup ahli.”
Asuna menjawab sebelum menengokan kepalanya keatas untuk melihat langit. Langitnya sudah sepenuhnya diselimuti oleh kegelapan malam. Tapi, tentu saja kau tidak bisa melihat bintang. Ada besi dan batu berwarna gelap yang menutupinya seratus meter diatas udara. Aku mengarahkan kepalaku keatas juga sambil berkata.
“…situasi ini, dunia ini, apa ini yang mau dibuat oleh Kayaba Akihiko…?”
Kami berdua tidak bisa menjawab pertanyaan yang setengahnya ditujukan pada diriku sendiri.
Kayaba, yang pastinya sedang mengamati dunia ini sambil bersembunyi entah dimana, apa yang dapat dia pikirkan? Situasi damai ini yang datang setelah kekacauan yang penuh darah di awal, apakah dia puas ataukah dia kecewa? Tidak mungkin aku bisa tahu.
Ketika Asuna berjalan mendekatiku dengan tenang, aku bisa merasakan sedikit kehangatan di tanganku. Apakah aku hanya membayangkannya, ataukah itu adalah hasil dari simulator yang sangat patuh ini?
6 November 2022 adalah hari dimulainya death game ini, dan sekarang sudah mendekati akhir dari Oktober 2024. Sekarangpun setelah hampir dua tahun, masih belum ada satupun pesan yang datang dari dunia luar, apalagi tanda-tanda pertolongan. Yang bisa kami lakukan adalah hidup dan berjalan, selangkah demi selangkah, menuju ke puncak.
Satu hari lagi terlewati di Aincrad ketika aku memikirkan hal ini. Kemana kami pergi, atau apa yang menunggu kami diakhir, itu semua hanyalah kumpulan hal yang masih belum kami ketahui. Jalan di depan masih panjang, dan cahayanya redup. Tapi—ada beberapa hal baik juga.
Ketika aku melihat kearah besi penutup diatas, aku membiarkan imaginasiku terbang menuju dunia asing yang masih belum kulihat.
~TO BE CONTINUED~
BOOK 1 AINCRAD, CHAPTER 5
Setelah menyelesaikan pertarunganku dengan musuh yang kuat yang sedang berpatroli di <Labyrinth Area> di lantai 74, aku mengingat jalan kembaliku, begitu juga dengan masa lalu, dan menghela napasku ketika aku melihat cahaya dari jalan keluar.
Aku mengosongkan pikiranku, berjalan dengan cepat keluar dari labyrinth area, dan menghirup udara yang segar dan bersih dalam-dalam.
Di hadapanku, lorong yang sempit berubah menjadi hutan yang lebat dan penuh dengan pohon. Di belakang ku, labyrinth area tempatku keluar barusan menjulang tinggi hingga ke langit—atau lebih tepatnya hingga ke permukaan bagian bawah lantai selanjutnya.
Karena tujuan akhir gamenya adalah untuk mencapai puncak tertinggi dari kastil ini, dungeon di dunia ini tidak menuju ke bawah tanah melainkan berbentuk menara. Tapi, setting dasarnya tidak berubah: monster di labyrinth area lebih kuat dibandingkan monster yang berada di jalanan, dan boss monster menunggu di bagian terdalam dari labyrinth area.
Saat ini, delapan puluh persen dari labyrinth area di lantai 74 telah di jelajahi, atau dengan kata lain, telah di <mapped>. Dalam beberapa hari, boss room mungkin akan ditemukan, dan sebuah tim untuk melawan boss dengan anggota yang banyak akan dibuat. Saat itu, bahkan aku, seorang solo player, akan ikut ambil bagian.
Aku tersenyum pada diriku sendiri karena merasa tidak sabar dan frustasi pada saat yang sama dan mulai berjalan melewati jalur yang ada.
Saat ini, rumah tempat tinggal ku berada di kota terbesar di Aincrad, yaitu <Algade>, yang lokasinya berada di lantai ke 50. Yah, dari luasnya, Starting City lebih besar, tapi tempat itu sekarang sudah menjadi markas <The Army> sepenuhnya, jadi berjalan di sekitar sana menjadi agak tidak nyaman.
Segera setelah aku keluar dari padang rumput yang mulai menggelap, sebuah hutan yang berisi pohon-pohon tua membentang di depanku. Jika aku berjalan selama tiga puluh menit lewat sini, Aku akan sampai di <Housing Area> dari lantai 74 dan bisa menggunakan <Teleport Gate> disana untuk teleport ke Algade.
Aku bisa saja menggunakan satu dari instant teleportation item didalam inventory ku untuk kembali ke Algade kapanpun. Tapi karena harganya sedikit mahal, Aku enggan menggunakannya kecuali jika aku sedang berada dalam situasi berbahaya. Masih ada sedikit waktu hingga mataharinya menghilang sepenuhnya, jadi aku menolak godaan untuk kembali kerumah secepatnya dan akhirnya masuk kedalam hutan.
Sebagai catatan, ujung-ujung dari setiap lantai di Aincrad biasanya terbuka lebar langsung ke langit, kecuali bagian tiang penahannya. Pohon-pohon menjadi berwarna merah api karena terkena cahaya yang masuk melalui celah tersebut. Kabut yang mengalir diantara cahaya matahari memantulkan cahaya dengan indahnya. Suara kicau-an burung, yang sering terdengar disiang hari, menjadi sulit terdengar, karena suara batang pohon yang bergoyang-goyang karena tertiup angin yang kencang.
Aku tahu dengan jelas kalau aku bisa bertarung dengan monster di area ini meskipun aku mengantuk, tapi rasa takut yang datang bersamaan dengan kegelapan susah dihindari. Sebuah perasaan yang mirip dengan ketika aku tersesat dan tidak bisa pulang waktu kecil menyelimutiku.
Tapi aku tidak membenci perasaan ini. Aku kadang-kadang melupakan rasa takut ini ketika aku masih di dunia nyata. Rasa kesepian yang kau dapatkan ketika kau berkelana sendirian di tempat asing tanpa seorangpun yang terlihat seberapa keraspun kau mencoba melihat—kau bisa menyebutnya sebagai dasar dari RPG.
Ketika aku sedang terpaku mengenang masa lalu, sebuah teriakan yang belum pernah kudengar sebelumnya memasuki telingaku.
Itu terdengar hanya sesaat, keras dan jelas seperti suara sebuah peluit. Aku menghentikan langkahku dan mencari dengan seksama ke arah suaranya berasal. Jika kau mendengar atau melihat sesuatu yang kau tidak pernah alami sebelumnya di dunia ini, itu bisa saja berarti kalau kau sangat beruntung atau bisa juga sebaliknya.
Sebagai seorang solo player, Aku melatih skill <Scan for Enemy>ku. Skill ini mencegah serangan tiba-tiba dan ketika kau sudah ahli menggunakannya, itu akan memberikan kemampuan tambahan pada si pemain untuk bisa mendeteksi monster yang sedang "bersembunyi." Dengan itu, AKu bisa melihat seekor monster bersembunyi diantara batang pohon di jarak sepuluh meter dariku.
Monster itu tidak terlalu besar. Monster itu mempunyai bulu hijau untuk berkamuflase diantara dedaunan dan mempunyai telinga yang lebih panjang dibandingkan tubuhnya. Ketika aku berkonsentrasi kearahnya, secara automatis monster itu menjadi targetku dan sebuah cursor berwarna kuning muncul bersama dengan namanya.
Aku menahan napasku saat aku melihat namanya: <Ragout Rabbit>. Itu cukup langka hingga bisa mendapat gelar "super."
Itu pertama kalinya aku melihat yang asli. Kelinci yang hidup di batang pohon itu tidak begitu kuat, juga tidak memberimu banyak experience points, tapi-
Aku diam-diam mengambil sebuah throwing pick kecil dari sabuk ku. <Knife Throwing Skill> ku tidak begitu tinggi. Aku hanya memilihnya sebagai cabang di skill tree ku pada suatu saat. Tapi kudengar kalau Ragout Rabbit adalah monster tercepat dari seluruh monster yang diketahui saat ini, jadi aku tidak terlalu percaya diri untuk menangkapnya dengan pedangku.
Aku punya satu kesempatan untuk menyerang sebelum musuh menyadari keberadaanku. Aku mengangkat pick tadi, berdoa, dan bergerak mengikuti posisi gerak awal skill <Single Shot>.
Yah, sekecil apapun skill ku, tanganku dibantu oleh dexterity ku yang tinggi dan melempar pick nya dengan gerakan yang agak terlihat kabur. Pick nya berkilau sekali dan menghilang dibalik pepohonan. Segera setelah aku menyerang, cursor kuning yang tadinya menunjukkan lokasi Ragout Rabbit berada, berubah menjadi merah dan muncul HP bar dibawahnya.
Sebuah teriakan kencang terdengar dari arah pick ku terlempar. HP bar nya semakin mengecil dan kemudian mencapai 0. Terdengar suara polygon pecah yang tidak asing lagi.
Aku mengepalkan tangan kiriku. Aku mengangkat tangan kananku dan membuka main menu. Aku membuka inventory dengan cepat, meski begitu gerakan tanganku terlihat terlalu lambat bagiku, dan benda itu ada di bagian teratas dari item list baru kudapat: <Ragout Rabbit’s meat>. Itu adalah rare item yang bisa dijual ke player lain dengan harga minimal seratus ribu Coll. Uang sebanyak itu cukup untuk membuat satu full set dari armor terbaik dan masih ada sisa kembaliannya.
Alasan kenapa benda ini sangat mahal simpel saja, karena benda ini adalah bahan makanan yang paling enak dibandingkan bahan makanan lainnya di game ini.
Makan adalah satu-satunya kenikmatan di SAO, tapi makanan yang ada biasanya hanyalah sup dan roti yang rasanya seperti berasal dari negara eropa—yah aku juga tidak begitu tahu; tapi kenyataannya rasanya biasa saja. Beberapa player yang melatih skill memasak mereka juga berpikir seperti itu dan tidak puas hanya dengan makanan itu. Tapi melatih skill memasak bukanlah hal yang mudah, jadi banyak player yang tidak bisa melakukannya.
Tentu saja aku tidak berbeda. Aku tidak begitu membenci sup dan roti gandum yang sering kubeli dari restoran NPC. Tapi sekali-sekali aku juga ingin makan daging.
Selama beberapa waktu aku melihat kearah nama item itu dan berpikir apa yang harus kulakukan. Kemungkinan ku mendapat bahan seperti ini lagi sangat rendah. Sejujurnya, aku sangat ingin memakannya. Tapi semakin tinggi peringkat bahannya, semakin tinggi pula skill yang dibutuhkan untuk memasaknya. Jadi aku harus menemukan orang yang sudah menguasai skill memasak sepenuhnya untuk memasakannya untukku.
Tapi aku tidak tahu satupun. Yah, aku tahu beberapa, tapi mencari merekalah yang membuat repot. Selain itu, sudah waktunya aku membeli satu set equipment baru. Jadi, aku memutuskan untuk menjualnya.
Aku menutup window nya untuk menyingkirkan semua rasa menyesal, dan menscan area di sekitar dengan skill ku. Kemungkinan bandit muncul di garis depan sangat tipis, tapi kau tidak akan pernah terlalu berhati-hati ketika kau mempunyai sebuah benda S-class.
Aku bisa membeli berapapun teleport item yang kubutuhkan setelah aku menjualnya, jadi aku memilih untuk mengurangi resiko dan mulai merogoh saku-ku.
Benda yang kuambil adalah sebuah kristal yang berbentuk seperti pilar bersisi delapan yang berwarna biru terang. Sedikit dari magic item di dunia dimana <Magic> tidak ada, semuanya berbentuk seperti permata. Biru adalah untuk instant teleportation, pink untuk menyembuhkan HP, hijau untuk penawar racun, dan lain-lain. Mereka semua adalah item praktis yang menciptakan efek secara instant, tapi mereka juga mahal. Jadi orang-orang lebih sering menggunakan item yang lebih murah seperti potion yang memiliki efek lambat setelah kabur dari pertarungan.
Berpikir kalau ini adalah, tidak salah lagi, sebuah situasi darurat, Aku memegang kristal biru itu dan berteriak.
“Teleport! Algade!”
Ada suara banyak bel bergema dan kristal di tanganku pecah menjadi kepingan kecil. Pada saat yang sama, tubuhku diselimuti oleh cahaya biru dan hutannya menghilang dari pandanganku seperti meleleh. Sebuah cahaya yang lebih terang bersinar, dan setelah itu menghilang, teleportasinya selesai. Dari suara daun-daun bergesekan berganti menjadi suara palu para smith dan suara keras dari kota memasuki suaraku.
Tempatku muncul adalah <Teleport Gate> yang berada di tengah Algade.
Dibagian tengah dari plaza yang melingkar, sebuah gerbang yang terbuat dari logam berdiri setinggi lima meter lebih. Didalamnya, udara berputar-putar seperti sebuah pusaran dan orang-orang yang teleport keluar masuk.
Empat jalan utama membentang di keempat arah dari plaza, dan disisi dari semua jalan itu, banyak toko-toko kecil yang berdiri. Player-player yang pulang setelah seharian menjelajah berbincang-bincang di depan toko makanan atau minuman.
Jika seseorang mencoba mendeskripsikan Algade kedalam satu kata, itu pasti adalah <berantakan>.
Tidak ada jalan besar seperti yang ada di Starting City dan banyak jalan gang yang bersilangan di seluruh kota. Ada toko-toko yang kau mungkin tidak tahu apa yang dijualnya, dan penginapan yang terlihat seperti kalau kau tidak akan pernah bisa keluar jika kau masuk kedalam.
Sebenarnya, ada banyak player yang secara tidak sengaja memasuki salah satu gang di Algate dan tersesat selama beberapa hari sebelum bisa keluar. Aku sudah tinggal disini hampir setahun sekarang, tapi aku masih tidak hapal setengah dari jalan disini. Bahkan NPC disini adalah orang-orang aneh yang pekerjaannya susah untuk ditebak, dan itu membuatmu berpikir kalau orang yang menjadikan tempat ini sebagai tempat tinggal sekarang ini adalah orang-orang aneh juga.
Tapi aku menyukai jalan-jalan disini. Aku tidak bohong saat aku pernah bilang satu-satunya waktu aku merasa tenang adalah ketika aku meminum teh berbau aneh di sebuah toko di pojokan yang biasa kukunjungi. Alasan dibaliknya adalah karena aku tempat itu terasa sedikit mirip dengan toko elektronik yang sering kukunjungi di dunia nyata—yah tidak terlalu juga sih, atau kuharap tidak.
Berpikir untuk menjual itemnya sebelum kembali kerumah, aku berjalan ke sebuah toko. Jika aku berjalan mengikuti jalur menuju ke barat dari central plaza, aku akan sampai ke toko itu setelah melewati sedikit keramaian. Didalamnya, sangat sempit hingga meski hanya ada 5 player saja terasa sempit disini, dan ada banyak papan toko seperti: Peralatan, Senjata, dan bahkan bahan makanan yang bertumpuk disini.
Si pemilik toko sedang sibuk melakukan tawar menawar.
Ada 2 cara untuk menjual item. Yang pertama adalah dengan menjualnya ke NPC, atau character yang di gerakkan oleh system. Cara ini tidak mempunyai resiko ditipu tetapi harganya selalu sama. Untuk mengurangi peredaran uang berlebih, harganya dibuat lebih rendah dibanding dengan harga pasaran.
Yang kedua adalah dengan melakukan trade dengan player lain. Dengan cara ini, kau bisa menjual itemnya dengan harga tinggi jika kau menawar dengan baik, tapi kau harus menemukan seseorang untuk menemukannya, dan perselisihan antara player setelah trade selesai sudah biasa terjadi.
Karena itu, player merchant yang ahli dalam berdagang item muncul.
Player merchant tidak bisa hidup hanya dengan berdagang saja. Seperti pemain dengan class technician, mereka harus mengisi sebagian dari skill slot mereka dengan skill yang tidak berhubungan dengan pertarungan. Tapi itu tidak berarti mereka tidak perlu ke field. Merchant harus bertarung untuk barang dagangan, sedangkan technician untuk bahan baku pembuatan barang, dan, tentu saja mereka mengalami kesulitan yang lebih besar di bandingkan dengan petarung. Sulit bagi mereka untuk merasa senang megalahkan musuh mereka.
Karena itu, mereka yang memilih class tersebut adalah orang-orang hebat yang memebantu para player bertarung di garis depan setiap hari. Jadi diam-diam aku sangat menghormati mereka.
…yah, Aku memang menghormati mereka, tapi orang di depanku ini adalah seseorang yang tidak bisa disebut baik.
“Oke, setuju! 25 <Dust Lizard’s hide> untuk lima ratus Coll!”
Pemilik toko yang sering ku datangi ini, Agil, menepuk pundak orang yang sedang tawar-menawar dengannya, seorang spearman yang terlihat lemah, dengan tangannya yang besar itu. Kemudian dia dengan cepat membuka trade window dan memasukan jumlah uang di dalam trade list nya.
Lawan transaksinya terlihat sedang berpikir, tapi ketika dia melihat wajah Agil, yang terlihat seperti petarung kuat yang menakutkan—dan nyatanya, Agil adalah salah satu warrior pengguna axe yang paling hebat dan seorang merchant yang handal—spearman yang terlihat lemah itu buru-buru menaruh item nya di trade list dan menekan OK.
“Terima kasih banyak! Silahkan datang kembali lain waktu!”
Agil menepuk pundak spearman itu sekali lagi dan tersenyum lebar. Dust Lizard's hide bisa digunakan untuk membuat armor yang cukup bagus. Kupikir lima ratus Coll terlalu murah dilihat dari manapun. Tapi aku tetap diam dan melihat spearman itu pergi. Ambil ini sebagai pelajaran untuk tidak memperlihatkan kelemahan ketika sedang tawar menawar, Aku berpikir seperti itu didalam kepalaku.
“Hey, kau melakukan bisnis seperti itu tanpa malu seperti biasanya.”
Orang tinggi yang botak itu melihat kearahku dan tersenyum ketika aku berbicara begitu dibelakangnya.
“Hey, Kirito. Moto toko ku adalah untuk beli murah dan jual murah,” dia berkata tanpa menunjukan sedikitpun rasa menyesal.
“Yah, aku sedikit curiga dengan ’jual murah’nya tapi itu tidak penting. Aku ingin menjual sesuatu juga.”
“Kau itu pelanggan, jadi aku tidak bisa menipumu. Yah, coba lihat…”
Sambil mengatakan itu, Agil menjulurkan lehernya yang tebal dan pendek dan melihat ke trade window yang kutunjukan.
Avatar di SAO adalah replika dari tubuh asli player yang dibuat dengan melakukan scan and pengukuran. Tapi setiap kali aku melihat Agil, Aku selalu bertanya pada diriku sendiri bagaimana mungkin seseorang bisa memiliki tubuh yang cocok sekali dengan dirinya.
Tubuh setinggi 180 cm itu seluruhnya dilapisi dengan otot dan lemak, dan dengan kepalanya itu dia terlihat seperti seorang pegulat pro. Ditambah lagi, dia mensetting gaya rambutnya, salah satu dari sedikit hal yang bisa dibuat sendiri, menjadi botak. Setidaknya efeknya sama menakutkan dengan monster barbarian.
Meski begitu, dia memiliki wajah menarik yang terlihat seperti anak kecil ketika dia terseyum. Kelihatannya dia berumur dua puluhan lebih, tapi aku tidak bisa menebak apa yang dia kerjakan didunia nyata. Salah satu peraturan tidak tertulis di dunia ini adalah untuk tidak menanyakan orang lain tentang <Dirinya di dunia nyata>.
Kedua mata yang berada dibawah alis tebalnya membesar ketika dia melihat kearah trade window.
“Wow, itu kan S-rank rare item. <Ragout Rabbit’s meat>, ini pertama kalinya aku melihatnya… Kirito kau tidak semiskin itu kan? Apakah kau tidak berpikir sedikitpun untuk memakannya?”
“Tentu saja aku berpikir begitu. Sulit sekali menemukan benda seperti ini untuk kedua kalinya… Tapi agak susah untuk menemukan orang yag bisa memasak bahan seperti ini…”
Lalu dari belakang seseorang menepuk bahu ku. “Kirito.”
Itu adalah suara perempuan. Tidak begitu banyak player perempuan yang tahu namaku. Yah sebenarnya, dalam situasi seperti ini hanya ada satu orang. Aku menggenggam tangan yang berada di bahu kiriku dan berkata.
“Juru masak ketemu.”
“A-Apa?”
Dengan tangannya di bahuku, orang itu bertanya dengan ekspresi curiga di wajahnya.
Di wajah kecilnya, yang dikelilingi dengan rambut lurus panjang yang berwarna seperti kastanye terdapat dua mata yang berwarna kecoklatan yang bersinar-sinar. Tubuh langsingnya yang ditutupi dengan sebuah combat uniform yang berwarna merah dan putih, dan ada sebuah rapier yang berwarna perak di dalah sarung pedangnya.
Namanya adalah Asuna. Dia sangat terkenal hingga hampir semua orang di SAO mengenalnya.
Ada banyak alasan kenapa dia terkenal, tapi salah satunya adalah karena dia adalah salah satu dari sedikit player perempuan, dan dia adalah pemilik dari wajah yang tidak kekurangan apapun, alias dia sangat cantik.
Sulit untuk mengatakannya di dunia ini, dimana semua orang mempunyai tubuh asli mereka, tapi perempuan yang cantik adalah hal sangat langka. Kau mungkin bisa menghitung dengan jari jumlah player yang memiliki wajah secantik Asuna.
Alasan lainnya adalah karena dia merupakan anggota guild <Knights of the Blood>. Anggota-anggotanya disebut KoB dengan menggunakan inisial dari <Knights of the Blood>, dan, semua guild, mengakui kalau mereka adalah guild terkuat.
Guild itu tidak terlalu besar dan hanya terdiri dari tiga puluh player, tapi mereka semua berlevel tinggi dan petarung berpengalaman, dengan ketua guildnya yang merupakan player terkuat dan hampir menjadi legenda di dalam SAO. Selain itu, dibandingkan penampilannya yang lemah, Asuna adalah seorang wakil ketua. Kemampuan berpedangnya sangat hebat hingga mendapat gelar <Flash>.
Jadi penampilan dan kemampuan berpedangnya berada di puncak diantara 6 ribu player lainnya. Justru aneh kalau dia tidak menjadi terkenal. Dia mempunyai banyak fans, tapi diantara mereka ada beberapa penguntit yang memuja-muja dia, dan ada juga orang yang membencinya, jadi sepertinya dia mengalami masa-masa yang sulit.
Yah, karena dia adalah seorang petarung tingkat tinggi, seharusnya tidak ada begitu banyak orang yang akan menantangnya secara langsung. Tapi guildnya sepertinya mau menunjukkan kalau mereka akan melindunginya, dia sering diikuti oleh dua orang pengawal atau lebih. Bahkan sekarang ada dua orang pria beberapa langkah di belakangnya yang menggunakan equipment dengan equipment armor logam dan seragam KoB. Salah satu diantara mereka, yang berambut ekor kuda, memelototi ku yang sedang memegang tangan Asuna.
Aku melepaskan tangan asuna dan berkata.
“Ada apa, Asuna? Tumben kau datang ke tempat yang penuh sampah seperti ini.”
Wajah dari pria berambut ekor kuda dan si pemilik toko mengerut kesal; yang satu karena aku tidak memanggil Asuna dengan gelarnya dan yang satunya karena aku menyebut tokonya penuh dengan sampah. Tapi si pemilik toko...
“Lama tidak bertemu, Agil-san.”
...tersenyum gembira setelah mendengar sapaan dari Asuna.
Asuna melihat kembali kearahku dan mengecilkan bibirnya sambil terlihat tidak puas.
“Apa-apaan sih? Susah payah aku mencarimu kesini untuk melihat apakah kau masih hidup untuk melawan boss yang akan segera ditemukan.”
“Kau sudah mendaftarkanku sebagai teman jadi kau bisa tahu hanya dengan melihatnya. Lagipula alasan kau bisa menemukanku kan karena kau menggunakan friend trace di peta mu.”
Asuna memalingkan kepalanya kesamping setelah mendengar jawabanku.
Selain sebagai wakil ketua, dia juga berada di garis depan untuk menyelesaikan game. Pekerjaan itu termasuk mencari solo player yang menyendiri sepertiku dan membentuk sebuah party untuk melawan boss. Tapi meski begitu, dia benar-benar mendatangiku, seberapa tekunnya seseorang seharusnya masih ada batasnya.
Melihat ekspresiku yang setengah lelah dan setengah heran, Asuna menaruh tangannya di pinggangnya sebelum berbicara dengan gaya seperti menaikkan dagunya.
“Yah, kau masih hidup dan itulah yang penting. Se-Selain itu, apa yang kau maksud? Kau bilang sesuatu tentang juru masak atau sejenisnya.”
“Oh, benar, benar. Berapa tinggi teknik memasakmu sekarang?”
Yang kutahu, Asuna memang rajin menaikan skill memasaknya ketika dia punya waktu senggang diantara latihan skill pedangnya. Dia menjawab pertanyaan ku dengan sebuah senyum bangga.
“Dengar dan terkejutlah! Aku sudah <Mastered> skill itu minggu lalu.”
“Apa!?”
Dia itu…bodoh.
Aku berpikir seperti itu. Tentu saja aku tidak mengatakannya keras-keras.
Melatih skill itu sangat-sangat membosankan dan menghabiskan waktu, dan hanya bisa <Mastered> setelah menaikkan level mereka sebanyak 1000 kali. Sebagai catatan, level tidak ada hubungannya dengan skill dan naik setelah mendapat cukup experience point. Hal-hal yang naik bersama dengan level adalah HP, strength, status seperti dexterity, dan jumlah dari <Skill Slots> yang menentukan berapa banyak skill yang bisa kau kuasai.
Sekarang ini aku punya 12 slot, tapi yang sudah kusempurnakan hanyalah skill one-handed straight sword, Scan for Enemy, dan Weapon Guard. Itu berarti perempuan ini telah menghabiskan banyak waktu dan usaha untuk skill yang tidak akan membantu didalam pertarungan.
“…yah, ada sesuatu yang aku ingin minta tolong untuk kau lakukan dengan skill itu.”
Aku membuat windowku menjadi terlihat untuk semua orang supaya dia bisa melihatnya. Asuna melihatnya dengan curiga, dan kemudian matanya terbuka lebar saat dia melihat nama item itu.
“Uwa!! Itu…itu kan bahan makanan rangking S!?”
“Jika kau memasakkannya, Aku akan memberimu satu gigitan.”
Bahkan sebelum aku berhenti berbicara, tangan kanan dari Asuna si <Flash> menggenggam kerah leherku. Lalu dia mendekatkan wajahnya hingga hanya tersisa beberapa cm jarak wajahnya dari mukaku.
“Berikan. Aku. Setengah!!”
Detak jantungku berhenti seketika karena kaget dan aku mengangguk tanpa berpikir. Ketika aku sadar itu sudah terlambat, dan dia melambaikan tangannya kegirangan. Yah, anggap saja aku beruntung karena aku bisa melihat wajah cantik itu dari dekat. Begitulah aku meyakinkan diriku sendiri.
Aku menutup window nya dan berbicara sambil melihat kearah wajah Agil.
“Maaf. Tradenya batal.”
“Tidak. Itu tidak apa-apa…hey, kita teman kan? Eh? Bisakah kau membiarkanku mencobanya juga…?”
“Aku akan memberikanmu esai delapan ratus kata tentangnya.”
“Ja-jangan begitu!”
Ketika aku dengan dinginnya memalingkan wajahku darinya, dia memanggilku dengan suara yang terdengar seperti kalau dunia akan berakhir. Ketika aku akan berjalan pergi, Asuna menarik lengan baju jaketku.
“Masaknya gampang saja, tapi dimana kita akan melakukannya?”
“Ah…”
Jika kau ingin memasak, maka kau memerlukan beberapa alat memasak seperti kompor dan oven, begitu juga dengan bahan makanannya. Bukannya di rumahku tidak ada alat-alat seperti itu, tapi aku tidak bisa mengundang wakil ketua KoB ke tempat yang berantakan seperti itu.
Asuna melihat kearahku dengan wajah tidak percaya.
“Yah, rumahmu pasti tidak mempunyai alat yang dibutuhkan. Tapi aku bisa memasakannya dirumahku sekali ini saja.”
Dia berkata sesuatu yang mengejutkanku dengan suara yang tenang.
Asuna mengabaikanku yang berdiri kaku disana seperti aku sedang lag ketika otakku memproses apa yang dikatakannya, dan berbalik menghadap ke pengawalnya lalu berbicara.
“Aku akan teleport ke <Salemburg>, jadi kalian boleh pergi. Terima kasih atas kerja keras kalian.”
“A-Asuna-sama! Datang ke perkampungan kumuh saja sudah cukup buruk, tapi kau juga mengundang seseorang yang mencurigakan seperti dia kerumahmu. A-apa yang kau pikirkan!?”
Aku tidak percaya apa yang baru saja kudengar. Dia bilang <Sama>. Dia pasti salah satu orang yang memuja-muja Asuna. Ketika aku melihat Asuna dengan pikiran seperti itu, orang yang baru saja dibicarakan terlihat jengkel.
“OK, kau mungkin bisa menyebutnya mencurigakan, tapi kemampuannya tidak bisa dipertanyakan. Dia mungkin sekarang sepuluh level diatasmu Kuradeel.”
“A-Apa yang kau katakan Asuna-sama? apa kau mau mengatakan kalau aku tidak setara dengan orang sepertinya…!”
Suara pria itu terdengar hingga keluar gang. Dia memelototiku dengan matanya yang sipit. Lalu wajahnya memucat seperti dia telah menyadari sesuatu.
“Benar…kau, kau pasti seorang <Beater>!”
Beater adalah kata gabungan dari <Beta tester> dan <Cheater>. Itu adalah kata yang ditujukan untuk orang yang menggunakan cara yang tidak adil dan juga kata untuk mengutuk atau mengejek yang ada di SAO. Itu adalah kata yang sering kudengar. Tapi berapa kalipun mendengarnya, kata itu masih saja menyakiti hatiku. Wajah dari orang yang pertama kali mengatakannya padaku, orang yang dulu adalah temanku, tiba-tiba muncul di dalam kepalaku.
“Ya. Kau benar.”
Ketika aku mengakuinya dengan wajah tanpa ekspresi, pria itu mulai berbicara tanpa henti.
“Asuna-sama, orang-orang seperti itu tidak peduli apapun selama mereka baik-baik saja! Tidak ada untungnya berteman dengan orang-orang seperti itu!”
Asuna, yang dari tadi tenang, tiba-tiba mengernyitkan alis matanya karena jengkel. Tiba-tiba muncul kerumunan dan kata-kata seperti <KoB> dan <Asuna> dapat terdengar disana-sini.
Asuna melihat sekeliling dan mengatakan kepada pria yang terus menerus berbicara tadi.
“Pergilah kau dari sini sekarang juga. Itu perintah.”
Dia berkata dengan kasar dan menarik ikat pinggangku dengan tangan kirinya. lalu dia mulai berjalan menuju ke gerbang plaza sambil menarikku.
“Err…hey! Apakah boleh meninggalkan mereka seperti itu?”
“Tidak apa-apa!”
Yah, aku tidak punya alasan untuk komplain. Kami keluar dari kerumunan meninggalkan dua pengawal tadi dan Agil yang masih kecewa. Ketika aku mengintip kebelakang, ekspresi jengkel pria yang bernama Kuradeel menyangkut di pandanganku seperti terfoto.
Langganan:
Postingan (Atom)